<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291</id><updated>2012-01-07T19:39:58.701-08:00</updated><category term='Manajemen'/><category term='BUMN'/><category term='Polisi Sipil'/><category term='polri'/><category term='PNS'/><category term='.....'/><category term='referensi'/><category term='skripsi'/><category term='referensi PNS'/><title type='text'>Jalurberita</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-5129873623759686569</id><published>2009-11-24T23:37:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T20:26:16.237-08:00</updated><title type='text'>PERBANTUAN TNI DALAM TUGAS POLRI  DALAM KASUS “TERORIS”</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCHIM-C%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Sylfaen;  panose-1:1 10 5 2 5 3 6 3 3 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:67110535 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Akhir-akhir ini pemberitaan media baik di televisi, media &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;massa&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;, media elektronik hampir semuanya di penuhi oleh berita pengejaran “gembong teroris Nurdin M Top”. Namun yang menjadi permasalahan bagi sebagian masyarakat “dimana TNI, kok tidak ikut mengejar teroris, celetuk seorang warga masyarakat”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apalagi kalau di kaitkan dengan proses dunia yang semakin menglobal yang ditandai dengan kemajuan pesat dibidang Ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia di semua aspek kehidupan diberbagai negara yang berdampak pada perubahan dinamika kehidupan bermasyarakat, termasuk meningkatnya ancaman dan gangguan keamanan nasional &lt;i&gt;(national security)&lt;/i&gt; atau keamanan dalam negeri (internal security). Bentuk-bentuk ancaman keamanan yang muncul tidak hanya bersifat ancaman keamanan dari luar &lt;i&gt;(nexus military-external),&lt;/i&gt; namun ancaman keamanan juga dalam bentuk keamanan pangan (food security), keamanan lingkungan (environment security), keamanan manusia (human security), keamanan energy (energy security), keamanan ekonomi (economic security) dengan kondisi tersebut dimana peran TNI seperti tidak ada gerakan yang memperlihatkan eksistensi-nya dan seakan-akan tidak peduli lagi dengan nasib Negara ini !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 13, menegaskan bahwa tugas pokok Polri adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Indikator tercipta aman di dalam negeri (kamdagri), adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, hal tersebut sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang dasar 1945 pasal 30 ayat 4. Mewujudkan keamanan dalam negeri menjadi tanggung jawab pemerintahan untuk menghadapi dan meniadakan segala ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri yang diselenggarakan melalui sistem pengamanan swakarsa (seluruh warga negara bangsa Indonesia) sebagai suatu cara pandang yang menempatkan keamanan dalam negeri sebagai tanggung jawab bersama seluruh warga negara dengan hak dan kewajiban yang dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945 dengan TNI dan Polri sebagai penanggung jawab utama seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Nah, disini terlihat bahwa segala ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri diselenggarakan melalui sistem pengamanan swakarsa yang didalamnya adalah TNI, Polri dan Masyarakat. Adapun perangkat peraturan yang berkaitan kerjasama antar instansi pemerintah, khususnya hubungan TNI dengan Polri yaitu Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Polri, Undang-undang No. 34 tahun 2004 tentang TNI, serta Undang-undang No. 3 tahun 2003 tentang Pertahanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tugas perbantuan TNI dalam permasalahan “teroris” adalah tugas yang dilakukan di luar tugas utamanya sebagai alat pertahanan negara yang diatur dalam pasal 4 TAP MPR RI No. VII tahun 2000 tentang Peran TNI. Tugas perbantuan dilakukan TNI dengan melaksanakan operasi militer selain perang (OMSP) berdasarkan permintaan dan keputusan politik pemerintah. Pelaksanaan tugas perbantuan TNI dilakukan melalui keputusan-keputusan politik pemerintah, dibiayai sepenuhnya melalui APBN, dan dipertanggung jawabkan kepada DPR. Ruang lingkup tugas perbantuan TNI ditentukan oleh lembaga yang meminta tugas perbantuan. Tugas perbantuan TNI terdiri dari tugas penyelenggaraan kegiatan kemanusiaan tugas kegiatan kemasyarakatan (civic mission), tugas pemberian bantuan dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan di bidang keamanan dan ketertiban umum, serta tugas pemeliharaan perdamaian dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Perbantuan TNI pada fungsi pemerintahan di bidang keamanan meliputi: (a) memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat; (b) menegakkan hukum; dan (c) memberikan perlindungan, dan pelayanan kepada masyarakat. Meskipun demikian, tugas di atas harus memperhatikan perkembangan situasi dan kondisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Perbantuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menjalankan fungsi pemerintahan di bidang keamanan harus didasarkan pada keputusan Presiden, baik karena adanya permintaan dari pemerintah daerah, POLRI maupun berdasarkan pertimbangan pemerintah pusat sendiri. Keputusan Presiden untuk memperbantukan TNI tersebut harus berdasarkan pada penilaian – baik oleh pemerintah daerah maupun pihak kepolisian – bahwa telah terjadi suatu keadaan gangguan keamanan di luar kemampuan kepolisian untuk menanganinya. Untuk tujuan akuntabilitas, permintaan dan keputusan tersebut di atas harus dilakukan secara tertulis dengan memberikan rincian alasan perbantuan, wilayah perbantuan, tanggung jawab, rentang waktu, serta sumber dan besaran anggaran yang diperlukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Adapun prinsif kerjasama antara Polri dan TNI didasari oleh asas dalam membangun hubungan lintas sektoral yang harmonis yaitu : (1) tidak bertentangan dengan hukum, (2) musyawarah, (3) keterbukaan/akuntabilitas, (4) proposionalitas, (5) profesionalitas, (6) efisien dan efektif, (7) saling menghormati, (8) saling membantu, (9) untuk kepentingan umum dan (10) partisipasi dan subsidaritas. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;Hal ini dalam menghadapi ancaman terhadap keamanan dalam negeri meliputi beraneka ancaman baik fisik dan non-fisik, berasal dari luar maupun dari dalam tapal batas wilayah negara, menyebar secara langsung dan tidak langsung. Ancaman-ancaman itu dapat tertuju terutama terhadap keberlangsungan pembangunan nasional, berlangsungnya fungsi-fungsi pemerintahan, ketertiban sosial dan keselamatan masyarakat baik sebagai kelompok maupun perorangan. Meskipun demikian, upaya untuk mengatasi berbagai ancaman tersebut di atas tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat baik sebagai kelompok maupun perorangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;1. Prihatono, Hari T (Koord). Keamanan Nasional : Kebutuhan Membangun Perspektif Integratif Versus Pembiaran Politik dan Kebijakan. Jakarta, 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;2. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;3. Undang-Undang No. 3 Tahun 2003 Tentang Pertahanan Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Sylfaen;"&gt;4. Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 Tentang TNI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="font-family: Sylfaen;"&gt;5. Ketetapan MPR No.7 Tahun 2000 Tentang Peran TNI dan Peran Polri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-5129873623759686569?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/5129873623759686569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/11/perbantuan-tni-dalam-tugas-polri-dalam_24.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5129873623759686569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5129873623759686569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/11/perbantuan-tni-dalam-tugas-polri-dalam_24.html' title='PERBANTUAN TNI DALAM TUGAS POLRI  DALAM KASUS “TERORIS”'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-792188866249660797</id><published>2009-11-24T16:35:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T20:26:58.654-08:00</updated><title type='text'>DI BALIK PENEGAKAN HUKUM KASUS ”BIBIT DAN CHANDRA ”</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI BALIK PENEGAKAN HUKUM KASUS ”BIBIT DAN CHANDRA ”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin malam, 23 November 2009 yang lalu moment yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia akhirnya tiba. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memberikan pernyataanya terkait rekomendasi Tim Independen Verifikasi Fakta atau Tim 8 mengenai kasus pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah serta kasus Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peryataanya menanggapi kasus Bank Century dan  kasus Sdr. Chandra M. Hamzah dan Sdr. Bibit Samad Riyanto, kalau kondisinya tidak terjadi apa-apa bahwa cara-cara penyelesaian terhadap kasus hukum yang memiliki perhatian publik luas seperti ini mestilah tetap berada dalam koridor konstitusi hukum dan perundang-undangan yang berlaku, seraya dengan sungguh-sungguh memperhatikan dan mendengarkan aspirasi dan pendapat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi dan opsi yang kita tempuh juga harus bebas dari kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan; tetap jernih dan rasional serta bebas dari tekanan pihak manapun yang tidak semestinya. Dan, di atas segalanya, kita harus tetap bertumpu kepada dan menegakkan kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena dalam perkembangannya justru yang muncul adalah ketidakpercayaan yang besar kepada pihak Polri dan Kejaksaan Agung sehingga telah masuk ke ranah sosial dan bahkan ranah kehidupan masyarakat yang lebih besar. Oleh karena itu faktor yang di pertimbangkan bukan hanya proses penegakan hukum itu sendiri, tapi juga faktor-faktor lain seperti pendapat umum, keutuhan masyarakat kita, azas manfaat, serta kemungkinan berbedanya secara hakiki antara hukum dengan keadilan. Sehingga kasus dr. Chandra M. Hamzah dan Sdr. Bibit Samad Riyanto menurut presiden solusi dan opsi lain yang lebih baik, yang dapat ditempuh adalah pihak kepolisian dan kejaksaan tidak membawa kasus ini ke pengadilan dengan tetap mempertimbangkan azas keadilan, namun perlu segera dilakukan tindakan-tindakan korektif dan perbaikan terhadap ketiga lembaga penting itu yaitu Polri, Kejaksaan Agung, dan KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan korektif yang dimaksud Presiden dimungkinkan berupa reformasi baik Polri, Kejaksaan Agung, dan KPK. Berbicara reformasi khususnya di tubuh Polri sebetulnya sudah berjalan dari tahun 1999 Polri telah menyusun pola reformasinya sendiri, yang mencakup : structural, instrumental dan kulturl.(Awaloedi Djamin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu produk Reformasi Polri lainya adalah Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dimana pada  pasal 13 yaitu : Polri sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini tergambar lebih jelas dalam Misi Polri yaitu mampu menjadi pelindung Pengayom dan Pelayan Masyarakat yang selalu dekat dan bersama-sama masyarakat, serta sebagai penegak hukum yang profesional dan proposional yang selalu menjunjung tinggi supermasi hukum dan hak azasi manusia, Pemelihara keamanan dan ketertiban serta mewujudkan keamanan dalam negeri dalam suatu kehidupan nasional yang demokratis dan masyarakat yang sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan kasus sdr. Chandra M. Hamzah dan Sdr. Bibit Samad Riyanto yang dalam perkembangannya proses penyidikan yang dilakukan oleh Polri dan Kejaksaan justru yang muncul menurut Presiden adalah ketidakpercayaan yang besar kepada pihak Polri dan Kejaksaan Agung sehingga telah masuk ke ranah sosial dan bahkan ranah kehidupan masyarakat yang lebih besar. Oleh karena itu faktor yang di pertimbangkan bukan hanya proses penegakan hukum itu sendiri, tapi juga faktor-faktor lain seperti pendapat umum, keutuhan masyarakat kita, azas manfaat, serta kemungkinan berbedanya secara hakiki antara hukum dengan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU no 2 tahun 2002 yang berhak mengawasi sesuai dengan pasal 37 sampai dengan 40 yaitu kompolnas yang mempunyai wewenang a) mengumpulkan  dan  menganalisa  data  sebagai  bahan  pemberian  saran  kepada  Presiden  yang berkaitan dengan  anggaran Kepolisian Negara Republik  Indonesia, pengembangan  sumber daya manusia  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia,  dan  pengembangan  sarana  dan  Prasarana Kepolisian Negara Republik Indonesia; b) memberi  saran  dan  pertimbangan  lain  kepada  Presiden  dan  upaya  mewujudkan  Kepolisian Negara Republik Indonesia yang profesional dan mandiri; dan c) menerima  saran  dan  keluhan  dari  masyarakat  mengenai  kinerja  kepolisian  dan menyampaikannya kepada Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam implementasinya belum seperti yang diharapkan sehingga kasus sdr. Chandra M. Hamzah dan Sdr. Bibit Samad Riyanto masih mungkin dapat terjadi dikemudian hari. Kekuatan lembaga pengawasan kita baik kompolnas yang khusus mengawasi Polri maupun DPR yang mengawasi jalanya pemerintahan secara umum belum mampu meredam ”oknum-oknum” yang menjadi makelar dalam sebuah kasus baik dalam proses penyidikan maupun penyelidikan yang terjadi di kepolsian dan kejaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat komposisi tugas dan wewenang Kompolnas, hal ini menjadi jelas dan kelihatan sekali, bahwa pengawasan kinerja Kepolisian dengan indikator keluhan masyarakat sudah resmi dan efisien sebenarnya, namun saat ini Sosialisasi Kompolnas ke daerah-daerah lain tidak maksimal dan kurang diketahuui keberadaannya oleh masyarakat. Masyarakat di kabupaten-kabupaten banyak yang belum mengetahui, karena Kompolnas tidak pernah melakukan sosialisasi dan memberikan keterangan kepada media massa akan keberadaannya. Justru Lembaga-lembaga lain yang sebenarnya boleh dikatakan tidak mempunyai landasan hukum uyang kuat untuk menilai Polri secara objektif seperti lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Survey, yang sering mempublikasikan hasil temuannya di media massa yang terkadang diragukan keobjektifitasannya. Untuk itu, sebaiknya dalam proses pengawasan Polri di masa mendatang, sebaiknya Kompolnas melakukan tugasnya dan berperan dalam pembuatan opini public yang dipercaya dan diterima oleh hukum dan masyarakat. Kompolnas harus selalu terdepan dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan Kinerja Polri dan dapat dijadikan tolak ukur atau indikator keberhasilan pelaksanaan tugas pokok Polri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-792188866249660797?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/792188866249660797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/11/di-balik-penegakan-hukum-kasus-bibit.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/792188866249660797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/792188866249660797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/11/di-balik-penegakan-hukum-kasus-bibit.html' title='DI BALIK PENEGAKAN HUKUM KASUS ”BIBIT DAN CHANDRA ”'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-1417857650550541646</id><published>2009-11-23T17:44:00.001-08:00</published><updated>2011-11-06T20:29:58.192-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>PENGARUH KEPEMIMPINAN VISIONER</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;PENGARUH KEPEMIMPINAN VISIONER&lt;br /&gt;TERHADAP PERKEMBANGAN PERPOLISIAN DI LAPANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan adalah bagian yang sangat penting untuk menentukan maju atau mundurnya suatu organisasi. Demikian pula dalam tubuh Polri, kualitas prestasi yang dicapai tidak terlepas dari peran kepemimpinan yang dilaksanakan dalam tubuh Polri. Kepemimpinan meliputi bagaimana kemampuan memenejemen (mengelola) suatu pekerjaan. Apalagi kalau dikaitkan dengan isu sentral yang selama kurang lebih dua minggu menghiasi  media massa yaitu “polemik cecak dan buaya”. Dengan telah bergesernya permasalahan penegakan hukum menyebabkan kasus “Bibit dan Candra” dalam sikap presiden yang ditanyangkan secara live di beberapa televise yang intinya terhadap permasalahan “Bibit dan Candra” tidak dapat dilanjutkan ke ranah hukum dengan alasan “masyarakat tidak percaya lagi kepada hukum  dan untuk menjaga kamdagri agar tetap kondusif “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya presiden khusus untuk lembaga peradilan yaitu Polri, Kejaksaan dan KPK, Presiden mengintruksikan agar mereformasi diri sehingga permasalahan “Bibit dan Candra” tidak terulang lagi di kemudian hari. Berbicara peran dan fungsi Kepolisian sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002  tentang Polri yaitu mewujudkan keamanan dalam  negeri  yang  meliputi  terpeliharanya  keamanan  dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan  pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perubahan masyarakat, Polri telah jauh-jauh hari melakukan berbagai perubahan berupa paradigma baru Polri yang terimplementasi dalam perubahan kultur dari militeristik ke Polisi sipil yang ditandai dengan adanya  perubahan pendekatan perilaku dari antagonis menjadi protagonis, maka gaya kepemimpinan Polri di mulai dari tataran tingkat hight level manager sampai dengan low level manager mengalami perubahan paradigma, hal ini sejalan dengan tuntutan perubahan paradigma baru Polri yang telah di gariskan dalam grand strategi Polri jangka panjang, yang bermuara pada perwujudan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan terwujudnya postur Polri yang professional, modern, patuh hukum dan humanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlangganan Referensi Skripsi, e-mail : blogmediator@gmail.com hp 085220145220&lt;br /&gt;Dengan 100 ribu anda di bantu Referensi Skripsi yang berkaitan dengan materi Pemerintahan baik Pemda, Polri dan lainya. Untuk mengaktifkan sertakan bukti transfer ke Mandiri An.Atet Hendrawan 132000706506. &lt;br /&gt;Contoh : hendra tgl 101.000,00 Kemudian sms ke 085220145220, kemudian tunggu untuk aktifitas dari kami.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-1417857650550541646?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/1417857650550541646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/11/pengaruh-kepemimpinan-visioner-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/1417857650550541646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/1417857650550541646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/11/pengaruh-kepemimpinan-visioner-terhadap.html' title='PENGARUH KEPEMIMPINAN VISIONER'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-6867797181118599381</id><published>2009-10-18T21:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-18T21:31:45.024-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/Stvp0g5tftI/AAAAAAAAAGs/nF_QLac_ZBg/s1600-h/referensi+komunkasi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/Stvp0g5tftI/AAAAAAAAAGs/nF_QLac_ZBg/s200/referensi+komunkasi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394162067100761810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah referensi komunikasi untuk mengimplementasikan prinsif-prinsif Polmas yang ada dalam Perkap 07 tahun 2008 tentang community policing.&lt;br /&gt;Sangat tepat untuk rujukan dalam pembuatan makalah,  skripsi dan lainya untuk pemesanan hub : &lt;br /&gt;e-mail : blogmediator@gmail.com.&lt;br /&gt;Ongkos pengganti 1 judul buku Rp. 50.000,- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERAN KOMUNIKASI DALAM POLMAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya, disamping ingin mengetahui lingkungannya juga ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya, rasa ingin tahu ini memaksa manusia memerlukan sebuah cara, metode atau solusi hal inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan komunikasi. Komunikasi adalah merupakan kebutuhan dasar dan prasyarat kehidupan manusia. Tanpa komunikasi hidup manusia terasa ‘hampa’. Sejak manusia dilahirkan ke dunia dan dalam proses kehidupannya, manusia selalu terlibat dalam tindakan-tindakan komunikasi. Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan KOMUNIKASI itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi berasal dari kata atau istilah (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward (1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dan komunikatif menurut Onong Uchana Effendy (1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Menurut Lasswell cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?&lt;br /&gt;Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yaitu : • Komunikator (siapa yang mengatakan ? ), Pesan (mengatakan apa ?), Media (melalui saluran/ channel/media apa ? ), Komunikan (kepada siapa ? ),  Efek (dengan dampak/efek apa ? ). Secara sederhana menurut Lasswell proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.&lt;br /&gt;Polri sebagai suatu lembaga pemerintah dalam melaksanakan tugas pokoknya selaku pemelihara kamtibmas, penegak hukum, pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat  akan selalu bersentuhan dengan publik. Oleh karena itu berbagai kegiatan, tindakan perilaku baik organisasi maupun individu Polri akan selalu dilihat, dirasakan dan dinilai oleh masyarakat, yang pada akhirnya akan membentuk suatu opini dalam masyarakat terhadap Polri. &lt;br /&gt;Berbicara tentang opini publik terhadap Polri apakah positif atau negatif, tentunya tidak hanya tergantung kepada bagaimana Polri dalam pelaksanaan tugasnya selalu profesional dan sesuai harapan publik, akan tetapi juga tergantung pada bagaimana publik menerima informasi tentang apa yang telah dilakukan Polri dan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai Polri dalam pelaksanaan tugasnya. Hal ini dimaksudkan bahwa apabila informasi yang diterima publik salah, maka apapun keberhasilan yang telah dicapai Polri tetap saja akan terbangun opini publik yang negatif terhadap Polri, demikian pula sebaliknya bila seluruh jajaran Polri mampu dan dapat mengemas dan memberikan informasi dengan baik kepada masyarakat, maka sekecil apapun keberhasilan yang dicapai Polri akan dapat membangun opini publik yang positif terhadap Polri. &lt;br /&gt;Untuk menunjang terlaksananya percepatan kemitraan Polri dan masyarakat maka keluarlah perkap no 07 tahun 2008 Tentang  Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi  Pemolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri  dengan tujuannya  sesuai dengan pasal 7, yaitu :&lt;br /&gt;(1) Tujuan Polmas adalah terwujudnya kemitraan polisi dan masyarakat yang didasari kesadaran bersama dalam rangka menanggulangi permasalahan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat guna menciptakan rasa aman, tertib dan tentram serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. (2) Upaya menanggulangi permasalahan yang dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mencakup rangkaian upaya pencegahan dengan melakukan identifikasi akar permasalahan, menganalisis, menetapkan prioritas tindakan, melakukan evaluasi dan evaluasi ulang atas efektifitas tindakan. (3) Kemitraan polisi dan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mekanisme kemitraan yang mencakup keseluruhan proses manajemen, mulai dari perencanaan, pengawasan, pengendalian, analisis dan evaluasi atas pelaksanaannya. Kemitraan tersebut merupakan proses yang berkelanjutan.  (4) Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang aman, tertib dan tenteram, warga masyarakat diberdayakan untuk ikut aktif menemukan, mengidentifikasi, menganalisis dan mencari jalan keluar bagi masalah-masalah yang menggangu keamanan, ketertiban dan masalah sosial lainnya. Masalah yang dapat diatasi oleh masyarakat terbatas pada masalah yang ringan, tidak termasuk perkara pelanggaran hukum yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan tujuan dari perkap tersebut maka diharapkan semua anggota Polri mampu mengimplementasikanya dalam tugas keseharianya. Dalam pelaksanaanya sangat diperlukan teknik-teknik komunikasi, sehingga sangat diperlukan ilmu komunikasi. Adapun kegunaan belajar ilmu komunikasi menurut Ruben dan Steward, (2005 : 1 - 8) menyatakan bahwa Komunikasi adalah fundamental dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita sehari-hari komunikasi memegang peranan yang sangat penting. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi dan tidak ada aktifitas yang dilakukan tanpa komunikasi, dikarenakan kita dapat membuat beberapa perbedaan yang esensial manakala kita berkomunikasi dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, orang lain akan berkomunikasi dengan kita, baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Cara kita berhubungan satu dengan lainnya, bagaimana suatu hubungan kita bentuk, bagaimana cara kita memberikan kontribusi sebagai anggota keluarga, kelompok, komunitas, organisasi dan masyarakat secara luas membutuhkan suatu komunikasi. Sehingga menjadikan komunikasi tersebut menjadi hal yang sangat fundamental dalam kehidupan kita. &lt;br /&gt;Dengan kemampuan berkomunikasi maka prinsif-prinsif polmas dapat dilaksanakan, adapun prinsif polmas, yaitu :&lt;br /&gt;a.  komunikasi intensif: praktek pemolisian yang menekankan kesepakatan dengan warga, bukan pemaksaan berarti bahwa Polri menjalin komunikasi intensif dengan masyarakat melalui tatap muka, telekomunikasi, surat, pertemuan-pertemuan, forum-forum komunikasi, diskusi dan sebagainya di kalangan masyarakat dalam rangka membahas masalah keamanan; &lt;br /&gt;b.  kesetaraan: asas kesejajaran kedudukan antara warga masyarakat/ komunitas dan petugas kepolisian yang saling menghormati martabat, hak dan kewajiban, dan menghargai perbedaan pendapat. asas kesetaraan juga mensyaratkan upaya memberi layanan kepada semua kelompok masyarakat, dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan khusus perempuan, anak, lansia, serta kelompok-kelompok rentan lainnya; &lt;br /&gt;c. kemitraan: Polri membangun interaksi dengan masyarakat berdasarkan kesetaraan/kesejajaran, sikap saling mempercayai dan menghormati dalam upaya pencegahan kejahatan, pemecahan masalah keamanan dalam komunitas / masyarakat, serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat; &lt;br /&gt;d.  transparansi: asas keterbukaan polisi terhadap warga masyarakat/ komunitas serta pihak-pihak lain yang terkait dengan upaya menjamin rasa aman, tertib dan tenteram, agar dapat bersama-sama memahami permasalahan, tidak saling curiga dan dapat menumbuhkan kepercayaan satu sama lain; &lt;br /&gt;e.  akuntabilitas: penerapan asas pertangunjawaban Polri yang jelas, sehingga setiap tindakannya dapat dipertanggungjawabkan sesuai prosedur dan hukum yang berlaku dengan tolok ukur yang jelas, seimbang dan obyektif;  &lt;br /&gt;f.  partisipasi: kesadaran polisi dan masyarakat untuk secara aktif ikut dalam berbagai kegiatan komunitas/masyarakat untuk mendorong keterlibatan warga dalam upaya memelihara rasa aman dan tertib, memberi informasi, saran dan masukan, serta aktif dalam proses pengambilan keputusan guna memecahkan permasalahan kamtibmas, sambil menghindari kecenderungan main hakim sendiri;  &lt;br /&gt;g.  personalisasi: pendekatan polri yang lebih mengutamakan hubungan pribadi langsung daripada hubungan formal/birokrasi yang umumnya lebih kaku, demi menciptakan tata hubungan yang erat dengan warga masyarakat/ komunitas; &lt;br /&gt;h.  desentralisasi: penerapan polmas mensyaratkan adanya desentralisasi kewenangan kepada anggota polisi di tingkat lokal untuk menegakkan hukum dan memecahkan masalah; &lt;br /&gt;i.  otonomisasi: pemberian kewenangan atau keleluasaan kepada kesatuan kewilayahan untuk mengelola Polmas di wilayahnya; &lt;br /&gt;j.  proaktif: segala bentuk kegiatan pemberian layanan polisi kepada masyarakat atas inisiatif polisi dengan atau tanpa ada laporan/permintaan bantuan dari masyarakat berkaitan dengan penyelenggaraan keamanan, ketertiban dan penegakan hukum; &lt;br /&gt;k.  orientasi pada pemecahan masalah: polisi bersama-sama dengan warga masyarakat/komunitas melakukan identifikasi dan menganalisa masalah, menetapkan prioritas dan respons terhadap sumber/akar masalah; &lt;br /&gt;l.  orientasi pada pelayanan: bahwa pelaksanaan tugas Polmas lebih mengutamakan pelayanan polisi kepada masyarakat berdasarkan pemahaman bahwa pelayanan adalah hak masyarakat yang harus dilaksanakan oleh anggota polisi sebagai kewajibannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-6867797181118599381?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/6867797181118599381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/10/sebuah-referensi-komunikasi-untuk.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/6867797181118599381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/6867797181118599381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/10/sebuah-referensi-komunikasi-untuk.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/Stvp0g5tftI/AAAAAAAAAGs/nF_QLac_ZBg/s72-c/referensi+komunkasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-523728699795348984</id><published>2009-09-25T16:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T16:54:12.760-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KEDUDUKAN, PERAN DAN TANGGUNGJAWAB POLRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu kajiannya kedudukan Polri menurut Ray S Cline menyebutkan bahwa kemampuan negara itu ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari yang disebutnya sebagai massa kritis (demografi, geografi dan sumberdaya), potensi ekonomi, kekuatan persenjataan sampai dengan kemampuan pengganda yang  kurang kasat mata. Penataan keamanan di Indoesia masih menghadapi sejumlah masalah penting yang tidak akan mudah untuk diselesaikan. Politik keamanan pasca-Orde Baru, antara lain tercermin dalam rumusan baru pasal 30 UUD 1945 dan TAP MPR VU dan VII/2000), memahami fungsi pertahanan sebagai kemampuan untuk menangkal segala bentuk ancaman; sedang fungsi perpolisian (policing) agak lebih khusus pada keamanan dan ketertiban masyarakat. Rumusan-rumusan itu amat berbeda dengan pengertian sebelumnya, misalnya dalam UU No. 20/1982 tentang Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara yang dengan jelas membedakan ancaman dari luar dan dari dalam negeri -- sekalipun obyek referensinya (referrent object) terbatas pada kedaulatan, kemerdekaan, konstitusi dan ideologi negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU No. 2/2002 tentang Kepolisian Negara telah merumuskan lebih rinci tentang peran dan tugas POLRI, misalnya, pasal 2 UU POLRI yang menegaskan bahwa ”Polri secara kelembagaan adalah pengemban fungsi kepolisian yaitu salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat”; dan pasal 5 ayat (1) jo. pasal 13 UU Polri yang menyatakan tugas Polri dalam konteks Kamnas, yaitu: “Polri memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5 ayat (1) UU Polri membatasi tugas Polri “dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.” Yang tidak terlalu jelas adalah apakah (a) pembatasan tersebut berlaku bagi ketika tugas POLRI dalam memelihara kamtibmas, menegakkan hukum, serta melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat; atau (b) Polri “melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri,” dan oleh karenanya secara implisit mengakui bahwa ada tugas-tugas keamanan dalam negeri yang berada di luar kewenangan POLRI. Pembatasan itu sendiri membawa konsekuensi bahwa Polri bertugas di dua ranah kamnas (law and public orderinternal security), tetapi tidak berarti bahwa kedua ranah kamnas ini menjadi monopoli Polri. Kamdagri bukan kompetensi penuh Polri karena, di ranah kamdagri, Polri hanya “memelihara kamtibmas, menegakkan hukum, serta melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat” atau Polri hanya “melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat” jika sektor penegakan hukum merupakan ranah tersendiri yang dilakukan oleh CJS (criminal justice system) yaitu Kepolisian, Jaksa, Hakim, Lembaga Pemasyarakatan, Advokat, dan menurut penulis perlu di tambah dengan unsur Pers sebagai lembaga penggerak kekuatan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi menjaga kamtibmas bukan hanya dilakukan oleh Polri, tetapi juga dilakukan oleh pihak-pihak lain seperti DLLAJR, imigrasi (tertib lalu-lintas orang antarnegara), bea-cukai (tertib lalu-lintas barang antarnegara). Dan tugas Polri dalam penegakan hukum berarti bahwa Polri merupakan bagian dari proses dan sistem penegakan hukum pidana (criminal justice system) bersama kejaksaan, sedangkan organ pelaksana dan independensi kekuasaan kehakiman berada pada Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung (Pasal 24 ayat (1) UUD 1945). Wewenang utama kepolisian dalam tugas menegakkan hukum adalah wewenang penyelidikan, yang dapat merambah ke luar negeri (atau dengan kerjasama Interpol). Bersikeras tentang independensi Polri berdasarkan argumen independensi kekuasaan kehakiman menjadi tidak tepat, karena independensi kekuasaan kehakiman justru menempatkan independensi Polri (dan Jaksa Agung) sebagai salah satu aparat penegak hukum dalam sistem peradilan Pidana di bawah MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, UU No. 2/2002 tentang Kepolisian Negara juga telah merumuskan lebih rinci tentang peran dan tugas POLRI. Lihat, misalnya, pasal 2 UU POLRI yang menegaskan bahwa ”Polri secara kelembagaan adalah pengemban fungsi kepolisian yaitu salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat”; dan pasal 5 ayat (1) jo. pasal 13 UU Polri yang menyatakan tugas Polri dalam konteks Kamnas, yaitu: “Polri memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa catatan perlu diberikan terhadap rumusan tugas Polri tersebut. Pertama, pasal 2 UU Polri menganut teori van Vollenhoven bahwa fungsi kepolisian merupakan salah satu cabang kekuasaan negara, yang tentu saja tidak tepat untuk dipaksakan sebagai paradigma pemisahan kekuasaan negara menurut UUD 1945 (baca: legislatif, eksekutif dan yudikatif). Teori “catur praja” menyebut kekuasaan negara terdiri atas legislasi (regeling), eksekutif (bestuur), peradilan (rechtsspraak), dan kepolisian (politie). Kepolisian merupakan cabang kekuasaan tersendiri, relatif terpisah dari tiga cabang kekuasaan yang lain. Sekalipun prinsip ini dapat mendorong POLRI menjadi instansi yang efektif, kemungkinan besar akan menimbulkan sejumlah persoalan, khususnya berkaitan dengan tatanan demokrasi dan tuntutan akuntabilitas publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Pasal 5 ayat (1) UU Polri membatasi tugas Polri “dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.” Yang tidak terlalu jelas adalah apakah (a) pembatasan tersebut berlaku bagi ketiga tugas POLRI dalam memelihara kamtibmas, menegakkan hukum, serta melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat; atau (b) Polri “melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri,” dan oleh karenanya secara implisit mengakui bahwa ada tugas-tugas keamanan dalam negeri yang berada di luar kewenangan POLRI. Pembatsan itu sendiri membawa konsekuensi bahwa Polri bertugas di dua ranah kamnas (law and public orderinternal security), tetapi tidak berarti bahwa kedua ranah kamnas ini menjadi monopoli Polri. Kamdagri bukan kompetensi penuh Polri karena, di ranah kamdagri, Polri hanya “memelihara kamtibmas, menegakkan hukum, serta melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat” atau Polri hanya “melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat” jika sektor penegakan hukum merupakan ranah tersendiri. &lt;br /&gt;Ketiga, berkaitan dengan yang kedua, pemenggalan istilah “keamanan dan ketertiban masyarakat, dan penegakan hukum” menjadi (internal) security di satu sisi dan law and public order, di sisi lain, memerlukan penyelesaian konseptual, politis dan konstitusional (lihat Pasal 30 ayat (4) UUD 1945). Fungsi menjaga kamtibmas bukan hanya dilakukan oleh Polri, tetapi juga dilakukan oleh pihak-pihak lain seperti DLLAJR, imigrasi (tertib lalu-lintas orang antarnegara), bea-cukai (tertib lalu-lintas barang antarnegara). Keempat, tugas Polri dalam penegakan hukum berarti bahwa Polri merupakan bagian dari proses dan sistem penegakan hukum pidana (criminal justice system) bersama kejaksaan, sedangkan organ pelaksana dan independensi kekuasaan kehakiman berada pada Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung (Pasal 24 ayat (1) UUD 1945). Wewenang utama kepolisian dalam tugas menegakkan hukum adalah wewenang penyelidikan, yang dapat merambah ke luar negeri (atau dengan kerjasama Interpol). Bersikeras tentang independensi Polri berdasarkan argumen independensi kekuasaan kehakiman menjadi tidak tepat, karena independensi kekuasaan kehakiman justru menempatkan independensi Polri (dan Jaksa Agung) sebagai salah satu aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana di bawah MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Irjen. Pol. Dr. Farouk Muhammad perubahan-perubahan mendasar mengenai politik keamanan. Secara esensial, politik keamanan sebagaimana terkandung dalam UUD 1945 dan TAP MPR No.VI dan No. VII sudah tepat, dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : Pertama, TNI merupakan alat negara yang berperan dalam pertahanan negara dengan tugas pokok : (1) menegakkan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah negara, dan (2) melindungi bangsa dan tanah air dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara ; disamping tugas-tugas tambahan (bantuan) termasuk bantuan kerjasama dengan Polri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Polri merupakan alat negara yang berperan dalam pemeliharaan keamanan dengan tugas pokok : (1) menjaga kamtibmas; (2) menegakkan hukum; (3) melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat; disamping tugastugas tambahan lainnya termasuk bantuan (?) dan kerjasama dengan TNI. Ketiga, usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh TNI dan Polri, sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Keempat, Pembantu Presiden dalam Perumusan Kebijakan Umum Kepolisian adalah lembaga kepolisian nasional (dan dalam perumusan kebijakan umum pertahanan negara adalah Dewan Pertahanan Nasional (UU No. 3/2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai inti dari sistem keamanan rakyat semesta, pemerintah negara membentuk kepolisian negara yang berperan sebagai kekuatan utama. Sebagai aparat negara maka disebut kepolisian negara karena mengemban fungsi pemerintahan negara dalam menjaga dan ketertiban masyarakat. Tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dilakukan dengan melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dalam bidang keamanan serta menegakkan hukum dengan menghormati norma adat yang berlaku dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, Dalam menjalankan kewajibannya setiap anggota Polisi negara diperlengkapi dengan senjata api untuk mencegah perbuatan kekerasan yang mengancam jiwa dan raga setiap orang. Pada masa damai Polisi negara bukan kekuatan berlaga (combatan) untuk menghadapi serangan bersenjata dari negara lain. Dalam keadaan negara melakukan usaha pembelaan negara, Polisi negara dapat diubah menjadi kekuatan berlaga dalam menghalau serangan bersenjata musuh. Sebagai alat negara, Kepolisian Negara tunduk kepada keputusan pemegang kekuasaan negara berdasarkan hukum dalam semua tatanannya.&lt;br /&gt;Kekuatan pendukung dilakukan oleh seluruh rakyat dalam lingkungan kerja dan lingkungan tempat tinggal serta berbagai jenis pengelompokan kehidupan bersama lainnya. Dalam berbagai jenis lingkungan dan pengelompokan ini mereka menunjuk sebagian dari warganya untuk menjalankan kewajiban menjaga keamanan dalam Iingkungannya. Rakyat sebagai kekuatan pendukung melakukan usaha keamanan dilingkungannya adalah sebagai panggilan kewajibannya, tanggungjawabnya serta kebutuhannya secara bersama-sama.&lt;br /&gt;Dalam sistem keamanan rakyat semesta kekuatan bertumpu pada rakyat yang telah mampu menjiwai Polisi sehingga menjadi manusia bermartabat tinggi yaitu Insan Bhayangkara atau Insan yang sanggup meniadakan bahaya. Insan Bhayangkara mempunyai empat sendi kehormatan, yaitu mengorbankan jiwa raga untuk bangsa, negara dan masyarakat agar terbebas dari gangguan badani dan rohani, terjaminnya keselamatan, terjaminnya kepastian berdasarkan hukum dan terpeliharanya rasa damai dan tentram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Ketahanan Nasional, Sekertaris Jenderal (2003). “Policy Paper tentang&lt;br /&gt;Dewan Ketahanan Nasional, Sekertaris Jenderal. “Policy Paper tentang Pengembangan Sistem Keamanan Internasional”. Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;http:// Ikatan Sakura Indonesia.com/&lt;br /&gt;http://muradi.wordpress.com/&lt;br /&gt;Kelompok Kerja, Kajian Konstitusional tentang Peranan POLRI dalam Pengelolaan Keamanan Negara. Jakarta: Mabes POLRI, 17 Oktober 2005&lt;br /&gt;Kusnanto Anggoro, “Defense maxima, policing redux, dan “strategi terdiferensiasi” (differentiated strategy)”, &lt;br /&gt;Madani” Jakarta : Kantor Sekretariat Wakil Presiden R.I.&lt;br /&gt;Majelis Ulama Indonesia, Team Penulis (2001). Merajut Damai di Maluku :&lt;br /&gt;Muhammad Fajrul Fallakh, POLRI dan Keamanan Nasional, Makalah Lepas, Jakarta (2007)&lt;br /&gt;Muhammad, Farouk (2003). Menuju Reformasi Polri. Jakarta : PTIK Press &amp;&lt;br /&gt;Niti Baskasra, Tubagus Ronny Rahman, Prof. Dr. (2002). Paradoksal Konflik&lt;br /&gt;Pengembangan Sistem Keamanan Internasional”. Jakarta.&lt;br /&gt;Restu Agung.&lt;br /&gt;Supardi, Yogi (2001). “Dewan Keamanan Nasional”. Jakarta.&lt;br /&gt;T. Hari Prihartono (Koord), Keamanan Nasional:  Kebutuhan membangun perspektif integratif vs. pembiaran politik dan kebijakan (Jakarta: Propatria, 2007).&lt;br /&gt;Tim Nasional Reformasi (1999) “Transformasi bangsa Menuju Masyarakat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-523728699795348984?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/523728699795348984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/kedudukan-peran-dan-tanggungjawab-polri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/523728699795348984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/523728699795348984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/kedudukan-peran-dan-tanggungjawab-polri.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-8540086762205377663</id><published>2009-09-25T16:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T16:49:08.836-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERAN PEMDA DALAM RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) TERHADAP PENEGAKAN HUKUM.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangga rasanya menjadi urang Bandung yang menjadi tren senter bagi daerah lain, hal ini terlihat di akhir pecan, lebaran dan libur panjang, kota ini selalu lebih meriah karena dipadati pengunjung dari berbagai daerah, terutama dari kota Jakarta apalagi dengan adanya Tol Cipularang, jarak Bandung-Jakarta, cukup ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan yang menjadi magnet kota bandung tersebut ? Sudah bukan rahasia lagi, udara yang sejuk, alam yang indah dan romantis, serta penduduknya yang ramah merupakan faktor-faktor yang menjadi daya tarik kota berjuluk Parijs van Java ini. Hal lain  yang menjadi daya tarik lainnya adalah hal-hal yang berhubungan dengan lidah dan perut, tak lain makanan dan jajanan yang enak dan unik. Di samping urusan perut yang enak dan unik, urusan belanja pakaian pun tak kalah seru. Para tamu berbondong-bondong belanja di kawasan yang banyak factory outlet (FO) dan distronya, seperti Dr. Setiabudhi, Jln. Cihampelas, Riau, Dago, dan Pasar Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar kalau kemudian kita bertanya, siapakah gerangan yang menikmati manfaat dan keuntungan yang hebat ini? Tak pelak lagi, para pengusaha FO, distro, restoran, rumah makan, kafe, hotel dan penginapan pasti mengeruk keuntungan besar. Demikian juga pengusaha taksi, mobil rental, bus, dan perusahaan transportasi lainnya; memperoleh keuntungan yang lebih dari biasanya. Biasanya memiliki efek ganda (multiplier effects).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun konsekkuasi logisnya ada keuntungan di sisi lain pasti ada dampaknya seperti polusi suara (bising), polusi udara, dan macet di mana-mana. Banyak pemilik rumah di daerah utara sudah merasa tak nyaman, bahkan jengkel. Selain hiruk-pikuk, mau keluar-masuk mobil pun sangat sukar. Produksi sampah melimpah, padahal sudah ada aturan tidak boleh buang sampah sembarangan. Pelanggaran lalu lintas, pelanggaran susila, pelanggaran penggunaan kaki lima, dan lain-lain ikut meningkat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengaruh  Rencana Tata Ruang Wilayah (Rtrw) Terhadap Penegakan Hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bergulirnya tuntutan reformasi yang ditandai oleh krisis multidimensional mulai 1997 di Indonesia, terjadi perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Isu demokratisasi dan desentralisasi menjadi isu yang dominan. Perubahan sistem pemerintahan yang semula sentralitis pun bergeser kearah yang lebih desentralisasi. Undang-undang No.5 tahun 1974 kemudian diganti dengan Undang-Undang No.22 tahun 1999. Otonomi daerah mengalami penguatan, meskipun pada masa pemberlakuan Undang-undang No.22 tahun 1999 muncul sejumlah persoalan mendasar. Otonomi daerah dianggap sebagai jawaban sementara terhadap krisis multidimensional yang terjadi di Indonesia, termasuk krisis pembangunan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan ekonomi yang terjadi akibat globalisasi berupa pertumbuhan ekonomi dan pemberian wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang di atur dengan Undang-undang no 32 tahun 2004 tentang Pemerintah daerah melalui otonomi daerah merupakan suatu langkah positif tetapi juga menimbulkan banyak masalah, salah satunya berupa ketidaksiapan SDM yang di miliki pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya. Hal ini ditandai dengan adanya ketidak disiplinan para pelaksana pemerintah yang melanggar rencana tata ruang wilayah yang telah ditentukan sebagaimana diatur dalam Undang-undang No.24 tahun 1992 tentang penataan ruang, yang terkadang tidak berpihak pada masyarakat miskin kota yang berakibat timbulnya kesenjangan antara si miskin dan si kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut Sri Hadiati, SH,MBA. Dalam otonomi daerah potensi konflik baik horisontal maupun vertikal, terdapat beberapa isu utama dalam Otonomi daerah yakni : (1) kewenangan (2) pemekaraan daerah, (3) Isu putra daerah (4) Pilkada (5) isu ketimpangan pembagian pendapatan antara daerah dan pusat dan (6) Isu ketersediaan dan pemanfaatan sumber daya alam di daerah, merupakan potensi-potensi konflik yang harus segera disikapi dan dicarikan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena perkembangan rencana tata ruang wilayah yang ada memunculkan berbagai permasalahan sosial yang muncul di masyarakat  berupa : adanya penggusuran rumah-rumah yang tidak sesuai dengan tata kota, munculnya gelandangan, pengemis, munculnya penyakit-penyakit masyarakat berupa (pencurian, WTS, premanisme dan lain-lainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya yang perlu dilakukan dalam mengantisipasi buruknya kebijakan rencana tata ruang wilayah yang berdampak pada  pada terganggunya kamtibmas dengan munculnya masalah-masalah sosial sebagai akibat dari pengusuran rumah-rumah di kawasan terlarang, bermunculannya gepeng, gelandangan, pengemis dan penyakit masyarakat lainya (perjudian, WTS, premanisme dan lainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur utama pelaksana di lapangan dalam upaya penegakan hukum Perda adalah Pemda yang dilaksanakan oleh Satpol PP yang di dalamnya terdapat PPNS yang sudah dididik, dilatih serta memiliki Surat Keputusan sebagai penyidik, dan mendapat bimbingan dari pihak Polri. Dalam hal  penegakkan peraturan daerah (perda) Polri bertindak sebagai Korwas PPNS sesuai dengan undang-undang no 2 tahun 2002 tentang Polri pasal 3 yang memberikan bantuan teknis  baik dalam  pelaksanaan yang dilakukan oleh PPNS Pemda/Satpol PP yang bertujuan mewujudnya pelayanan, perlindungan dan penegakan hukum, dengan langkah-langkah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Melakukan kerjasama dengan Satpol PP dalam operasi yustisi berupa penertiban KTP.&lt;br /&gt;b. Polri mendorong dan memberi masukkan kepada pemerintah daerah agar mengawasi kawasan-kawasan yang dimungkinkan akan di pakai sebagai lahan dibangunya perumahan-perumahan liar oleh masyarakat.&lt;br /&gt;c. Polri mendorong pemerintah daerah / satpol PP agar menertibkan masyarakat yang melanggar Perda tentang rencana tata ruang wilayah  sesuai dengan  UU.No.24 tahun 1992 tentang penataan ruang.&lt;br /&gt;d. Polri mem back-up satpol PP untuk menertibkan bangunan-bangunan liar yang ada dikawasan terlarang secara profesional dan proforsional dengan menjujung tinggi HAM.&lt;br /&gt;e. Polri bersama-sama stakeholder lainya (satpol PP, Dinsos dan lainya)  melakukan operasi razia gepeng, gelandangan, WTS dan selanjutya di serakan ke dinas sosial untuk dilakukan pembinaan atau rehabilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Hadiati, SH, MBA, Perkembangan Otonomi Daerah.&lt;br /&gt;Undang-Undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang Otonomi daerah &lt;br /&gt;Undang-undang No.24 tahun 1992 tentang penataan ruang&lt;br /&gt;Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-8540086762205377663?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/8540086762205377663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/peran-pemda-dalam-rencana-tata-ruang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/8540086762205377663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/8540086762205377663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/peran-pemda-dalam-rencana-tata-ruang.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-8506330065457771335</id><published>2009-09-21T20:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T20:51:18.476-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007&lt;br /&gt;TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. bahwa setiap orang sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak-hak asasi sesuai dengan kemuliaan harkat dan martabatnya yang dilindungi oleh undang-undang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. bahwa perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak, merupakan tindakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat manusia dan melanggar hak asasi manusia, sehingga harus diberantas;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. bahwa perdagangan orang telah meluas dalam bentuk jaringan kejahatan yang terorganisasi dan tidak terorganisasi, baik bersifat antarnegara maupun dalam negeri, sehingga menjadi ancaman terhadap masyarakat, bangsa, dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. bahwa keinginan untuk mencegah dan menanggulangi tindak pidana perdagangan orang didasarkan pada nilai-nilai luhur, komitmen nasional, dan internasional untuk melakukan upaya pencegahan sejak dini, penindakan terhadap pelaku, perlindungan korban, dan peningkatan kerja sama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perdagangan orang belum memberikan landasan hukum yang menyeluruh dan terpadu bagi upaya pemberantasan tindak pidana perdagangan orang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on The Elimination of all Forms of Discrimination Against Women) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3277);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. 2. Tindak Pidana Perdagangan Orang adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam Undang-Undang ini. 3. Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi, dan/atau sosial, yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang. 4. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi yang melakukan tindak pidana perdagangan orang. 5. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. 6. Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. 7. Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil. 8. Eksploitasi Seksual adalah segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual atau organ tubuh lain dari korban untuk mendapatkan keuntungan, termasuk tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan percabulan. 9. Perekrutan adalah tindakan yang meliputi mengajak, mengumpulkan, membawa, atau memisahkan seseorang dari keluarga atau komunitasnya. 10. Pengiriman adalah tindakan memberangkatkan atau melabuhkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain. 11. Kekerasan adalah setiap perbuatan secara melawan hukum, dengan atau tanpa menggunakan sarana terhadap fisik dan psikis yang menimbulkan bahaya bagi nyawa, badan, atau menimbulkan terampasnya kemerdekaan seseorang. 12. Ancaman kekerasan adalah setiap perbuatan secara melawan hukum berupa ucapan, tulisan, gambar, simbol, atau gerakan tubuh, baik dengan atau tanpa menggunakan sarana yang menimbulkan rasa takut atau mengekang kebebasan hakiki seseorang. 13. Restitusi adalah pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/atau immateriil yang diderita korban atau ahli warisnya. 14. Rehabilitasi adalah pemulihan dari gangguan terhadap kondisi fisik, psikis, dan sosial agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. 15. Penjeratan Utang adalah perbuatan menempatkan orang dalam status atau keadaan menjaminkan atau terpaksa menjaminkan dirinya atau keluarganya atau orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, atau jasa pribadinya sebagai bentuk pelunasan utang.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). (2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3 Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di wilayah negara Republik Indonesia atau dieksploitasi di negara lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 Setiap orang yang membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5 Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6 Setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apa pun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan korban menderita luka berat, gangguan jiwa berat, penyakit menular lainnya yang membahayakan jiwanya, kehamilan, atau terganggu atau hilangnya fungsi reproduksinya, maka ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6. (2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama penjara seumur hidup dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 (1) Setiap penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaan yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6. (2) Selain sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat dikenakan pidana tambahan berupa pemberhentian secara tidak dengan hormat dari jabatannya. (3) Pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9 Setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain supaya melakukan tindak pidana perdagangan orang, dan tindak pidana itu tidak terjadi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp240.000.000,00 (dua ratus empat puluh juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10 Setiap orang yang membantu atau melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11 Setiap orang yang merencanakan atau melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12 Setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktik eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13 (1) Tindak pidana perdagangan orang dianggap dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi atau untuk kepentingan korporasi, baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama. (2) Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh suatu korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14 Dalam hal panggilan terhadap korporasi, maka pemanggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan disampaikan kepada pengurus di tempat pengurus berkantor, di tempat korporasi itu beroperasi, atau di tempat tinggal pengurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15 (1) Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh suatu korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6. (2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa: a. pencabutan izin usaha; b. perampasan kekayaan hasil tindak pidana; c. pencabutan status badan hukum; d. pemecatan pengurus; dan/atau e. pelarangan kepada pengurus tersebut untuk mendirikan korporasi dalam bidang usaha yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16 Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh kelompok yang terorganisasi, maka setiap pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam kelompok yang terorganisasi tersebut dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ditambah 1/3 (sepertiga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4 dilakukan terhadap anak, maka ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18 Korban yang melakukan tindak pidana karena dipaksa oleh pelaku tindak pidana perdagangan orang, tidak dipidana.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINDAK PIDANA LAIN YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19 Setiap orang yang memberikan atau memasukkan keterangan palsu pada dokumen negara atau dokumen lain atau memalsukan dokumen negara atau dokumen lain, untuk mempermudah terjadinya tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp280.000.000,00 (dua ratus delapan puluh juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20 Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu, menyampaikan alat bukti palsu atau barang bukti palsu, atau mempengaruhi saksi secara melawan hukum di sidang pengadilan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp280.000.000,00 (dua ratus delapan puluh juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21 (1) Setiap orang yang melakukan penyerangan fisik terhadap saksi atau petugas di persidangan dalam perkara tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan saksi atau petugas di persidangan luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp80.000.000,00 (delapan puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah). (3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan saksi atau petugas di persidangan mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22 Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka, terdakwa, atau saksi dalam perkara perdagangan orang, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23 Setiap orang yang membantu pelarian pelaku tindak pidana perdagangan orang dari proses peradilan pidana dengan: a. memberikan atau meminjamkan uang, barang, atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku; b. menyediakan tempat tinggal bagi pelaku; c. menyembunyikan pelaku; atau d. menyembunyikan informasi keberadaan pelaku, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24 Setiap orang yang memberitahukan identitas saksi atau korban padahal kepadanya telah diberitahukan, bahwa identitas saksi atau korban tersebut harus dirahasiakan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp280.000.000,00 (dua ratus delapan puluh juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25 Jika terpidana tidak mampu membayar pidana denda, maka terpidana dapat dijatuhi pidana pengganti kurungan paling lama 1 (satu) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26 Persetujuan korban perdagangan orang tidak menghilangkan penuntutan tindak pidana perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27 Pelaku tindak pidana perdagangan orang kehilangan hak tagihnya atas utang atau perjanjian lainnya terhadap korban, jika utang atau perjanjian lainnya tersebut digunakan untuk mengeksploitasi korban.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYIDIKAN, PENUNTUTAN, DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28 Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana perdagangan orang, dilakukan berdasarkan Hukum Acara Pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29 Alat bukti selain sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dapat pula berupa: a. informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan b. data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tidak terbatas pada: 1) tulisan, suara, atau gambar; 2) peta, rancangan, foto, atau sejenisnya; atau 3) huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30 Sebagai salah satu alat bukti yang sah, keterangan seorang saksi korban saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah, apabila disertai dengan satu alat bukti yang sah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31 (1) Berdasarkan bukti permulaan yang cukup penyidik berwenang menyadap telepon atau alat komunikasi lain yang diduga digunakan untuk mempersiapkan, merencanakan, dan melakukan tindak pidana perdagangan orang. (2) Tindakan penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hanya dilakukan atas izin tertulis ketua pengadilan untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32 Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan kepada penyedia jasa keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang yang disangka atau didakwa melakukan tindak pidana perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33 (1) Dalam penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, pelapor berhak dirahasiakan nama dan alamatnya atau hal-hal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor. (2) Dalam hal pelapor meminta dirahasiakan nama dan alamatnya atau hal-hal lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kewajiban merahasiakan identitas tersebut diberitahukan kepada saksi dan orang lain yang bersangkutan dengan tindak pidana perdagangan orang sebelum pemeriksaan oleh pejabat yang berwenang yang melakukan pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34 Dalam hal saksi dan/atau korban tidak dapat dihadirkan dalam pemeriksaan di sidang pengadilan, keterangan saksi dapat diberikan secara jarak jauh melalui alat komunikasi audio visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35 Selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, saksi dan/atau korban berhak didampingi oleh advokat dan/atau pendamping lainnya yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36 (1) Selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di depan sidang pengadilan, korban berhak mendapatkan informasi tentang perkembangan kasus yang melibatkan dirinya. (2) Informasi tentang perkembangan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pemberian salinan berita acara setiap tahap pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37 (1) Saksi dan/atau korban berhak meminta kepada hakim ketua sidang untuk memberikan keterangan di depan sidang pengadilan tanpa kehadiran terdakwa. (2) Dalam hal saksi dan/atau korban akan memberikan keterangan tanpa kehadiran terdakwa, hakim ketua sidang memerintahkan terdakwa untuk keluar ruang sidang. (3) Pemeriksaan terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilanjutkan setelah kepada terdakwa diberitahukan semua keterangan yang diberikan saksi dan/atau korban pada waktu terdakwa berada di luar ruang sidang pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38 Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap saksi dan/atau korban anak dilakukan dengan memperhatikan kepentingan yang terbaik bagi anak dengan tidak memakai toga atau pakaian dinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39 (1) Sidang tindak pidana perdagangan orang untuk memeriksa saksi dan/atau korban anak dilakukan dalam sidang tertutup. (2) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) saksi dan/atau korban anak wajib didampingi orang tua, wali, orang tua asuh, advokat, atau pendamping lainnya. (3) Pemeriksaan terhadap saksi dan/atau korban anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan tanpa kehadiran terdakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40 (1) Pemeriksaan terhadap saksi dan/atau korban anak, atas persetujuan hakim, dapat dilakukan di luar sidang pengadilan dengan perekaman. (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di hadapan pejabat yang berwenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41 (1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah dan patut, tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah, maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa kehadiran terdakwa. (2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan, maka terdakwa wajib diperiksa, dan segala keterangan saksi dan surat yang dibacakan dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai alat bukti yang diberikan dengan kehadiran terdakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42 Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh penuntut umum pada papan pengumuman pengadilan, kantor Pemerintah Daerah, atau diberitahukan kepada keluarga atau kuasanya.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43 Ketentuan mengenai perlindungan saksi dan korban dalam perkara tindak pidana perdagangan orang dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44 (1) Saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang berhak memperoleh kerahasiaan identitas. (2) Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan juga kepada keluarga saksi dan/atau korban sampai dengan derajat kedua, apabila keluarga saksi dan/atau korban mendapat ancaman baik fisik maupun psikis dari orang lain yang berkenaan dengan keterangan saksi dan/atau korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45 (1) Untuk melindungi saksi dan/atau korban, di setiap provinsi dan kabupaten/kota wajib dibentuk ruang pelayanan khusus pada kantor kepolisian setempat guna melakukan pemeriksaan di tingkat penyidikan bagi saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan ruang pelayanan khusus dan tata cara pemeriksaan saksi dan/atau korban diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46 (1) Untuk melindungi saksi dan/atau korban, pada setiap kabupaten/kota dapat dibentuk pusat pelayanan terpadu bagi saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan mekanisme pelayanan terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47 Dalam hal saksi dan/atau korban beserta keluarganya mendapatkan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan/atau hartanya, Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib memberikan perlindungan, baik sebelum, selama, maupun sesudah proses pemeriksaan perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48 (1) Setiap korban tindak pidana perdagangan orang atau ahli warisnya berhak memperoleh restitusi. (2) Restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa ganti kerugian atas: a. kehilangan kekayaan atau penghasilan; b. penderitaan; c. biaya untuk tindakan perawatan medis dan/atau psikologis; dan/atau d. kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan orang. (3) Restitusi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan tentang perkara tindak pidana perdagangan orang. (4) Pemberian restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sejak dijatuhkan putusan pengadilan tingkat pertama. (5) Restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dititipkan terlebih dahulu di pengadilan tempat perkara diputus. (6) Pemberian restitusi dilakukan dalam 14 (empat belas) hari terhitung sejak diberitahukannya putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (7) Dalam hal pelaku diputus bebas oleh pengadilan tingkat banding atau kasasi, maka hakim memerintahkan dalam putusannya agar uang restitusi yang dititipkan dikembalikan kepada yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 49 (1) Pelaksanaan pemberian restitusi dilaporkan kepada ketua pengadilan yang memutuskan perkara, disertai dengan tanda bukti pelaksanaan pemberian restitusi tersebut. (2) Setelah ketua pengadilan menerima tanda bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ketua pengadilan mengumumkan pelaksanaan tersebut di papan pengumuman pengadilan yang bersangkutan. (3) Salinan tanda bukti pelaksanaan pemberian restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh pengadilan kepada korban atau ahli warisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50 (1) Dalam hal pelaksanaan pemberian restitusi kepada pihak korban tidak dipenuhi sampai melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (6), korban atau ahli warisnya memberitahukan hal tersebut kepada pengadilan. (2) Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan surat peringatan secara tertulis kepada pemberi restitusi, untuk segera memenuhi kewajiban memberikan restitusi kepada korban atau ahli warisnya. (3) Dalam hal surat peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dilaksanakan dalam waktu 14 (empat belas) hari, pengadilan memerintahkan penuntut umum untuk menyita harta kekayaan terpidana dan melelang harta tersebut untuk pembayaran restitusi. (4) Jika pelaku tidak mampu membayar restitusi, maka pelaku dikenai pidana kurungan pengganti paling lama 1 (satu) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51 (1) Korban berhak memperoleh rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana perdagangan orang. (2) Hak-hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh korban atau keluarga korban, teman korban, kepolisian, relawan pendamping, atau pekerja sosial setelah korban melaporkan kasus yang dialaminya atau pihak lain melaporkannya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada pemerintah melalui menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52 (1) Menteri atau instansi yang menangani rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) wajib memberikan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak diajukan permohonan. (2) Untuk penyelenggaraan pelayanan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membentuk rumah perlindungan sosial atau pusat trauma. (3) Untuk penyelenggaraan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), masyarakat atau lembaga-lembaga pelayanan sosial lainnya dapat pula membentuk rumah perlindungan sosial atau pusat trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53 Dalam hal korban mengalami trauma atau penyakit yang membahayakan dirinya akibat tindak pidana perdagangan orang sehingga memerlukan pertolongan segera, maka menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di daerah wajib memberikan pertolongan pertama paling lambat 7 (tujuh) hari setelah permohonan diajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54 (1) Dalam hal korban berada di luar negeri memerlukan perlindungan hukum akibat tindak pidana perdagangan orang, maka Pemerintah Republik Indonesia melalui perwakilannya di luar negeri wajib melindungi pribadi dan kepentingan korban, dan mengusahakan untuk memulangkan korban ke Indonesia atas biaya negara. (2) Dalam hal korban adalah warga negara asing yang berada di Indonesia, maka Pemerintah Republik Indonesia mengupayakan perlindungan dan pemulangan ke negara asalnya melalui koordinasi dengan perwakilannya di Indonesia. (3) Pemberian perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-¬undangan, hukum internasional, atau kebiasaan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 55 Saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang, selain sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini juga berhak mendapatkan hak dan perlindungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lain.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENCEGAHAN DAN PENANGANAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 56 Pencegahan tindak pidana perdagangan orang bertujuan mencegah sedini mungkin terjadinya tindak pidana perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 57 (1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan keluarga wajib mencegah terjadinya tindak pidana perdagangan orang. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membuat kebijakan, program, kegiatan, dan mengalokasikan anggaran untuk melaksanakan pencegahan dan penanganan masalah perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 58 (1) Untuk melaksanakan pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengambil langkah-langkah untuk pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang. (2) Untuk mengefektifkan dan menjamin pelaksanaan langkah-langkah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah membentuk gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah, penegak hukum, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi, dan peneliti/ akademisi. (3) Pemerintah Daerah membentuk gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah daerah, penegak hukum, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi, dan peneliti/akademisi. (4) Gugus tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) merupakan lembaga koordinatif yang bertugas: a. mengoordinasikan upaya pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang; b. melaksanakan advokasi, sosialisasi, pelatihan, dan kerja sama; c. memantau perkembangan pelaksanaan perlindungan korban meliputi rehabilitasi, pemulangan, dan reintegrasi sosial; d. memantau perkembangan pelaksanaan penegakan hukum; serta e. melaksanakan pelaporan dan evaluasi. (5) Gugus tugas pusat dipimpin oleh seorang menteri atau pejabat setingkat menteri yang ditunjuk berdasarkan Peraturan Presiden. (6) Guna mengefektifkan dan menjamin pelaksanaan langkah-langkah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengalokasikan anggaran yang diperlukan. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, susunan organisasi, keanggotaan, anggaran, dan mekanisme kerja gugus tugas pusat dan daerah diatur dengan Peraturan Presiden.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERJA SAMA INTERNASIONAL DAN PERAN SERTA MASYARAKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Kerja Sama Internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59 (1) Untuk mengefektifkan penyelenggaraan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, Pemerintah Republik Indonesia wajib melaksanakan kerja sama internasional, baik yang bersifat bilateral, regional, maupun multilateral. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam bentuk perjanjian bantuan timbal balik dalam masalah pidana dan/atau kerja sama teknis lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua Peran Serta Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60 (1) Masyarakat berperan serta membantu upaya pencegahan dan penanganan korban tindak pidana perdagangan orang. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dengan tindakan memberikan informasi dan/atau melaporkan adanya tindak pidana perdagangan orang kepada penegak hukum atau pihak yang berwajib, atau turut serta dalam menangani korban tindak pidana perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 61 Untuk tujuan pencegahan dan penanganan korban tindak pidana perdagangan orang, Pemerintah wajib membuka akses seluas-luasnya bagi peran serta masyarakat, baik nasional maupun internasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, hukum, dan kebiasaan internasional yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 62 Untuk melaksanakan peran serta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dan Pasal 61, masyarakat berhak untuk memperoleh perlindungan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 63 Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dan Pasal 61 dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 64 Pada saat Undang-Undang ini berlaku, perkara tindak pidana perdagangan orang yang masih dalam proses penyelesaian di tingkat penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan, tetap diperiksa berdasarkan undang-undang yang mengaturnya.&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 65 Pada saat Undang-Undang ini berlaku, maka Pasal 297 dan Pasal 324 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (Berita Negara Republik Indonesia lI Nomor 9) jo Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Mengubah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1660) yang telah beberapa kali diubah dan ditambah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang Berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3850) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 66 Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan oleh Undang-Undang ini harus diterbitkan selambat-lambatnya dalam 6 (enam) bulan setelah Undang-Undang ini berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 67 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 April 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta pada tanggal 19 April 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMID AWALUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan manusia. Perdagangan orang juga merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari pelanggaran harkat dan martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambah maraknya masalah perdagangan orang di berbagai negara, termasuk Indonesia dan negara-negara yang sedang berkembang lainnya, telah menjadi perhatian Indonesia sebagai bangsa, masyarakat internasional, dan anggota organisasi internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bukti empiris, perempuan dan anak adalah kelompok yang paling banyak menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. Korban diperdagangkan tidak hanya untuk tujuan pelacuran atau bentuk eksploitasi seksual lainnya, tetapi juga mencakup bentuk eksploitasi lain, misalnya kerja paksa atau pelayanan paksa, perbudakan, atau praktik serupa perbudakan itu. Pelaku tindak pidana perdagangan orang melakukan perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penyembunyian, atau penerimaan orang untuk tujuan menjebak, menjerumuskan, atau memanfaatkan orang tersebut dalam praktik eksploitasi dengan segala bentuknya dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, atau memberi bayaran atau manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk eksploitasi meliputi kerja paksa atau pelayanan paksa, perbudakan, dan praktik-praktik serupa perbudakan, kerja paksa atau pelayanan paksa adalah kondisi kerja yang timbul melalui cara, rencana, atau pola yang dimaksudkan agar seseorang yakin bahwa jika ia tidak melakukan pekerjaan tertentu, maka ia atau orang yang menjadi tanggungannya akan menderita baik secara fisik maupun psikis. Perbudakan adalah kondisi seseorang di bawah kepemilikan orang lain. Praktik serupa perbudakan adalah tindakan menempatkan seseorang dalam kekuasaan orang lain sehingga orang tersebut tidak mampu menolak suatu pekerjaan yang secara melawan hukum diperintahkan oleh orang lain itu kepadanya, walaupun orang tersebut tidak menghendakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak pidana perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak, telah meluas dalam bentuk jaringan kejahatan baik terorganisasi maupun tidak terorganisasi. Tindak pidana perdagangan orang bahkan melibatkan tidak hanya perorangan tetapi juga korporasi dan penyelenggara negara yang menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya. Jaringan pelaku tindak pidana perdagangan orang memiliki jangkauan operasi tidak hanya antarwilayah dalam negeri tetapi juga antarnegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai larangan perdagangan orang pada dasarnya telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 297 KUHP menentukan mengenai larangan perdagangan wanita dan anak laki-laki belum dewasa dan mengkualifikasikan tindakan tersebut sebagai kejahatan. Pasal 83 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menentukan larangan memperdagangkan, menjual, atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual. Namun, ketentuan KUHP dan Undang-Undang Perlindungan Anak tersebut tidak merumuskan pengertian perdagangan orang yang tegas secara hukum. Di samping itu, Pasal 297 KUHP memberikan sanksi yang terlalu ringan dan tidak sepadan dengan dampak yang diderita korban akibat kejahatan perdagangan orang. Oleh karena itu, diperlukan undang-undang khusus tentang tindak pidana perdagangan orang yang mampu menyediakan landasan hukum materiil dan formil sekaligus. Untuk tujuan tersebut, undang-undang khusus ini mengantisipasi dan menjerat semua jenis tindakan dalam proses, cara, atau semua bentuk eksploitasi yang mungkin terjadi dalam praktik perdagangan orang, baik yang dilakukan antarwilayah dalam negeri maupun secara antarnegara, dan baik oleh pelaku perorangan maupun korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mengatur perlindungan saksi dan korban sebagai aspek penting dalam penegakan hukum, yang dimaksudkan untuk memberikan perlindungan dasar kepada korban dan saksi. Selain itu, Undang-Undang ini juga memberikan perhatian yang besar terhadap penderitaan korban sebagai akibat tindak pidana perdagangan orang dalam bentuk hak restitusi yang harus diberikan oleh pelaku tindak pidana perdagangan orang sebagai ganti kerugian bagi korban, dan mengatur juga hak korban atas rehabilitasi medis dan sosial, pemulangan serta reintegrasi yang harus dilakukan oleh negara khususnya bagi mereka yang mengalami penderitaan fisik, psikis, dan sosial akibat tindak pidana perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang merupakan tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan keluarga. Untuk mewujudkan langkah-langkah yang komprehensif dan terpadu dalam pelaksanaan pencegahan dan penanganan tersebut perlu dibentuk gugus tugas. Tindak pidana perdagangan orang merupakan kejahatan yang tidak saja terjadi dalam satu wilayah negara melainkan juga antarnegara. Oleh karena itu, perlu dikembangkan kerja sama internasional dalam bentuk perjanjian bantuan timbal balik dalam masalah pidana dan/atau kerja sama teknis lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan Undang-Undang ini juga merupakan perwujudan komitmen Indonesia untuk melaksanakan Protokol PBB tahun 2000 tentang Mencegah, Memberantas dan Menghukum Tindak Pidana Perdagangan Orang, khususnya Perempuan dan Anak (Protokol Palermo) yang telah ditandatangani Pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 Ayat (1) Dalam ketentuan ini, kata “untuk tujuan” sebelum frasa “mengeskploitasi orang tersebut” menunjukkan bahwa tindak pidana perdagangan orang merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana perdagangan orang cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan, dan tidak harus menimbulkan akibat. Ayat (2) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3 Ketentuan ini dimaksudkan bahwa wilayah negara Republik Indonesia adalah sebagai negara tujuan atau transit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6 Yang dimaksud dengan frasa “pengiriman anak ke dalam negeri” dalam ketentuan ini adalah pengiriman anak antardaerah dalam wilayah negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “luka berat” dalam ketentuan ini adalah: a. jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau yang menimbulkan bahaya maut; b. tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian; c. kehilangan salah satu pancaindera; d. mendapat cacat berat; e. menderita sakit lumpuh; f. mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 (empat) minggu terus menerus atau 1 (satu) tahun tidak berturut-turut; atau g. gugur atau matinya janin dalam kandungan seorang perempuan atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi. Ayat (2) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “penyelenggara negara” dalam ketentuan ini adalah pejabat pemerintah, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat keamanan, penegak hukum atau pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan atau mempermudah tindak pidana perdagangan orang. Yang dimaksud dengan “menyalahgunakan kekuasaan” dalam ketentuan ini adalah menjalankan kekuasaan yang ada padanya secara tidak sesuai tujuan pemberian kekuasaan tersebut atau menjalankannya secara tidak sesuai ketentuan peraturan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “pencabutan izin usaha, perampasan kekayaan hasil tindak pidana, pencabutan status badan hukum, pemecatan pengurus, dan/atau pelarangan pengurus tersebut mendirikan korporasi dalam bidang usaha yang sama” dalam ketentuan ini dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16 Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “kelompok yang terorganisasi” adalah kelompok terstruktur yang terdiri dari 3 (tiga) orang atau lebih, yang eksistensinya untuk waktu tertentu dan bertindak dengan tujuan melakukan satu atau lebih tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang ini dengan tujuan memperoleh keuntungan materiil atau finansial baik langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18 Yang dimaksud dengan “dipaksa” dalam ketentuan ini adalah suatu keadaan di mana seseorang/korban disuruh melakukan sesuatu sedemikian rupa sehingga orang itu melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19 Yang dimaksud dengan “dokumen negara” dalam ketentuan ini meliputi tetapi tidak terbatas pada paspor, kartu tanda penduduk, ijazah, kartu keluarga, akte kelahiran, dan surat nikah. Yang dimaksud dengan “dokumen lain” dalam ketentuan ini meliputi tetapi tidak terbatas pada surat perjanjian kerja bersama, surat permintaan tenaga kerja Indonesia, asuransi, dan dokumen yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “petugas di persidangan” adalah hakim, penuntut umum, panitera, pendamping korban, advokat, polisi, yang sedang bertugas dalam persidangan tindak pidana perdagangan orang. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24 Ketentuan ini berlaku juga bagi pemberitahuan identitas korban atau saksi kepada media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27 Dalam ketentuan ini, korban tetap memiliki hak tagih atas utang atau perjanjian jika pelaku memiliki kewajiban atas utang atau perjanjian lainnya terhadap korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29 Yang dimaksud dengan “data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik” dalam ketentuan ini misalnya: data yang tersimpan di komputer, telepon, atau peralatan elektronik lainnya, atau catatan lainnya seperti: a. catatan rekening bank, catatan usaha, catatan keuangan, catatan kredit atau utang, atau catatan transaksi yang terkait dengan seseorang atau korporasi yang diduga terlibat di dalam perkara tindak pidana perdagangan orang; b. catatan pergerakan, perjalanan, atau komunikasi oleh seseorang atau organisasi yang diduga terlibat di dalam tindak pidana menurut Undang-Undang ini; atau c. dokumen, pernyataan tersumpah atau bukti-bukti lainnya yang didapat dari negara asing, yang mana Indonesia memiliki kerja sama dengan pihak-pihak berwenang negara tersebut sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang yang berkaitan dengan bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32 Yang dimaksud dengan “penyedia jasa keuangan” antara lain, bank, perusahaan efek, reksa dana, kustodian, dan pedagang valuta asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35 Yang dimaksud dengan “pendamping lainnya” antara lain psikolog, psikiater, ahli kesehatan, rohaniwan, dan anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “korban berhak mendapatkan informasi tentang perkembangan kasus yang melibatkan dirinya” dalam ketentuan ini adalah korban yang menjadi saksi dalam proses peradilan tindak pidana perdagangan orang. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “informasi tentang perkembangan kasus setiap tahap pemeriksaan” dalam ketentuan ini antara lain, berupa salinan berita acara pemeriksaan atau resume hasil pemeriksaan pada tingkat penyidikan, dakwaan dan tuntutan, serta putusan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40 Ayat (1) Yang dimaksud “perekaman“ dalam ayat ini dapat dilakukan dengan alat rekam audio, dan/atau audio visual. Ayat (2) Yang dimaksud “pejabat yang berwenang“ adalah penyidik atau penuntut umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42 Ketentuan ini dimaksudkan untuk: a. memungkinkan bahwa terdakwa yang melarikan diri mengetahui putusan tersebut; atau b. memberikan tambahan hukuman kepada terdakwa berupa “pencideraan nama baiknya” atas perilaku terdakwa yang tidak kooperatif dengan proses hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48 Ayat (1) Dalam ketentuan ini, mekanisme pengajuan restitusi dilaksanakan sejak korban melaporkan kasus yang dialaminya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia setempat dan ditangani oleh penyidik bersamaan dengan penanganan tindak pidana yang dilakukan. Penuntut umum memberitahukan kepada korban tentang haknya untuk mengajukan restitusi, selanjutnya penuntut umum menyampaikan jumlah kerugian yang diderita korban akibat tindak pidana perdagangan orang bersamaan dengan tuntutan. Mekanisme ini tidak menghilangkan hak korban untuk mengajukan sendiri gugatan atas kerugiannya. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “kerugian lain” dalam ketentuan ini misalnya: a. kehilangan harta milik; b. biaya transportasi dasar; c. biaya pengacara atau biaya lain yang berhubungan dengan proses hukum; atau d. kehilangan penghasilan yang dijanjikan pelaku. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Dalam ketentuan ini, penitipan restitusi dalam bentuk uang di pengadilan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ketentuan ini disamakan dengan proses penanganan perkara perdata dalam konsinyasi. Ayat (6) Restitusi dalam ketentuan ini merupakan pembayaran riil (faktual) dari jumlah restitusi yang diputus yang sebelumnya dititipkan pada pengadilan tingkat pertama. Ayat (7) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 49 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “rehabilitasi kesehatan” dalam ketentuan ini adalah pemulihan kondisi semula baik fisik maupun psikis. Yang dimaksud dengan “rehabilitasi sosial” dalam ketentuan ini adalah pemulihan dari gangguan terhadap kondisi mental sosial dan pengembalian keberfungsian sosial agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Yang dimaksud dengan “reintegrasi sosial” dalam ketentuan ini adalah penyatuan kembali korban tindak pidana perdagangan orang kepada pihak keluarga atau pengganti keluarga yang dapat memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan bagi korban. Hak atas “pemulangan” harus dilakukan dengan memberi jaminan bahwa korban benar-benar menginginkan pulang, dan tidak beresiko bahaya yang lebih besar bagi korban tersebut. Ayat (2) Dalam ketentuan ini permohonan rehabilitasi dapat dimintakan oleh korban atau kuasa hukumnya dengan melampirkan bukti laporan kasusnya kepada kepolisian. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “pemerintah” dalam ketentuan ini adalah instansi yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan, dan/atau penanggulangan masalah-masalah sosial, dan dapat dilaksanakan secara bersama-sama antara penyelenggara kewenangan tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota khususnya dari mana korban berasal atau bertempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Dalam ketentuan ini, pembentukan rumah perlindungan sosial atau pusat trauma dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah, dengan memperhatikan asas prioritas. Dalam hal daerah telah mempunyai rumah perlindungan sosial atau pusat trauma, maka pemanfaatan rumah perlindungan sosial atau pusat trauma perlu dioptimalkan sesuai dengan Undang-Undang ini. Ayat (3) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “perwakilannya di luar negeri” dalam ketentuan ini adalah kedutaan besar, konsulat jenderal, kantor penghubung, kantor dagang atau semua kantor diplomatik atau kekonsuleran lainnya yang sesuai peraturan perundang-undangan menjalankan mandat Pemerintah Republik Indonesia untuk melindungi kepentingan warga negara atau badan hukum Indonesia yang menghadapi permasalahan hukum di luar negeri. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 55 Yang dimaksud dengan “peraturan perundang-undangan lain” dalam ketentuan ini mengacu pula pada undang-undang yang mengatur perlindungan saksi dan/atau korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 56 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 57 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “Pemerintah” dalam ketentuan ini adalah instansi yang menjalankan urusan antara lain, di bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan ketenagakerjaan, hukum dan hak asasi manusia, komunikasi dan informasi. Yang dimaksud dengan “Pemerintah Daerah” dalam ketentuan ini meliputi provinsi dan kabupaten/kota. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “penanganan” meliputi antara lain, kegiatan pemantauan, penguatan, dan peningkatan kemampuan penegak hukum dan para pemangku kepentingan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 58 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “Pemerintah Republik Indonesia” dalam ketentuan ini adalah pejabat yang oleh Presiden diberikan kewenangan penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan peraturan perundang-undangan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “bantuan timbal balik dalam masalah pidana” dalam ketentuan ini misalnya: a. pengambilan alat/barang bukti dan untuk mendapatkan pernyataan dari orang; b. pemberian dokumen resmi dan catatan hukum lain yang terkait; c. pengidentifikasian orang dan lokasi; d. pelaksanaan permintaan untuk penyelidikan dan penyitaan dan pemindahan barang bukti berupa dokumen dan barang; e. upaya pemindahan hasil kejahatan; f. upaya persetujuan dari orang yang bersedia memberikan kesaksian atau membantu penyidikan oleh pihak peminta dan jika orang itu berada dalam tahanan mengatur pemindahan sementara ke pihak peminta; g. penyampaian dokumen; h. penilaian ahli dan pemberitahuan hasil dari proses acara pidana; dan i. bantuan lain sesuai dengan tujuan bantuan timbal balik dalam masalah pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 61 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 62 Yang dimaksud dengan “perlindungan hukum” dalam ketentuan ini dapat berupa perlindungan atas: a. keamanan pribadi; b. kerahasiaan identitas diri; atau c. penuntutan hukum sebagai akibat melaporkan secara bertanggung jawab tindak pidana perdagangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 63 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 64 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 65 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 66 Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 67 Cukup jelas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-8506330065457771335?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/8506330065457771335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-republik-indonesia-nomor_7168.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/8506330065457771335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/8506330065457771335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-republik-indonesia-nomor_7168.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-5144555817398974085</id><published>2009-09-21T20:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T20:43:44.358-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang: a. bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus diwujudkan melalui pembangunan perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi;&lt;br /&gt;b. bahwa sesuai dengan amanat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI/MPR-RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu diberdayakan sebagai bagian integral ekonomi rakyat yang mempunyai kedudukan, peran, dan potensi strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional yang makin seimbang, berkembang, dan berkeadilan;&lt;br /&gt;c. bahwa pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam huruf b, perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas-luasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan;&lt;br /&gt;d. bahwa sehubungan dengan perkembangan lingkungan perekonomian yang semakin dinamis dan global, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, yang hanya mengatur Usaha Kecil perlu diganti, agar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia dapat memperoleh jaminan kepastian dan keadilan usaha;&lt;br /&gt;e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat:    Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 27 ayat (2), dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:   UNDANG-UNDANG TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;4. Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.&lt;br /&gt;5. Dunia Usaha adalah Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah dan Usaha Besar yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dan berdomisili di Indonesia.&lt;br /&gt;6. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;7. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.&lt;br /&gt;8. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.&lt;br /&gt;9. Iklim Usaha adalah kondisi yang diupayakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah secara sinergis melalui penetapan berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan di berbagai aspek kehidupan ekonomi agar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memperoleh pemihakan, kepastian, kesempatan, perlindungan, dan dukungan berusaha yang seluas-luasnya.&lt;br /&gt;10. Pengembangan adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah melalui pemberian fasilitas bimbingan pendampingan dan bantuan perkuatan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;11. Pembiayaan adalah penyediaan dana oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat melalui bank, koperasi, dan lembaga keuangan bukan bank, untuk mengembangkan dan memperkuat permodalan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;12. Penjaminan adalah pemberian jaminan pinjaman Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah oleh lembaga penjamin kredit sebagai dukungan untuk memperbesar kesempatan memperoleh pinjaman dalam rangka memperkuat permodalannya.&lt;br /&gt;13. Kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar.&lt;br /&gt;14. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;15. Menteri Teknis adalah menteri yang secara teknis bertanggung jawab untuk mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam sektor kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;ASAS DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berasaskan:&lt;br /&gt;a. kekeluargaan;&lt;br /&gt;b. demokrasi ekonomi;&lt;br /&gt;c. kebersamaan;&lt;br /&gt;d. efisiensi berkeadilan;&lt;br /&gt;e. berkelanjutan;&lt;br /&gt;f. berwawasan lingkungan;&lt;br /&gt;g. kemandirian;&lt;br /&gt;h. keseimbangan kemajuan; dan&lt;br /&gt;i. kesatuan ekonomi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PRINSIP DAN TUJUAN PEMBERDAYAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Prinsip Pemberdayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Prinsip pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah:&lt;br /&gt;a. penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;&lt;br /&gt;b. perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan;&lt;br /&gt;c. pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;d. peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; dan&lt;br /&gt;e. penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Tujuan Pemberdayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Tujuan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah:&lt;br /&gt;a. mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan;&lt;br /&gt;b. menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; dan&lt;br /&gt;c. meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KRITERIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;(1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau&lt;br /&gt;b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;(2) Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau&lt;br /&gt;b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;(3) Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau&lt;br /&gt;b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).&lt;br /&gt;(4) Kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan ayat (2) huruf a, huruf b, serta ayat (3) huruf a, huruf b nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian yang diatur dengan Peraturan Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENUMBUHAN IKLIM USAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menumbuhkan Iklim Usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi aspek:&lt;br /&gt;a. pendanaan;&lt;br /&gt;b. sarana dan prasarana;&lt;br /&gt;c. informasi usaha;&lt;br /&gt;d. kemitraan;&lt;br /&gt;e. perizinan usaha;&lt;br /&gt;f. kesempatan berusaha;&lt;br /&gt;g. promosi dagang; dan&lt;br /&gt;h. dukungan kelembagaan.&lt;br /&gt;(2) Dunia Usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif membantu menumbuhkan Iklim Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Aspek pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. memperluas sumber pendanaan dan memfasilitasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk dapat mengakses kredit perbankan dan lembaga keuangan bukan bank;&lt;br /&gt;b. memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringannya sehingga dapat diakses oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;c. memberikan kemudahan dalam memperoleh pendanaan secara cepat, tepat, murah, dan tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan&lt;br /&gt;d. membantu para pelaku Usaha Mikro dan Usaha Kecil untuk mendapatkan pembiayaan dan jasa/produk keuangan lainnya yang disediakan oleh perbankan dan lembaga keuangan bukan bank, baik yang menggunakan sistem konvensional maupun sistem syariah dengan jaminan yang disediakan oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Aspek sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. mengadakan prasarana umum yang dapat mendorong dan mengembangkan pertumbuhan Usaha Mikro dan Kecil; dan&lt;br /&gt;b. memberikan keringanan tarif prasarana tertentu bagi Usaha Mikro dan Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Aspek informasi usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf c ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. membentuk dan mempermudah pemanfaatan bank data dan jaringan informasi bisnis;&lt;br /&gt;b. mengadakan dan menyebarluaskan informasi mengenai pasar, sumber pembiayaan, komoditas, penjaminan, desain dan teknologi, dan mutu; dan&lt;br /&gt;c. memberikan jaminan tranparansi dan akses yang sama bagi semua pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atas segala informasi usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Aspek kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf d ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. mewujudkan kemitraan antar-Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;b. mewujudkan kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha Besar;&lt;br /&gt;c. mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antar-Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;d. mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha Besar;&lt;br /&gt;e. mengembangkan kerjasama untuk meningkatkan posisi tawar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;f. mendorong terbentuknya struktur pasar yang menjamin tumbuhnya persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen; dan&lt;br /&gt;g. mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang perorangan atau kelompok tertentu yang merugikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;(1) Aspek perizinan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf e ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. menyederhanakan tata cara dan jenis perizinan usaha dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu; dan&lt;br /&gt;b. membebaskan biaya perizinan bagi Usaha Mikro dan memberikan keringanan biaya perizinan bagi Usaha Kecil.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara permohonan izin usaha diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;(1) Aspek kesempatan berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf f ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan rakyat, lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima, serta lokasi lainnya;&lt;br /&gt;b. menetapkan alokasi waktu berusaha untuk Usaha Mikro dan Kecil di subsektor perdagangan retail;&lt;br /&gt;c. mencadangkan bidang dan jenis kegiatan usaha yang memiliki kekhususan proses, bersifat padat karya, serta mempunyai warisan budaya yang bersifat khusus dan turun-temurun;&lt;br /&gt;d. menetapkan bidang usaha yang dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta bidang usaha yang terbuka untuk Usaha Besar dengan syarat harus bekerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;e. melindungi usaha tertentu yang strategis untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;f. mengutamakan penggunaan produk yang dihasilkan oleh Usaha Mikro dan Kecil melalui pengadaan secara langsung;&lt;br /&gt;g. memprioritaskan pengadaan barang atau jasa dan pemborongan kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah; dan&lt;br /&gt;h. memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan.&lt;br /&gt;(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pengawasan dan pengendalian oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;(1) Aspek promosi dagang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf g, ditujukan untuk:&lt;br /&gt;a. meningkatkan promosi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di dalam dan di luar negeri;&lt;br /&gt;b. memperluas sumber pendanaan untuk promosi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di dalam dan di luar negeri;&lt;br /&gt;c. memberikan insentif dan tata cara pemberian insentif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang mampu menyediakan pendanaan secara mandiri dalam kegiatan promosi produk di dalam dan di luar negeri; dan&lt;br /&gt;d. memfasilitasi pemilikan hak atas kekayaan intelektual atas produk dan desain Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam kegiatan usaha dalam negeri dan ekspor.&lt;br /&gt;(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Aspek dukungan kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf h ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator, lembaga layanan pengembangan usaha, konsultan keuangan mitra bank, dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN USAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang:&lt;br /&gt;a. produksi dan pengolahan;&lt;br /&gt;b. pemasaran;&lt;br /&gt;c. sumber daya manusia; dan&lt;br /&gt;d. desain dan teknologi.&lt;br /&gt;(2) Dunia usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif melakukan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengembangan, prioritas, intensitas, dan jangka waktu pengembangan diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Pengembangan dalam bidang produksi dan pengolahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;a. meningkatkan teknik produksi dan pengolahan serta kemampuan manajemen bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;b. memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana, produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong, dan kemasan bagi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;&lt;br /&gt;c. mendorong penerapan standarisasi dalam proses produksi dan pengolahan; dan&lt;br /&gt;d. meningkatkan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan bagi Usaha Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Pengembangan dalam bidang pemasaran, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;a. melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran;&lt;br /&gt;b. menyebarluaskan informasi pasar;&lt;br /&gt;c. meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pemasaran;&lt;br /&gt;d. menyediakan sarana pemasaran yang meliputi penyelenggaraan uji coba pasar, lembaga pemasaran, penyediaan rumah dagang, dan promosi Usaha Mikro dan Kecil;&lt;br /&gt;e. memberikan dukungan promosi produk, jaringan pemasaran, dan distribusi;dan&lt;br /&gt;f. menyediakan tenaga konsultan profesional dalam bidang pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Pengembangan dalam bidang sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf c dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;a. memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan;&lt;br /&gt;b. meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial; dan&lt;br /&gt;c. membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan untuk melakukan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, motivasi dan kreativitas bisnis, dan penciptaan wirausaha baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Pengembangan dalam bidang desain dan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf d dilakukan dengan:&lt;br /&gt;a. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu;&lt;br /&gt;b. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi;&lt;br /&gt;c. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru;&lt;br /&gt;d. memberikan insentif kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup; dan&lt;br /&gt;e. mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;PEMBIAYAAN DAN PENJAMINAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Pembiayaan dan Penjaminan Usaha Mikro dan Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro dan Kecil.&lt;br /&gt;(2) Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisihan bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya.&lt;br /&gt;(3) Usaha Besar nasional dan asing dapat menyediakan pembiayaan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya.&lt;br /&gt;(4) Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Dunia Usaha dapat memberikan hibah, mengusahakan bantuan luar negeri, dan mengusahakan sumber pembiayaan lain yang sah serta tidak mengikat untuk Usaha Mikro dan Kecil.&lt;br /&gt;(5) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif dalam bentuk kemudahan persyaratan perizinan, keringanan tarif sarana prasarana, dan bentuk insentif lainnya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kepada dunia usaha yang menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro dan Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan sumber pembiayaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil, Pemerintah melakukan upaya:&lt;br /&gt;a. pengembangan sumber pembiayaan dari kredit perbankan dan lembaga keuangan bukan bank;&lt;br /&gt;b. pengembangan lembaga modal ventura;&lt;br /&gt;c. pelembagaan terhadap transaksi anjak piutang;&lt;br /&gt;d. peningkatan kerjasama antara Usaha Mikro dan Usaha Kecil melalui koperasi simpan pinjam dan koperasi jasa keuangan konvensional dan syariah;dan&lt;br /&gt;e. pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;(1) Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil terhadap sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pemerintah dan Pemerintah Daerah:&lt;br /&gt;a. menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jaringan lembaga keuangan bukan bank;&lt;br /&gt;b. menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jangkauan lembaga penjamin kredit;dan&lt;br /&gt;c. memberikan kemudahan dan fasilitasi dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh pembiayaan.&lt;br /&gt;(2) Dunia Usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil terhadap pinjaman atau kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;a. meningkatkan kemampuan menyusun studi kelayakan usaha;&lt;br /&gt;b. meningkatkan pengetahuan tentang prosedur pengajuan kredit atau pinjaman;dan&lt;br /&gt;c. meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknis serta manajerial usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Pembiayaan dan Penjaminan Usaha Menengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pemberdayaan Usaha Menengah dalam bidang pembiayaan dan penjaminan dengan:&lt;br /&gt;a. memfasilitasi dan mendorong peningkatan pembiayaan modal kerja dan investasi melalui perluasan sumber dan pola pembiayaan, akses terhadap pasar modal, dan lembaga pembiayaan lainnya; dan&lt;br /&gt;b. mengembangkan lembaga penjamin kredit, dan meningkatkan fungsi lembaga penjamin ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;KEMITRAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;(1) Pemerintah Daerah, Dunia Usaha dan masyarakat memfasilitasi, mendukung, dan menstimulasi kegiatan kemitraan, yang saling membutuhkan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan.&lt;br /&gt;(2) Kemitraan antar-Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, dan teknologi.&lt;br /&gt;(3) Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor, penyerapan tenaga kerja, penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Kemitraan dilaksanakan dengan pola:&lt;br /&gt;a. inti-plasma;&lt;br /&gt;b. subkontrak;&lt;br /&gt;c. waralaba;&lt;br /&gt;d. perdagangan umum;&lt;br /&gt;e. distribusi dan keagenan; dan&lt;br /&gt;f. bentuk-bentuk kemitraan lain, seperti: bagi hasil, kerjasama operasional, usaha patungan (joint venture), dan penyumberluaran (outsourcing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Pelaksanaan kemitraan dengan pola inti-plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a, Usaha Besar sebagai inti membina dan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yang menjadi plasmanya dalam:&lt;br /&gt;a. penyediaan dan penyiapan lahan;&lt;br /&gt;b. penyediaan sarana produksi;&lt;br /&gt;c. pemberian bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha;&lt;br /&gt;d. perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan;&lt;br /&gt;e. pembiayaan;&lt;br /&gt;f. pemasaran;&lt;br /&gt;g. penjaminan;&lt;br /&gt;h. pemberian informasi; dan&lt;br /&gt;i. pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas dan wawasan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Pelaksanaan kemitraan usaha dengan pola subkontrak sebagaimana dimaksud Pasal 26 huruf b, untuk memproduksi barang dan/atau jasa, Usaha Besar memberikan dukungan berupa:&lt;br /&gt;a. kesempatan untuk mengerjakan sebagian produksi dan/atau komponennya;&lt;br /&gt;b. kesempatan memperoleh bahan baku yang diproduksi secara berkesinambungan dengan jumlah dan harga yang wajar;&lt;br /&gt;c. bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen;&lt;br /&gt;d. perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan;&lt;br /&gt;e. pembiayaan dan pengaturan sistem pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak; dan&lt;br /&gt;f. upaya untuk tidak melakukan pemutusan hubungan sepihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;(1) Usaha Besar yang memperluas usahanya dengan cara waralaba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf c, memberikan kesempatan dan mendahulukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang memiliki kemampuan.&lt;br /&gt;(2) Pemberi waralaba dan penerima waralaba mengutamakan penggunaan barang dan/atau bahan hasil produksi dalam negeri sepanjang memenuhi standar mutu barang dan jasa yang disediakan dan/atau dijual berdasarkan perjanjian waralaba.&lt;br /&gt;(3) Pemberi waralaba wajib memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan, bimbingan operasional manajemen, pemasaran, penelitian, dan pengembangan kepada penerima waralaba secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;(1) Pelaksanaan kemitraan dengan pola perdagangan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf d, dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah oleh Usaha Besar yang dilakukan secara terbuka.&lt;br /&gt;(2) Pemenuhan kebutuhan barang dan jasa yang diperlukan oleh Usaha Besar dilakukan dengan mengutamakan pengadaan hasil produksi Usaha Kecil atau Usaha Mikro sepanjang memenuhi standar mutu barang dan jasa yang diperlukan.&lt;br /&gt;(3) Pengaturan sistem pembayaran dilakukan dengan tidak merugikan salah satu pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan kemitraan dengan pola distribusi dan keagenan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf e, Usaha Besar dan/atau Usaha Menengah memberikan hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa kepada Usaha Mikro dan/atau Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Dalam hal Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menyelenggarakan usaha dengan modal patungan dengan pihak asing, berlaku ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Pelaksanaan kemitraan usaha yang berhasil, antara Usaha Besar dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dapat ditindaklanjuti dengan kesempatan pemilikan saham Usaha Besar oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;(1) Perjanjian kemitraan dituangkan dalam perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya mengatur kegiatan usaha, hak dan kewajiban masing-masing pihak, bentuk pengembangan, jangka waktu, dan penyelesaian perselisihan.&lt;br /&gt;(2) Perjanjian kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Perjanjian kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh bertentangan dengan prinsip dasar kemandirian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta tidak menciptakan ketergantungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terhadap Usaha Besar.&lt;br /&gt;(4) Untuk memantau pelaksanaan kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2), Menteri dapat membentuk lembaga koordinasi kemitraan usaha nasional dan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;(1) Usaha Besar dilarang memiliki dan/atau menguasai Usaha Mikro, Kecil, dan/atau Menengah sebagai mitra usahanya dalam pelaksanaan hubungan kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26.&lt;br /&gt;(2) Usaha Menengah dilarang memiliki dan/atau menguasai Usaha Mikro dan/atau Usaha Kecil mitra usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;(1) Dalam melaksanakan kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 para pihak mempunyai kedudukan hukum yang setara dan terhadap mereka berlaku hukum Indonesia.&lt;br /&gt;(2) Pelaksanaan kemitraan diawasi secara tertib dan teratur oleh lembaga yang dibentuk dan bertugas untuk mengawasi persaingan usaha sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai pola kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;KOORDINASI DAN PENGENDALIAN PEMBERDAYAAN&lt;br /&gt;USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;(1) Menteri melaksanakan koordinasi dan pengendalian pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;(2) Koordinasi dan pengendalian pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara nasional dan daerah yang meliputi: penyusunan dan pengintegrasian kebijakan dan program, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, serta pengendalian umum terhadap pelaksanaan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, termasuk penyelenggaraan kemitraan usaha dan pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan koordinasi dan pengendalian pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X&lt;br /&gt;SANKSI ADMINISTRATIF DAN KETENTUAN PIDANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Sanksi Administratif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;(1) Usaha Besar yang melanggar ketentuan Pasal 35 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) oleh instansi yang berwenang.&lt;br /&gt;(2) Usaha Menengah yang melanggar ketentuan Pasal 35 ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) oleh instansi yang berwenang.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Ketentuan Pidana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Setiap orang yang menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan mengaku atau memakai nama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sehingga mendapatkan kemudahan untuk memperoleh dana, tempat usaha, bidang dan kegiatan usaha, atau pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah yang diperuntukkan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XI&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang-Undang ini ditetapkan paling lambat 12 (dua belas) bulan atau 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 3611) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Usaha Kecil dan Menengah dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 4 Juli 2008&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 4 Juli 2008&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDI MATTALATTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 20 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tertib, dan dinamis dalam lingkungan yang merdeka, bersahabat, dan damai.&lt;br /&gt;Pembangunan nasional yang mencakup seluruh aspek kehidupan bangsa diselenggarakan bersama oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan, dan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing, melindungi, serta menumbuhkan suasana dan iklim yang menunjang.&lt;br /&gt;Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Selain itu, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang harus memperoleh kesempatan utama, dukungan, perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat, tanpa mengabaikan peranan Usaha Besar dan Badan Usaha Milik Negara.&lt;br /&gt;Meskipun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah telah menunjukkan peranannya dalam perekonomian nasional, namun masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal, dalam hal produksi dan pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kesempatan, kemampuan, dan perlindungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, telah ditetapkan berbagai kebijakan tentang pencadangan usaha, pendanaan, dan pengembangannya namun belum optimal. Hal itu dikarenakan kebijakan tersebut belum dapat memberikan perlindungan, kepastian berusaha, dan fasilitas yang memadai untuk pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu diberdayakan dengan cara:&lt;br /&gt;a. penumbuhan iklim usaha yang mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; dan&lt;br /&gt;b. pengembangan dan pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan peran serta kelembagaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam perekonomian nasional, maka pemberdayaan tersebut perlu dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat secara menyeluruh, sinergis, dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;Dalam memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi dengan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;Undang-Undang ini disusun dengan maksud untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Secara umum struktur dan materi dari Undang-Undang ini memuat tentang ketentuan umum, asas, prinsip dan tujuan pemberdayaan, kriteria, penumbuhan iklim usaha, pengembangan usaha, pembiayaan dan penjaminan, kemitraan, dan koordinasi pemberdayaan, sanksi administratif dan ketentuan pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah asas yang melandasi upaya pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai bagian dari perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, keseimbangan kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas demokrasi ekonomi" adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diselenggarakan sebagai kesatuan dari pembangunan perekonomian nasional untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas kebersamaan" adalah asas yang mendorong peran seluruh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Dunia Usaha secara bersama-sama dalam kegiatannya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas efisiensi berkeadilan" adalah asas yang mendasari pelaksanaan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing.&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas berkelanjutan" adalah asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses pembangungan melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga terbentuk perekonomian yang tangguh dan mandiri.&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas berwawasan lingkungan" adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas kemandirian" adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan dengan tetap menjaga dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan kemandirian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan kemajuan" adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan ekonomi nasional.&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "asas kesatuan ekonomi nasional" adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang merupakan bagian dari pembangunan kesatuan ekonomi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kekayaan bersih" adalah hasil pengurangan total nilai kekayaan usaha (aset) dengan total nilai kewajiban, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "hasil penjualan tahunan" adalah hasil penjualan bersih (netto) yang berasal dari penjualan barang dan jasa usahanya dalam satu tahun buku.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "memberikan keringanan tarif prasarana tertentu" adalah pembedaan perlakuan tarif berdasarkan ketetapan Pemerintah dan Pemerintah Daerah baik yang secara langsung maupun tidak langsung dengan memberikan keringanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "bank data dan jaringan informasi bisnis" adalah berbagai pusat data bisnis dan sistem informasi bisnis yang dimiliki pemerintah atau swasta.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e.&lt;br /&gt;Posisi tawar dalam ketentuan ini dimaksudkan agar dalam melakukan kerjasama usaha dengan pihak lain mempunyai posisi yang sepadan dan saling menguntungkan.&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Penguasaan pasar dan pemusatan usaha harus dicegah agar tidak merugikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "menyederhanakan tata cara dan jenis perizinan", adalah memberikan kemudahan persyaratan dan tata cara perizinan serta informasi yang seluas-luasnya.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "sistem pelayanan terpadu satu pintu" adalah proses pengelolaan perizinan usaha yang dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen, dilakukan dalam satu tempat berdasarkan prinsip pelayanan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. kesederhanaan dalam proses;&lt;br /&gt;b. kejelasan dalam pelayanan;&lt;br /&gt;c. kepastian waktu penyelesaian;&lt;br /&gt;d. kepastian biaya;&lt;br /&gt;e. keamanan tempat pelayanan;&lt;br /&gt;f. tanggung jawab petugas pelayanan;&lt;br /&gt;g. kelengkapan sarana dan prasarana pelayanan;&lt;br /&gt;h. kemudahan akses pelayanan; dan&lt;br /&gt;i. kedisiplinan, kesopanan, dan keramahan pelayanan.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "memprioritaskan" adalah untuk memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "inkubator" adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai mitra usahanya. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi, bisnis, dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "lembaga layanan pengembangan usaha (bussines development services-providers)" adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "konsultan keuangan mitra bank" adalah konsultan pada lembaga pengembangan usaha yang tugasnya melakukan konsultasi dan pendampingan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah agar mampu mengakses kredit perbankan dan/atau pembiayaan dari lembaga keuangan selain bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Ketentuan ini dimaksudkan agar terdapat konsistensi dalam menjaga kualitas produk.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kemampuan rancang bangun" adalah kemampuan untuk mendesain suatu kegiatan usaha.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kemampuan perekayasaan" (engineering) adalah kemampuan untuk mengubah suatu proses, atau cara pembuatan suatu produk dan/atau jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Penelitian dan pengkajian pemasaran yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah meliputi kegiatan pemetaan potensi dan kekuatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang ditujukan untuk menetapkan kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah guna pengembangan usaha serta perluasan dan pembukaan usaha baru.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pembiayaan untuk Usaha Mikro berdasarkan Undang-Undang ini dapat dikembangkan lembaga keuangan untuk Usaha Mikro sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kesempatan kepemilikan saham" adalah bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah mendapat prioritas dalam kepemilikan saham Usaha Besar yang terbuka (go public).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-5144555817398974085?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/5144555817398974085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-republik-indonesia-nomor_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5144555817398974085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5144555817398974085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-republik-indonesia-nomor_21.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-5171165679343558097</id><published>2009-09-21T20:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T20:42:08.779-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 12 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang: a. bahwa dalam rangka mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan agar mampu melahirkan kepemimpinan daerah yang efektif dengan memperhatikan prinsip demokrasi, persamaan, keadilan, dan kepastian hukum dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;b. bahwa untuk mewujudkan kepemimpinan daerah yang demokratis yang memperhatikan prinsip persamaan dan keadilan, penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada setiap warga negara yang memenuhi persyaratan;&lt;br /&gt;c. bahwa dalam penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah terjadi perubahan, terutama setelah putusan Mahkamah Konstitusi tentang calon perseorangan;&lt;br /&gt;d. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah belum diatur mengenai pengisian kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang menggantikan kepala daerah yang meninggal dunia, mengundurkan diri, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya;&lt;br /&gt;e. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah belum diatur mengenai pengisian kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang meninggal dunia, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya;&lt;br /&gt;f. bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah, perlu adanya pengaturan untuk mengintegrasikan jadwal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah sehingga Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah perlu diubah;&lt;br /&gt;g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat:    1. Pasal 18 ayat (4), Pasal 20, Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:   UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), diubah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketentuan Pasal 26 ditambah 4 (empat) ayat, yakni ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7), sehingga Pasal 26 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 26&lt;br /&gt;(1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas:&lt;br /&gt;a. membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah;&lt;br /&gt;b. membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup;&lt;br /&gt;c. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi;&lt;br /&gt;d. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota;&lt;br /&gt;e. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan daerah;&lt;br /&gt;f. melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah; dan&lt;br /&gt;g. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan.&lt;br /&gt;(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah.&lt;br /&gt;(3) Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya apabila kepala daerah meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya.&lt;br /&gt;(4) Untuk mengisi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berasal dari partai politik atau gabungan partai politik dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.&lt;br /&gt;(5) Untuk mengisi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berasal dari calon perseorangan dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang berasal dari partai politik atau gabungan partai politik karena meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.&lt;br /&gt;(7) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang berasal dari calon perseorangan karena meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan Pasal 42 ayat (1) huruf i dihapus dan penjelasan huruf e diubah sebagaimana tercantum dalam penjelasan, sehingga Pasal 42 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 42&lt;br /&gt;(1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang:&lt;br /&gt;a. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama;&lt;br /&gt;b. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah;&lt;br /&gt;c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerja sama internasional di daerah;&lt;br /&gt;d. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD Provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD Kabupaten/Kota;&lt;br /&gt;e. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah;&lt;br /&gt;f. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah;&lt;br /&gt;g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah;&lt;br /&gt;h. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan;&lt;br /&gt;i. dihapus;&lt;br /&gt;j. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah;&lt;br /&gt;k. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah.&lt;br /&gt;(2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketentuan Pasal 56 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 56&lt;br /&gt;(1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.&lt;br /&gt;(2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh partai politik, gabungan partai politik, atau perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketentuan Pasal 58 huruf d dan huruf f diubah, huruf l dihapus serta ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf q, sehingga Pasal 58 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 58&lt;br /&gt;Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat:&lt;br /&gt;a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;&lt;br /&gt;b. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah;&lt;br /&gt;c. berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat;&lt;br /&gt;d. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun bagi calon gubernur/wakil gubernur dan berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun bagi calon bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota;&lt;br /&gt;e. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter;&lt;br /&gt;f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;&lt;br /&gt;g. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;&lt;br /&gt;h. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya;&lt;br /&gt;i. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan;&lt;br /&gt;j. tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara;&lt;br /&gt;k. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;&lt;br /&gt;l. dihapus;&lt;br /&gt;m. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak;&lt;br /&gt;n. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung, suami atau istri;&lt;br /&gt;o. belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama;&lt;br /&gt;p. tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah; dan&lt;br /&gt;q. mengundurkan diri sejak pendaftaran bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang masih menduduki jabatannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketentuan Pasal 59 ayat (1) diubah, di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 5 (lima) ayat, yakni ayat (2a), ayat (2b), ayat (2c), ayat (2d), dan ayat (2e), ayat (3) dihapus, di antara ayat (4) dan ayat (5) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (4a), dan di antara ayat (5) dan ayat (6) disisipkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (5a) dan ayat (5b), sehingga Pasal 59 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 59&lt;br /&gt;(1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah:&lt;br /&gt;a. pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.&lt;br /&gt;b. pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.&lt;br /&gt;(2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas persen) dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(2a) Pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon gubernur/wakil gubernur apabila memenuhi syarat dukungan dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a. provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 2.000.000 (dua juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 6,5% (enam koma lima persen);&lt;br /&gt;b. provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000.000 (dua juta) sampai dengan 6.000.000 (enam juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 5% (lima persen);&lt;br /&gt;c. provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 6.000.000 (enam juta) sampai dengan 12.000.000 (dua belas juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 4% (empat persen); dan&lt;br /&gt;d. provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 12.000.000 (dua belas juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 3% (tiga persen).&lt;br /&gt;(2b) Pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon bupati/wakil bupati atau walikota/wakil walikota apabila memenuhi syarat dukungan dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 6,5% (enam koma lima persen);&lt;br /&gt;b. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) sampai dengan 500.000 (lima ratus ribu) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 5% (lima persen);&lt;br /&gt;c. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) sampai dengan l.000.000 (satu juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 4% (empat persen); dan&lt;br /&gt;d. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 3% (tiga persen).&lt;br /&gt;(2c) Jumlah dukungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2a) tersebar di lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kabupaten/kota di provinsi dimaksud.&lt;br /&gt;(2d) Jumlah dukungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2b) tersebar di lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kecamatan di kabupaten/kota dimaksud.&lt;br /&gt;(2e) Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2a) dan ayat (2b) dibuat dalam bentuk surat dukungan yang disertai dengan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau surat keterangan tanda penduduk sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Dihapus.&lt;br /&gt;(4) Dalam proses penetapan pasangan calon, partai politik atau gabungan partai politik memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat.&lt;br /&gt;(4a) Dalam proses penetapan pasangan calon perseorangan, KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat.&lt;br /&gt;(5) Partai politik atau gabungan partai politik pada saat mendaftarkan calon partai politik, wajib menyerahkan:&lt;br /&gt;a. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang bergabung;&lt;br /&gt;b. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon;&lt;br /&gt;c. surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung;&lt;br /&gt;d. surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan;&lt;br /&gt;e. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon;&lt;br /&gt;f. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;g. surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;h. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya;&lt;br /&gt;i. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR, DPD, dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah;&lt;br /&gt;j. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; dan&lt;br /&gt;k. visi, misi, dan program dari pasangan calon secara tertulis.&lt;br /&gt;(5a) Calon perseorangan pada saat mendaftar wajib menyerahkan:&lt;br /&gt;a. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pasangan calon perseorangan;&lt;br /&gt;b. berkas dukungan dalam bentuk pernyataan dukungan yang dilampiri dengan fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau surat keterangan tanda penduduk;&lt;br /&gt;c. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon;&lt;br /&gt;d. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;e. surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;f. surat pernyataan nonaktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah di daerah wilayah kerjanya;&lt;br /&gt;g. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR, DPD, dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah;&lt;br /&gt;h. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; dan&lt;br /&gt;i. visi, misi, dan program dari pasangan calon secara tertulis.&lt;br /&gt;(5b) Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5a) huruf b hanya diberikan kepada satu pasangan calon perseorangan.&lt;br /&gt;(6) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat mengusulkan satu pasangan calon dan pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya.&lt;br /&gt;(7) Masa pendaftaran pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pengumuman pendaftaran pasangan calon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Di antara Pasal 59 dan Pasal 60 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 59A, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 59A&lt;br /&gt;(1) Verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan untuk pemilihan gubernur/wakil gubernur dilakukan oleh KPU provinsi yang dibantu oleh KPU kabupaten/kota, PPK, dan PPS.&lt;br /&gt;(2) Verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan untuk pemilihan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota dilakukan oleh KPU kabupaten/kota yang dibantu oleh PPK dan PPS.&lt;br /&gt;(3) Bakal pasangan calon perseorangan untuk pemilihan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota menyerahkan daftar dukungan kepada PPS untuk dilakukan verifikasi paling lambat 21 (dua puluh satu) hari sebelum waktu pendaftaran pasangan calon dimulai.&lt;br /&gt;(4) Bakal pasangan calon perseorangan untuk pemilihan gubernur/wakil gubernur menyerahkan daftar dukungan kepada PPS untuk dilakukan verifikasi paling lambat 28 (dua puluh delapan) hari sebelum waktu pendaftaran pasangan calon dimulai.&lt;br /&gt;(5) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari sejak dokumen dukungan bakal pasangan calon perseorangan diserahkan.&lt;br /&gt;(6) Hasil verifikasi dukungan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dituangkan dalam berita acara, yang selanjutnya diteruskan kepada PPK dan salinan hasil verifikasi disampaikan kepada bakal pasangan calon.&lt;br /&gt;(7) PPK melakukan verifikasi dan rekapitulasi jumlah dukungan bakal pasangan calon untuk menghindari adanya seseorang yang memberikan dukungan kepada lebih dari satu bakal pasangan calon dan adanya informasi manipulasi dukungan yang dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari.&lt;br /&gt;(8) Hasil verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dituangkan dalam berita acara yang selanjutnya diteruskan kepada KPU kabupaten/kota dan salinan hasil verifikasi dan rekapitulasi disampaikan kepada bakal pasangan calon.&lt;br /&gt;(9) Dalam pemilihan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota, salinan hasil verifikasi dan rekapitulasi sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dipergunakan oleh bakal pasangan calon dari perseorangan sebagai bukti pemenuhan persyaratan dukungan pencalonan.&lt;br /&gt;(10) KPU kabupaten/kota melakukan verifikasi dan rekapitulasi jumlah dukungan bakal pasangan calon untuk menghindari adanya seseorang yang memberikan dukungan kepada lebih dari satu bakal pasangan calon dan adanya informasi manipulasi dukungan yang dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari.&lt;br /&gt;(11) Hasil verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dituangkan dalam berita acara yang selanjutnya diteruskan kepada KPU provinsi dan salinan hasil verifikasi dan rekapitulasi disampaikan kepada bakal pasangan calon untuk dipergunakan sebagai bukti pemenuhan persyaratan jumlah dukungan untuk pencalonan pemilihan gubernur/wakil gubernur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ketentuan Pasal 60 ayat (2), ayat (4), dan ayat (5) diubah, dan di antara ayat (3) dan ayat (4) disisipkan 3 (tiga) ayat, yakni ayat (3a), ayat (3b), dan ayat (3c), serta ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (6), sehingga Pasal 60 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 60&lt;br /&gt;(1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti persyaratan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kepada instansi pemerintah yang berwenang dan menerima masukan dari masyarakat terhadap persyaratan pasangan calon.&lt;br /&gt;(2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada calon partai politik dengan tembusan pimpinan partai politik, gabungan partai politik yang mengusulkan, atau calon perseorangan paling lama 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran.&lt;br /&gt;(3) Apabila pasangan calon partai politik atau gabungan partai politik belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59 ayat (5), partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau mengajukan calon baru paling lama 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3a) Apabila belum memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Pasal 59 ayat (5a) huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, dan huruf i, calon perseorangan diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon paling lama 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3b) Apabila belum memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (5a) huruf a, calon perseorangan diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon paling lama 14 (empat belas) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3c) Apabila calon perseorangan ditolak oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota karena tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 atau Pasal 59 ayat (5a), pasangan calon tidak dapat mencalonkan kembali.&lt;br /&gt;(4) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian ulang tentang kelengkapan dan/atau perbaikan persyaratan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (3a), dan ayat (3b) sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lama 14 (empat belas) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkannya atau calon perseorangan.&lt;br /&gt;(5) Apabila hasil penelitian berkas calon sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota, partai politik, gabungan partai politik, atau calon perseorangan tidak dapat lagi mengajukan calon.&lt;br /&gt;(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penelitian persyaratan administrasi pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan KPU."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ketentuan Pasal 62 ayat (1) diubah, dan di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 3 (tiga) ayat, yakni ayat (1a), ayat (1b), dan ayat (1c), serta ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (3), sehingga Pasal 62 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 62&lt;br /&gt;(1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya serta pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(1a) Pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(1b) Pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) dikenai sanksi tidak dapat mencalonkan diri atau dicalonkan oleh partai politik/gabungan partai politik sebagai calon kepala daerah/wakil kepala daerah untuk selamanya di seluruh wilayah Republik Indonesia.&lt;br /&gt;(1c) Apabila pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) setelah ditetapkan oleh KPU sebagai pasangan calon sehingga tinggal 1 (satu) pasang calon, pasangan calon tersebut dikenai sanksi sebagaimana diatur pada ayat (1b) dan denda sebesar Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).&lt;br /&gt;(2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), partai politik atau gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti.&lt;br /&gt;(3) Apabila pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1a), pasangan calon perseorangan dimaksud dinyatakan gugur dan tidak dapat diganti pasangan calon perseorangan lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ketentuan Pasal 63 ayat (1) dan ayat (3) diubah, dan di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (1a) dan ayat (1b), serta ditambah 4 (empat) ayat, yakni ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7), sehingga Pasal 63 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 63&lt;br /&gt;(1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon meninggal dunia sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye, partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meninggal dunia dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lama 3 (tiga) hari sejak pasangan calon meninggal dunia.&lt;br /&gt;(1a) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian persyaratan administrasi pasangan calon pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menetapkannya paling lama 4 (empat) hari terhitung sejak tanggal pendaftaran.&lt;br /&gt;(1b) Dalam hal salah seorang dari atau pasangan calon meninggal dunia sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan, KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota membuka kembali pendaftaran pengajuan pasangan calon paling lama 10 (sepuluh) hari.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon meninggal dunia pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih, tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang meninggal dunia tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon partai politik atau gabungan partai politik meninggal dunia pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara, calon kurang dari 2 (dua) pasangan tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lama 60 (enam puluh) hari.&lt;br /&gt;(4) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meninggal dunia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan pasangan calon pengganti paling lama 7 (tujuh) hari sejak pasangan calon meninggal dunia.&lt;br /&gt;(5) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian persyaratan administrasi usulan pasangan calon pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan menetapkannya paling lama 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak pendaftaran pasangan calon pengganti.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon perseorangan berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai dengan hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan, tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lama 60 (enam puluh) hari.&lt;br /&gt;(7) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota membuka kembali pendaftaran pengajuan pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) paling lama 30 (tiga puluh) hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ketentuan Pasal 64 ayat (2) diubah, dan ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (3), sehingga Pasal 64 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 64&lt;br /&gt;(1) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua, tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lama 30 (tiga puluh) hari.&lt;br /&gt;(2) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lama 4 (empat) hari terhitung sejak pendaftaran pasangan calon pengganti.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon perseorangan berhalangan tetap pada saat dimulainya pemungutan suara putaran kedua sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan, KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota menetapkan pasangan yang memperoleh suara terbanyak ketiga pada putaran pertama sebagai pasangan calon untuk putaran kedua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ketentuan Pasal 75 ayat (3) diubah, sehingga Pasal 75 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 75&lt;br /&gt;(1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;(2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara.&lt;br /&gt;(3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan atau oleh pasangan calon perseorangan.&lt;br /&gt;(4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon.&lt;br /&gt;(5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye.&lt;br /&gt;(6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon, yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye.&lt;br /&gt;(7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi, kabupaten/kota bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.&lt;br /&gt;(8) Dalam kampanye, rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye.&lt;br /&gt;(9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota dengan memperhatikan usul dari pasangan calon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ketentuan Pasal 107 ayat (2) dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 107 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 107&lt;br /&gt;(1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih.&lt;br /&gt;(2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30% (tiga puluh persen) dari jumlah suara sah, pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama, penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.&lt;br /&gt;(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi, atau tidak ada yang mencapai 30% (tiga puluh persen) dari jumlah suara sah, dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua.&lt;br /&gt;(5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon, kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua.&lt;br /&gt;(6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.&lt;br /&gt;(7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon, penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.&lt;br /&gt;(8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Di antara ayat (5) dan ayat (6) Pasal 108 disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (5a), sehingga Pasal 108 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 108&lt;br /&gt;(1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap, calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah.&lt;br /&gt;(2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap, calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah.&lt;br /&gt;(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.&lt;br /&gt;(5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap, partai politik, gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambat-lambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari.&lt;br /&gt;(5a) Dalam hal pasangan calon terpilih dari calon perseorangan berhalangan tetap, pasangan calon yang meraih suara terbanyak kedua dan ketiga diusulkan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lama 30 (tiga puluh) hari.&lt;br /&gt;(6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4), pemilihannya dilakukan selambat-lambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ketentuan Pasal 115 ditambah 3 (tiga) ayat, yakni ayat (7), ayat (8), dan ayat (9), sehingga Pasal 115 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 115&lt;br /&gt;(1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih, diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan denda paling sedikit Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).&lt;br /&gt;(2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan, diancam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).&lt;br /&gt;(3) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(4) Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan, menggunakannya, atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(5) Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam pemilihan kepala daerah menurut Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).&lt;br /&gt;(6) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(7) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan identitas diri palsu untuk mendukung bakal pasangan calon perseorangan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 diancam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).&lt;br /&gt;(8) Anggota PPS, anggota PPK, anggota KPU kabupaten/kota, dan anggota KPU provinsi yang dengan sengaja memalsukan daftar dukungan terhadap calon perseorangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(9) Anggota PPS, anggota PPK, anggota KPU kabupaten/kota, dan anggota KPU provinsi yang dengan sengaja tidak melakukan verifikasi dan rekapitulasi terhadap calon perseorangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Ketentuan Pasal 233 ayat (1) dihapus, ayat (2) diubah, dan ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (3), sehingga Pasal 233 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 233&lt;br /&gt;(1) Dihapus.&lt;br /&gt;(2) Pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada bulan November 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang ini paling lama pada bulan Oktober 2008.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal terjadi pemilihan kepala daerah putaran kedua, pemungutan suara diselenggarakan paling lama pada bulan Desember 2008."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Ketentuan Pasal 235 diubah dan ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (2), sehingga Pasal 235 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 235&lt;br /&gt;(1) Pemungutan suara dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota dalam satu daerah yang sama yang berakhir masa jabatannya pada tahun 2008 sampai dengan Juli 2009 dapat diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama.&lt;br /&gt;(2) Pemungutan suara dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota dalam satu daerah yang sama yang berakhir masa jabatannya dalam kurun waktu 90 (sembilan puluh) hari, setelah bulan Juli 2009 diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Di antara Pasal 236 dan Pasal 237 disisipkan 3 (tiga) pasal, yakni Pasal 236A, Pasal 236B, dan Pasal 236C, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 236A&lt;br /&gt;Dalam hal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah akan berlangsung sebelum terbentuknya panitia pengawas pemilihan oleh Badan Pengawas Pemilu, DPRD berwenang membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236B&lt;br /&gt;Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, kepala daerah/wakil kepala daerah yang sudah terdaftar sebagai calon kepala daerah/wakil kepala daerah tidak mengundurkan diri dari jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236C&lt;br /&gt;Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini diundangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Di antara Pasal 239 dan Pasal 240 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 239A, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 239A&lt;br /&gt;Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan Undang-Undang ini dinyatakan tidak berlaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 28 April 2008&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 28 April 2008&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDI MATTALATTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 12 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN KEDUA ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi lagi atas daerah kabupaten dan kota, yang masing-masing sebagai daerah otonom. Sebagai daerah otonom, daerah provinsi dan kabupaten/kota memiliki pemerintahan daerah yang melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan daerah, yakni Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kepala Daerah adalah Kepala Pemerintah Daerah baik di daerah provinsi maupun kabupaten/kota, yang merupakan eksekutif di daerah, sedangkan DPRD baik di daerah provinsi maupun daerah kabupaten/kota merupakan lembaga legislatif daerah.&lt;br /&gt;Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah diterapkan prinsip demokrasi. Sesuai dengan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945, kepala daerah dipilih secara demokratis. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, diatur mengenai pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik.&lt;br /&gt;Berdasarkan perkembangan hukum dan politik untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lebih efektif dan akuntabel sesuai dengan aspirasi masyarakat, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah perlu dilakukan secara lebih terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, perlu dilakukan perubahan dengan memberikan kesempatan bagi calon perseorangan untuk ikut serta dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 1&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan instansi vertikal di daerah dalam huruf b ini adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang mengurus urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada daerah dalam wilayah tertentu dalam rangka dekonsentrasi.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 2&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "membentuk" dalam ketentuan ini adalah termasuk pengajuan Rancangan Perda sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "perjanjian internasional" dalam ketentuan ini adalah perjanjian antar Pemerintah dengan pihak luar negeri yang terkait dengan kepentingan daerah.&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kerja sama internasional" dalam ketentuan ini adalah kerja sama daerah dengan pihak luar negeri yang meliputi kerja sama Kabupaten/Kota "kembar", kerja sama teknik termasuk bantuan kemanusiaan, kerja sama penerusan pinjaman/hibah, kerja sama penyertaan modal dan kerja sama lainnya sesuai dengan peraturan perundangan.&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "laporan keterangan pertanggungjawaban" dalam ketentuan ini adalah laporan yang disampaikan oleh kepala daerah setiap tahun dalam sidang Paripurna DPRD yang berkaitan dengan penyelenggaraan tugas otonomi dan tugas pembantuan.&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Huruf j&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf k&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "tugas dan wewenang" sebagaimana yang diatur pada ayat (2) antara lain Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 3&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 4&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "bertakwa" dalam ketentuan ini dalam arti taat menjalankan kewajiban agamanya.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;-   Yang dimaksud dengan "setia" dalam ketentuan ini adalah tidak pernah terlibat gerakan separatis, tidak pernah melakukan gerakan secara inkonstitusional atau dengan kekerasan untuk mengubah Dasar Negara serta tidak pernah melanggar Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;-   Yang dimaksud dengan "setia kepada pemerintah" dalam ketentuan ini adalah yang mengakui pemerintah yang sah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat" dalam ketentuan ini dibuktikan dengan surat tanda tamat belajar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;Ketentuan ini tidak dimaksudkan harus dengan memiliki Kartu Tanda Penduduk daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf j&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf k&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf l&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Huruf m&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf n&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf o&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf p&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf q&lt;br /&gt;Pengunduran diri dari jabatannya berlaku bagi:&lt;br /&gt;a. kepala daerah yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi kepala daerah di daerah sendiri atau di daerah lain;&lt;br /&gt;b. wakil kepala daerah yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi kepala daerah di daerah sendiri atau di daerah lain;&lt;br /&gt;c. wakil kepala daerah yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi wakil kepala daerah di daerah sendiri atau di daerah lain;&lt;br /&gt;d. bupati atau walikota yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi gubernur atau wakil gubernur; dan&lt;br /&gt;e. wakil bupati atau wakil walikota yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi gubernur atau wakil gubernur.&lt;br /&gt;Pengunduran diri gubernur dan wakil gubernur dibuktikan dengan menyerahkan surat pernyataan pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali disertai dengan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden, sedangkan keputusan Presiden tentang pemberhentian yang bersangkutan sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah disampaikan kepada KPU provinsi selambat-lambatnya pada saat ditetapkan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur.&lt;br /&gt;Pengunduran diri bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota dibuktikan dengan menyerahkan surat pernyataan pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali disertai dengan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri, sedangkan keputusan Menteri Dalam Negeri tentang pemberhentian yang bersangkutan sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah disampaikan kepada KPU kabupaten/kota selambat-lambatnya pada saat ditetapkan sebagai calon bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 5&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pasangan calon" adalah calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan sebagai satu kesatuan.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pasangan calon" adalah calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan sebagai satu kesatuan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2a)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2b)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2c)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2d)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2e)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4a)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pimpinan partai politik" adalah ketua dan sekretaris partai politik atau sebutan pimpinan lainnya sesuai dengan kewenangan berdasarkan anggaran dasar/anggaran rumah tangga partai politik yang bersangkutan, sesuai dengan tingkat daerah pencalonannya.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf j&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf k&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5a)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5b)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 6&lt;br /&gt;Pasal 59A&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "verifikasi" adalah penelitian keabsahan surat pernyataan dukungan, fotokopi kartu tanda penduduk atau surat keterangan tanda penduduk, pembuktian tidak adanya dukungan ganda, tidak adanya pendukung yang telah meninggal dunia, tidak adanya pendukung yang sudah tidak lagi menjadi penduduk di wilayah yang bersangkutan, atau tidak adanya pendukung yang tidak mempunyai hak pilih.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Hasil verifikasi mencantumkan jumlah dukungan yang memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (9)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (10)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (11)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 7&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 8&lt;br /&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 9&lt;br /&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 10&lt;br /&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 11&lt;br /&gt;Pasal 75&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 12&lt;br /&gt;Pasal 107&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;-   Yang dimaksud dengan peroleh suara yang lebih luas adalah pasangan calon yang unggul di lebih banyak jumlah kabupaten/kota untuk calon Gubernur dan wakil Gubernur, pasangan calon yang unggul di lebih banyak jumlah kecamatan untuk calon Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan wakil Walikota.&lt;br /&gt;-   Apabila diperoleh persebaran yang sama pada tingkat kabupaten/kota untuk Gubernur dan wakil Gubernur, pasangan calon terpilih ditentukan berdasarkan persebaran tingkat kecamatan, kelurahan/desa, dan seterusnya. Hal yang sama berlaku untuk penetapan pasangan calon Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan wakil Walikota.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 13&lt;br /&gt;Pasal 108&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Calon yang diajukan untuk dipilih oleh DPRD dalam ketentuan ini harus memenuhi persyaratan yang diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;Ayat (5a)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "berhalangan tetap" adalah meninggal dunia, sakit permanen yang mengakibatkan baik fisik maupun mental tidak berfungsi secara normal yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang, dan/atau tidak diketahui keberadaannya.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 14&lt;br /&gt;Pasal 115&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 15&lt;br /&gt;Pasal 233&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 16&lt;br /&gt;Pasal 235&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 17&lt;br /&gt;Pasal 236A&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236B&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236C&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 18&lt;br /&gt;Pasal 239A&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-5171165679343558097?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/5171165679343558097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-republik-indonesia-nomor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5171165679343558097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5171165679343558097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-republik-indonesia-nomor.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-8928159527052326014</id><published>2009-09-21T18:14:00.001-07:00</published><updated>2009-09-21T18:16:16.338-07:00</updated><title type='text'>UU NO 14 Th 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK</title><content type='html'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NOMOR 14 TAHUN 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. bahwa informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya serta merupakan bagian penting bagi ketahanan nasional;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. bahwa hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik; c. bahwa keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan Badan Publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik; d. bahwa pengelolaan informasi publik merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat informasi; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang Keterbukaan Informasi Publik; Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 F, dan Pasal 28 J Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M E M U T U S K A N:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik. 2. Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. 3. Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri. 4. Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi. 5. Sengketa Informasi Publik adalah sengketa yang terjadi antara badan publik dan pengguna informasi publik yang berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakan informasi berdasarkan perundang- undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mediasi adalah penyelesaian sengketa informasi publik antara para pihak melalui bantuan mediator komisi informasi. 7. Ajudikasi adalah proses penyelesaian sengketa informasi publik antara para pihak yang diputus oleh komisi informasi. 8. Pejabat Publik adalah orang yang ditunjuk dan diberi tugas untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu pada badan publik. 9. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi adalah pejabat yang bertanggung jawab di bidang penyimpanan, pendokumentasian, penyediaan, dan/atau pelayanan informasi di badan publik. 10. Orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, badan hukum, atau badan publik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. 11. Pengguna Informasi Publik adalah orang yang menggunakan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. 12. Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permintaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. BAB II ASAS DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Asas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. (2) Informasi Publik yang dikecualikan bersifat ketat dan terbatas. (3) Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Informasi Publik yang dikecualikan bersifat rahasia sesuai dengan Undang-Undang, kepatutan, dan kepentingan umum didasarkan pada pengujian tentang konsekuensi yang timbul apabila suatu informasi diberikan kepada masyarakat serta setelah dipertimbangkan dengan saksama bahwa menutup Informasi Publik dapat melindungi kepentingan yang lebih besar daripada membukanya atau sebaliknya. Bagian Kedua Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik; b. mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik; c. meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik; d. mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan; e. mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak; f. mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa; dan/atau g. meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan Badan Publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III HAK DAN KEWAJIBAN PEMOHON DAN PENGGUNA INFORMASI PUBLIK SERTA HAK DAN KEWAJIBAN BADAN PUBLIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Hak Pemohon Informasi Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang berhak memperoleh Informasi Publik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini. (2) Setiap Orang berhak: a. melihat dan mengetahui Informasi Publik; b. menghadiri pertemuan publik yang terbuka untuk umum untuk memperoleh Informasi Publik; c. mendapatkan salinan Informasi Publik melalui permohonan sesuai dengan Undang-Undang ini; dan/atau d. menyebarluaskan Informasi Publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Setiap Pemohon Informasi Publik berhak mengajukan permintaan Informasi Publik disertai alasan permintaan tersebut. (4) Setiap Pemohon Informasi Publik berhak mengajukan gugatan ke pengadilan apabila dalam memperoleh Informasi Publik mendapat hambatan atau kegagalan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini. Bagian Kedua Kewajiban Pengguna Informasi Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pengguna Informasi Publik wajib menggunakan Informasi Publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pengguna Informasi Publik wajib mencantumkan sumber dari mana ia memperoleh Informasi Publik, baik yang digunakan untuk kepentingan sendiri maupun untuk keperluan publikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Ketiga Hak Badan Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Badan Publik berhak menolak memberikan informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Badan Publik berhak menolak memberikan Informasi Publik apabila tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Informasi Publik yang tidak dapat diberikan oleh Badan Publik, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. informasi yang dapat membahayakan negara; b. informasi yang berkaitan dengan kepentingan perlindungan usaha dari persaingan usaha tidak sehat; c. informasi yang berkaitan dengan hak-hak pribadi; d. informasi yang berkaitan dengan rahasia jabatan; dan/atau e. Informasi Publik yang diminta belum dikuasai atau didokumentasikan. Bagian Keempat Kewajiban Badan Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan. (2) Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan. (3) Untuk melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) , Badan Publik harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola Informasi Publik secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Badan Publik wajib membuat pertimbangan secara tertulis setiap kebijakan yang diambil untuk memenuhi hak setiap Orang atas Informasi Publik. (5) Pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) antara lain memuat pertimbangan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau pertahanan dan keamanan negara. (6) Dalam rangka memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) Badan Publik dapat memanfaatkan sarana dan/atau media elektronik dan nonelektronik. Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban Badan Publik yang berkaitan dengan kearsipan dan pendokumentasian Informasi Publik dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV INFORMASI YANG WAJIB DISEDIAKAN DAN DIUMUMKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap Badan Publik wajib mengumumkan Informasi Publik secara berkala. (2) Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. informasi yang berkaitan dengan Badan Publik; b. informasi mengenai kegiatan dan kinerja Badan Publik terkait; c. informasi mengenai laporan keuangan; dan/atau d. informasi lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. (3) Kewajiban memberikan dan menyampaikan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 6 (enam) bulan sekali. (4) Kewajiban menyebarluaskan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) , disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam bahasa yang mudah dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Cara-cara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditentukan lebih lanjut oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di Badan Publik terkait. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Badan Publik memberikan dan menyampaikan Informasi Publik secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) , ayat (2) , dan ayat (3) diatur dengan Petunjuk Teknis Komisi Informasi. Bagian Kedua Informasi yang Wajib Diumumkan secara Serta-merta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Badan Publik wajib mengumumkan secara serta- merta suatu informasi yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum. (2) Kewajiban menyebarluaskan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam bahasa yang mudah dipahami. Bagian Ketiga Informasi yang Wajib Tersedia Setiap Saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik setiap saat yang meliputi: a. daftar seluruh Informasi Publik yang berada di bawah penguasaannya, tidak termasuk informasi yang dikecualikan; b. hasil keputusan Badan Publik dan pertimbangannya; c. seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya; d. rencana kerja proyek termasuk di dalamnya perkiraan pengeluaran tahunan Badan Publik; e. perjanjian Badan Publik dengan pihak ketiga; f. informasi dan kebijakan yang disampaikan Pejabat Publik dalam pertemuan yang terbuka untuk umum; g. prosedur kerja pegawai Badan Publik yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat; dan/atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. laporan mengenai pelayanan akses Informasi Publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (2) Informasi Publik yang telah dinyatakan terbuka bagi masyarakat berdasarkan mekanisme keberatan dan/atau penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48, Pasal 49, dan Pasal 50 dinyatakan sebagai Informasi Publik yang dapat diakses oleh Pengguna Informasi Publik. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban Badan Publik menyediakan Informasi Publik yang dapat diakses oleh Pengguna Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Petunjuk Teknis Komisi Informasi. Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun Badan Publik wajib mengumumkan layanan informasi, yang meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. jumlah permintaan informasi yang diterima; b. waktu yang diperlukan Badan Publik dalam memenuhi setiap permintaan informasi; c. jumlah pemberian dan penolakan permintaan informasi; dan/atau d. alasan penolakan permintaan informasi. Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Untuk mewujudkan pelayanan cepat, tepat, dan sederhana setiap Badan Publik: a. menunjuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi; dan b. membuat dan mengembangkan sistem penyediaan layanan informasi secara cepat, mudah, dan wajar sesuai dengan petunjuk teknis standar layanan Informasi Publik yang berlaku secara nasional. (2) Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh pejabat fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Publik yang wajib disediakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah dan/atau badan usaha lainnya yang dimiliki oleh negara dalam Undang- Undang ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. nama dan tempat kedudukan, maksud dan tujuan serta jenis kegiatan usaha, jangka waktu pendirian, dan permodalan, sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar; b. nama lengkap pemegang saham, anggota direksi, dan anggota dewan komisaris perseroan; c. laporan tahunan, laporan keuangan, neraca laporan laba rugi, dan laporan tanggung jawab sosial perusahaan yang telah diaudit; d. hasil penilaian oleh auditor eksternal, lembaga pemeringkat kredit dan lembaga pemeringkat lainnya; e. sistem dan alokasi dana remunerasi anggota komisaris/dewan pengawas dan direksi; f. mekanisme penetapan direksi dan komisaris/dewan pengawas; g. kasus hukum yang berdasarkan Undang-Undang terbuka sebagai Informasi Publik; h. pedoman pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran; i. pengumuman penerbitan efek yang bersifat utang; j. penggantian akuntan yang mengaudit perusahaan; k. perubahan tahun fiskal perusahaan; l. kegiatan penugasan pemerintah dan/atau kewajiban pelayanan umum atau subsidi; m. mekanisme pengadaan barang dan jasa; dan/atau n. informasi lain yang ditentukan oleh Undang-Undang yang berkaitan dengan Badan Usaha Milik Negara/ Badan Usaha Milik Daerah. Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Publik yang wajib disediakan oleh partai politik dalam Undang-Undang ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. asas dan tujuan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. program umum dan kegiatan partai politik; c. nama, alamat dan susunan kepengurusan dan perubahannya; d. pengelolaan dan penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; e. mekanisme pengambilan keputusan partai; f. keputusan partai yang berasal dari hasil muktamar/kongres/munas dan/atau keputusan lainnya yang menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai terbuka untuk umum; dan/atau g. informasi lain yang ditetapkan oleh Undang-Undang yang berkaitan dengan partai politik. Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Publik yang wajib disediakan oleh organisasi nonpemerintah dalam Undang-Undang ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. asas dan tujuan; b. program dan kegiatan organisasi; c. nama, alamat, susunan kepengurusan, dan perubahannya; d. pengelolaan dan penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau sumber luar negeri; e. mekanisme pengambilan keputusan organisasi; f. keputusan-keputusan organisasi; dan/atau g. informasi lain yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. BAB V INFORMASI YANG DIKECUALIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Badan Publik wajib membuka akses bagi setiap Pemohon Informasi Publik untuk mendapatkan Informasi Publik, kecuali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat menghambat proses penegakan hukum, yaitu informasi yang dapat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. menghambat proses penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana; 2. mengungkapkan identitas informan, pelapor, saksi, dan/atau korban yang mengetahui adanya tindak pidana; 3. mengungkapkan data intelijen kriminal dan rencana-rencana yang berhubungan dengan pencegahan dan penanganan segala bentuk kejahatan transnasional; 4. membahayakan keselamatan dan kehidupan penegak hukum dan/atau keluarganya; dan/atau 5. membahayakan keamanan peralatan, sarana, dan/atau prasarana penegak hukum. b. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat; c. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat membahayakan pertahanan dan keamanan negara, yaitu: 1. informasi tentang strategi, intelijen, operasi, taktik dan teknik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi dalam kaitan dengan ancaman dari dalam dan luar negeri; 2. dokumen yang memuat tentang strategi, intelijen, operasi, teknik dan taktik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi; 3. jumlah, komposisi, disposisi, atau dislokasi kekuatan dan kemampuan dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana pengembangannya; 4. gambar dan data tentang situasi dan keadaan pangkalan dan/atau instalasi militer;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. data perkiraan kemampuan militer dan pertahanan negara lain terbatas pada segala tindakan dan/atau indikasi negara tersebut yang dapat membahayakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/atau data terkait kerjasama militer dengan negara lain yang disepakati dalam perjanjian tersebut sebagai rahasia atau sangat rahasia; 6. sistem persandian negara; dan/atau 7. sistem intelijen negara. d. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkapkan kekayaan alam Indonesia; e. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional: 1. rencana awal pembelian dan penjualan mata uang nasional atau asing, saham dan aset vital milik negara; 2. rencana awal perubahan nilai tukar, suku bunga, dan model operasi institusi keuangan; 3. rencana awal perubahan suku bunga bank, pinjaman pemerintah, perubahan pajak, tarif, atau pendapatan negara/daerah lainnya; 4. rencana awal penjualan atau pembelian tanah atau properti; 5. rencana awal investasi asing; 6. proses dan hasil pengawasan perbankan, asuransi, atau lembaga keuangan lainnya; dan/atau 7. hal-hal yang berkaitan dengan proses pencetakan uang. f. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan kepentingan hubungan luar negeri: 1. posisi, daya tawar dan strategi yang akan dan telah diambil oleh negara dalam hubungannya dengan negosiasi internasional; 2. korespondensi diplomatik antarnegara; 3. sistem komunikasi dan persandian yang dipergunakan dalam menjalankan hubungan internasional; dan/atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. perlindungan dan pengamanan infrastruktur strategis Indonesia di luar negeri. g. Informasi Publik yang apabila dibuka dapat mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang; h. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi, yaitu: 1. riwayat dan kondisi anggota keluarga; 2. riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang; 3. kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang; 4. hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi kemampuan seseorang; dan/atau 5. catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal. i. memorandum atau surat-surat antar Badan Publik atau intra Badan Publik, yang menurut sifatnya dirahasiakan kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan; j. informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan Undang-Undang. Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Tidak termasuk dalam kategori informasi yang dikecualikan adalah informasi berikut: a. putusan badan peradilan; b. ketetapan, keputusan, peraturan, surat edaran, ataupun bentuk kebijakan lain, baik yang tidak berlaku mengikat maupun mengikat ke dalam ataupun ke luar serta pertimbangan lembaga penegak hukum; c. surat perintah penghentian penyidikan atau penuntutan; d. rencana pengeluaran tahunan lembaga penegak hukum; e. laporan keuangan tahunan lembaga penegak hukum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. laporan hasil pengembalian uang hasil korupsi; dan/atau g. informasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) . (2) Tidak termasuk informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf g dan huruf h, antara lain apabila : a. pihak yang rahasianya diungkap memberikan persetujuan tertulis; dan/atau b. pengungkapan berkaitan dengan posisi seseorang dalam jabatan-jabatan publik. (3) Dalam hal kepentingan pemeriksaan perkara pidana di pengadilan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Agung, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, dan/atau Pimpinan Lembaga Negara Penegak Hukum lainnya yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang dapat membuka informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf i, dan huruf j. (4) Pembukaan informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan cara mengajukan permintaan izin kepada Presiden. (5) Permintaan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) untuk kepentingan pemeriksaan perkara perdata yang berkaitan dengan keuangan atau kekayaan negara di pengadilan, permintaan izin diajukan oleh Jaksa Agung sebagai pengacara negara kepada Presiden. (6) Izin tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) , ayat (4) , dan ayat (5) diberikan oleh Presiden kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jaksa Agung, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Pimpinan Lembaga Negara Penegak Hukum lainnya, atau Ketua Mahkamah Agung. (7) Dengan mempertimbangkan kepentingan pertahanan dan keamanan negara dan kepentingan umum, Presiden dapat menolak permintaan informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) , ayat (4) , dan ayat (5) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di setiap Badan Publik wajib melakukan pengujian tentang konsekuensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dengan saksama dan penuh ketelitian sebelum menyatakan Informasi Publik tertentu dikecualikan untuk diakses oleh setiap Orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f tidak bersifat permanen. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai jangka waktu pengecualian diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VI MEKANISME MEMPEROLEH INFORMASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme untuk memperoleh Informasi Publik didasarkan pada prinsip cepat, tepat waktu, dan biaya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan permintaan untuk memperoleh Informasi Publik kepada Badan Publik terkait secara tertulis atau tidak tertulis. (2) Badan Publik wajib mencatat nama dan alamat Pemohon Informasi Publik, subjek dan format informasi serta cara penyampaian informasi yang diminta oleh Pemohon Informasi Publik. (3) Badan Publik yang bersangkutan wajib mencatat permintaan Informasi Publik yang diajukan secara tidak tertulis. (4) Badan Publik terkait wajib memberikan tanda bukti penerimaan permintaan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) berupa nomor pendaftaran pada saat permintaan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Dalam hal permintaan disampaikan secara langsung atau melalui surat elektronik, nomor pendaftaran diberikan saat penerimaan permintaan. (6) Dalam hal permintaan disampaikan melalui surat, pengiriman nomor pendaftaran dapat diberikan bersamaan dengan pengiriman informasi. (7) Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik yang bersangkutan wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis yang berisikan : a. informasi yang diminta berada di bawah penguasaannya ataupun tidak; b. Badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta; c. penerimaan atau penolakan permintaan dengan alasan yang tercantum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17; d. dalam hal permintaan diterima seluruhnya atau sebagian dicantumkan materi informasi yang akan diberikan; e. dalam hal suatu dokumen mengandung materi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka informasi yang dikecualikan tersebut dapat dihitamkan dengan disertai alasan dan materinya; f. alat penyampai dan format informasi yang akan diberikan; dan/atau g. biaya serta cara pembayaran untuk memperoleh informasi yang diminta. (8) Badan Publik yang bersangkutan dapat memperpanjang waktu untuk mengirimkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) , paling lambat 7 (tujuh) hari kerja berikutnya dengan memberikan alasan secara tertulis. (9) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara permintaan informasi kepada Badan Publik diatur oleh Komisi Informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII KOMISI INFORMASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Fungsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya menetapkan petunjuk teknis standar layanan Informasi Publik dan menyelesaikan Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua Kedudukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Komisi Informasi terdiri atas Komisi Informasi Pusat, Komisi Informasi provinsi, dan jika dibutuhkan Komisi Informasi kabupaten/kota. (2) Komisi Informasi Pusat berkedudukan di ibu kota Negara. (3) Komisi Informasi provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi dan Komisi Informasi kabupaten/kota berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota. Bagian Ketiga Susunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Anggota Komisi Informasi Pusat berjumlah 7 (tujuh) orang yang mencerminkan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. (2) Anggota Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota berjumlah 5 (lima) orang yang mencerminkan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. (3) Komisi Informasi dipimpin oleh seorang ketua merangkap anggota dan didampingi oleh seorang wakil ketua merangkap anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Ketua dan wakil ketua dipilih dari dan oleh para anggota Komisi Informasi. (5) Pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan musyawarah seluruh anggota Komisi Informasi dan apabila tidak tercapai kesepakatan dilakukan pemungutan suara. Bagian Keempat Tugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Komisi Informasi bertugas: a. menerima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi Publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini; b. menetapkan kebijakan umum pelayanan Informasi Publik; dan c. menetapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. (2) Komisi Informasi Pusat bertugas: a. menetapkan prosedur pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi; b. menerima, memeriksa, dan memutus Sengketa Informasi Publik di daerah selama Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota belum terbentuk; dan c. memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya berdasarkan Undang-Undang ini kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia setahun sekali atau sewaktu- waktu jika diminta. (3) Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota bertugas menerima, memeriksa, dan memutus Sengketa Informasi Publik di daerah melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kelima Wewenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam menjalankan tugasnya, Komisi Informasi memiliki wewenang: a. memanggil dan/atau mempertemukan para pihak yang bersengketa; b. meminta catatan atau bahan yang relevan yang dimiliki oleh Badan Publik terkait untuk mengambil keputusan dalam upaya menyelesaikan Sengketa Informasi Publik; c. meminta keterangan atau menghadirkan pejabat Badan Publik ataupun pihak yang terkait sebagai saksi dalam penyelesaian Sengketa Informasi Publik; d. mengambil sumpah setiap saksi yang didengar keterangannya dalam Ajudikasi nonlitigasi penyelesaian Sengketa Informasi Publik; dan e. membuat kode etik yang diumumkan kepada publik sehingga masyarakat dapat menilai kinerja Komisi Informasi. (2) Kewenangan Komisi Informasi Pusat meliputi kewenangan penyelesaian Sengketa Informasi Publik yang menyangkut Badan Publik pusat dan Badan Publik tingkat provinsi dan/atau Badan Publik tingkat kabupaten/kota selama Komisi Informasi di provinsi atau Komisi Informasi kabupaten/kota tersebut belum terbentuk. (3) Kewenangan Komisi Informasi provinsi meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi yang bersangkutan. (4) Kewenangan Komisi Informasi kabupaten/kota meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Keenam Pertanggungjawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Komisi Informasi Pusat bertanggung jawab kepada Presiden dan menyampaikan laporan tentang pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (2) Komisi Informasi provinsi bertanggung jawab kepada gubernur dan menyampaikan laporan tentang pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi yang bersangkutan. (3) Komisi Informasi kabupaten/kota bertanggung jawab kepada bupati/walikota dan menyampaikan laporan tentang pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/ kota yang bersangkutan. (4) Laporan lengkap Komisi Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) , ayat (2) , dan ayat (3) bersifat terbuka untuk umum. Bagian Ketujuh Sekretariat dan Penatakelolaan Komisi Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dukungan administratif, keuangan, dan tata kelola Komisi Informasi dilaksanakan oleh sekretariat komisi. (2) Sekretariat Komisi Informasi dilaksanakan oleh Pemerintah. (3) Sekretariat Komisi Informasi Pusat dipimpin oleh sekretaris yang ditetapkan oleh Menteri yang tugas dan wewenangnya di bidang komunikasi dan informatika berdasarkan usulan Komisi Informasi. (4) Sekretariat Komisi Informasi provinsi dilaksanakan oleh pejabat yang tugas dan wewenangnya di bidang komunikasi dan informasi di tingkat provinsi yang bersangkutan. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Sekretariat Komisi Informasi kabupaten/kota dilaksanakan oleh pejabat yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang komunikasi dan informasi di tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. (6) Anggaran Komisi Informasi Pusat dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, anggaran Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Bagian Kedelapan Pengangkatan dan Pemberhentian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Syarat-syarat pengangkatan anggota Komisi Informasi: a. warga negara Indonesia; b. memiliki integritas dan tidak tercela; c. tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana 5 (lima) tahun atau lebih; d. memiliki pengetahuan dan pemahaman di bidang keterbukaan Informasi Publik sebagai bagian dari hak asasi manusia dan kebijakan publik; e. memiliki pengalaman dalam aktivitas Badan Publik; f. bersedia melepaskan keanggotaan dan jabatannya dalam Badan Publik apabila diangkat menjadi anggota Komisi Informasi; g. bersedia bekerja penuh waktu; h. berusia paling rendah 35 (tiga puluh lima) tahun; dan i. sehat jiwa dan raga. (2) Rekrutmen calon anggota Komisi Informasi dilaksanakan oleh Pemerintah secara terbuka, jujur, dan objektif. (3) Daftar calon anggota Komisi Informasi wajib diumumkan kepada masyarakat. (4) Setiap Orang berhak mengajukan pendapat dan penilaian terhadap calon anggota Komisi Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan disertai alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Calon anggota Komisi Informasi Pusat hasil rekrutmen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia oleh Presiden sejumlah 21 (dua puluh satu) orang calon. (2) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memilih anggota Komisi Informasi Pusat melalui uji kepatutan dan kelayakan. (3) Anggota Komisi Informasi Pusat yang telah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia selanjutnya ditetapkan oleh Presiden. Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Calon anggota Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota hasil rekrutmen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan/atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota oleh gubernur dan/atau bupati/walikota paling sedikit 10 (sepuluh) orang calon dan paling banyak 15 (lima belas) orang calon. (2) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan/atau kabupaten/kota memilih anggota Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota melalui uji kepatutan dan kelayakan. (3) Anggota Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota yang telah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan/atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota selanjutnya ditetapkan oleh gubernur dan/atau bupati/walikota. Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Komisi Informasi diangkat untuk masa jabatan 4 (empat) tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu periode berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pemberhentian anggota Komisi Informasi dilakukan berdasarkan keputusan Komisi Informasi sesuai dengan tingkatannya dan diusulkan kepada Presiden untuk Komisi Informasi Pusat, kepada gubernur untuk Komisi Informasi provinsi, dan kepada bupati/walikota untuk Komisi Informasi kabupaten/kota untuk ditetapkan. (2) Anggota Komisi Informasi berhenti atau diberhentikan karena: a. meninggal dunia; b. telah habis masa jabatannya; c. mengundurkan diri; d. dipidana dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara; e. sakit jiwa dan raga dan/atau sebab lain yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugas 1 (satu) tahun berturut-turut; atau f. melakukan tindakan tercela dan/atau melanggar kode etik, yang putusannya ditetapkan oleh Komisi Informasi. (3) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Keputusan Presiden untuk Komisi Informasi Pusat, keputusan gubernur untuk Komisi Informasi provinsi, dan/atau keputusan bupati/walikota untuk Komisi Informasi kabupaten/kota. (4) Pergantian antarwaktu anggota Komisi Informasi dilakukan oleh Presiden setelah berkonsultasi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk Komisi Informasi Pusat, oleh gubernur setelah berkonsultasi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi untuk Komisi Informasi provinsi, dan oleh bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota untuk Komisi Informasi kabupaten/kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Anggota Komisi Informasi pengganti antarwaktu diambil dari urutan berikutnya berdasarkan hasil uji kelayakan dan kepatutan yang telah dilaksanakan sebagai dasar pengangkatan anggota Komisi Informasi pada periode dimaksud. BAB VIII KEBERATAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI KOMISI INFORMASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Keberatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi berdasarkan alasan berikut: a. penolakan atas permintaan informasi berdasarkan alasan pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17; b. tidak disediakannya informasi berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9; c. tidak ditanggapinya permintaan informasi; d. permintaan informasi ditanggapi tidak sebagaimana yang diminta; e. tidak dipenuhinya permintaan informasi; f. pengenaan biaya yang tidak wajar; dan/atau g. penyampaian informasi yang melebihi waktu yang diatur dalam Undang-Undang ini. (2) Alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sampai dengan huruf g dapat diselesaikan secara musyawarah oleh kedua belah pihak. Pasal 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Keberatan diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah ditemukannya alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) . (2) Atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Alasan tertulis disertakan bersama tanggapan apabila atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) menguatkan putusan yang ditetapkan oleh bawahannya. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Melalui Komisi Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan kepada Komisi Informasi Pusat dan/atau Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya apabila tanggapan atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi dalam proses keberatan tidak memuaskan Pemohon Informasi Publik. (2) Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya tanggapan tertulis dari atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) . Pasal 38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Komisi Informasi Pusat dan Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota harus mulai mengupayakan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik. (2) Proses penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat dapat diselesaikan dalam waktu 100 (seratus) hari kerja. Pasal 39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putusan Komisi Informasi yang berasal dari kesepakatan melalui Mediasi bersifat final dan mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX HUKUM ACARA KOMISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Mediasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Penyelesaian sengketa melalui Mediasi merupakan pilihan para pihak dan bersifat sukarela. (2) Penyelesaian sengketa melalui Mediasi hanya dapat dilakukan terhadap pokok perkara yang terdapat dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, dan huruf g. (3) Kesepakatan para pihak dalam proses Mediasi dituangkan dalam bentuk putusan Mediasi Komisi Informasi. Pasal 41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses Mediasi anggota Komisi Informasi berperan sebagai mediator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua Ajudikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Ajudikasi nonlitigasi oleh Komisi Informasi hanya dapat ditempuh apabila upaya Mediasi dinyatakan tidak berhasil secara tertulis oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa, atau salah satu atau para pihak yang bersengketa menarik diri dari perundingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Sidang Komisi Informasi yang memeriksa dan memutus perkara paling sedikit 3 (tiga) orang anggota komisi atau lebih dan harus berjumlah gasal. (2) Sidang Komisi Informasi bersifat terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Dalam hal pemeriksaan yang berkaitan dengan dokumen-dokumen yang termasuk dalam pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka sidang pemeriksaan perkara bersifat tertutup. (4) Anggota Komisi Informasi wajib menjaga rahasia dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) . Bagian Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam hal Komisi Informasi menerima permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik, Komisi Informasi memberikan salinan permohonan tersebut kepada pihak termohon. (2) Pihak termohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pimpinan Badan Publik atau pejabat terkait yang ditunjuk yang didengar keterangannya dalam proses pemeriksaan. (3) Dalam hal pihak termohon sebagaimana dimaksud pada ayat (2) , Komisi Informasi dapat memutus untuk mendengar keterangan tersebut secara lisan ataupun tertulis. (4) Pemohon Informasi Publik dan termohon dapat mewakilkan kepada wakilnya yang secara khusus dikuasakan untuk itu. Bagian Keempat Pembuktian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Badan Publik harus membuktikan hal-hal yang mendukung pendapatnya apabila menyatakan tidak dapat memberikan informasi dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 35 ayat (1) huruf a. (2) Badan Publik harus menyampaikan alasan yang mendukung sikapnya apabila Pemohon Informasi Publik mengajukan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik sebagaimana diatur dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b sampai dengan huruf g.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kelima Putusan Komisi Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Putusan Komisi Informasi tentang pemberian atau penolakan akses terhadap seluruh atau sebagian informasi yang diminta berisikan salah satu perintah di bawah ini: a. membatalkan putusan atasan Badan Publik dan memutuskan untuk memberikan sebagian atau seluruh informasi yang diminta oleh Pemohon Informasi Publik sesuai dengan keputusan Komisi Informasi; atau b. mengukuhkan putusan atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi untuk tidak memberikan informasi yang diminta sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. (2) Putusan Komisi Informasi tentang pokok keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b sampai dengan huruf g, berisikan salah satu perintah di bawah ini: a. memerintahkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi untuk menjalankan kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini; b. memerintahkan Badan Publik untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu pemberian informasi sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini; atau c. mengukuhkan pertimbangan atasan Badan Publik atau memutuskan mengenai biaya penelusuran dan/atau penggandaan informasi. (3) Putusan Komisi Informasi diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum, kecuali putusan yang menyangkut informasi yang dikecualikan. (4) Komisi Informasi wajib memberikan salinan putusannya kepada para pihak yang bersengketa. (5) Apabila ada anggota komisi yang dalam memutus suatu perkara memiliki pendapat yang berbeda dari putusan yang diambil, pendapat anggota komisi tersebut dilampirkan dalam putusan dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari putusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X GUGATAN KE PENGADILAN DAN KASASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu Gugatan ke Pengadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pengajuan gugatan dilakukan melalui pengadilan tata usaha negara apabila yang digugat adalah Badan Publik negara. (2) Pengajuan gugatan dilakukan melalui pengadilan negeri apabila yang digugat adalah Badan Publik selain Badan Publik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . Pasal 48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pengajuan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat ditempuh apabila salah satu atau para pihak yang bersengketa secara tertulis menyatakan tidak menerima putusan Ajudikasi dari Komisi Informasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya putusan tersebut. (2) Sepanjang menyangkut informasi yang dikecualikan, sidang di Komisi Informasi dan di pengadilan bersifat tertutup. Pasal 49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Putusan pengadilan tata usaha negara atau pengadilan negeri dalam penyelesaian Sengketa Informasi Publik tentang pemberian atau penolakan akses terhadap seluruh atau sebagian informasi yang diminta berisi salah satu perintah berikut: a. membatalkan putusan Komisi Informasi dan/atau memerintahkan Badan Publik: 1. memberikan sebagian atau seluruh informasi yang dimohonkan oleh Pemohon Informasi Publik; atau 2. menolak memberikan sebagian atau seluruh informasi yang diminta oleh Pemohon Informasi Publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. menguatkan putusan Komisi Informasi dan/atau memerintahkan Badan Publik: 1. memberikan sebagian atau seluruh informasi yang diminta oleh Pemohon Informasi Publik; atau 2. menolak memberikan sebagian atau seluruh informasi yang diminta oleh Pemohon Informasi Publik. (2) Putusan pengadilan tata usaha negara atau pengadilan negeri dalam penyelesaian Sengketa Informasi Publik tentang pokok keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b sampai dengan huruf g berisi salah satu perintah berikut: a. memerintahkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi untuk menjalankan kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau memerintahkan untuk memenuhi jangka waktu pemberian informasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini; b. menolak permohonan Pemohon Informasi Publik; atau c. memutuskan biaya penggandaan informasi. b. Pengadilan tata usaha negara atau pengadilan negeri memberikan salinan putusannya kepada para pihak yang bersengketa. Bagian Kedua Kasasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang tidak menerima putusan pengadilan tata usaha negara atau pengadilan negeri dapat mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung paling lambat dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak diterimanya putusan pengadilan tata usaha negara atau pengadilan negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XI KETENTUAN PIDANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Orang yang dengan sengaja menggunakan Informasi Publik secara melawan hukum dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Publik yang dengan sengaja tidak menyediakan, tidak memberikan, dan/atau tidak menerbitkan Informasi Publik berupa Informasi Publik secara berkala, Informasi Publik yang wajib diumumkan secara serta-merta, Informasi Publik yang wajib tersedia setiap saat, dan/atau Informasi Publik yang harus diberikan atas dasar permintaan sesuai dengan Undang-Undang ini, dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain dikenakan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Orang yang dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusak, dan/atau menghilangkan dokumen Informasi Publik dalam bentuk media apa pun yang dilindungi negara dan/atau yang berkaitan dengan kepentingan umum dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mengakses dan/atau memperoleh dan/atau memberikan informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur dalam Pasal 17 huruf a, huruf b, huruf d, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, dan huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mengakses dan/atau memperoleh dan/atau memberikan informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur dalam Pasal 17 huruf c dan huruf e, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) . Pasal 55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Orang yang dengan sengaja membuat Informasi Publik yang tidak benar atau menyesatkan dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pelanggaran yang dikenai sanksi pidana dalam Undang-Undang ini dan juga diancam dengan sanksi pidana dalam Undang-Undang lain yang bersifat khusus, yang berlaku adalah sanksi pidana dari Undang-Undang yang lebih khusus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan pidana berdasarkan Undang-Undang ini merupakan delik aduan dan diajukan melalui peradilan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran ganti rugi oleh Badan Publik negara diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Informasi Pusat harus sudah dibentuk paling lambat 1 (satu) tahun sejak diundangkannya Undang- Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Informasi provinsi harus sudah dibentuk paling lambat 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang- Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 61&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat diberlakukannya Undang-Undang ini Badan Publik harus melaksanakan kewajibannya berdasarkan Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah sudah harus ditetapkan sejak diberlakukannya Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XIV KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berlakunya Undang-Undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perolehan informasi yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Undang-Undang ini mulai berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal diundangkan. (2) Penyusunan dan penetapan Peraturan Pemerintah, petunjuk teknis, sosialisasi, sarana dan prasarana, serta hal-hal lainnya yang terkait dengan persiapan pelaksanaan Undang-Undang ini harus rampung paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di pada tanggal 30 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-8928159527052326014?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/8928159527052326014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/uu-no-14-th-2008-tentang-keterbukaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/8928159527052326014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/8928159527052326014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/uu-no-14-th-2008-tentang-keterbukaan.html' title='UU NO 14 Th 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-3935217895793495340</id><published>2009-09-21T18:10:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T18:13:21.058-07:00</updated><title type='text'>UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH</title><content type='html'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 12 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN KEDUA ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang: a. bahwa dalam rangka mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan agar mampu melahirkan kepemimpinan daerah yang efektif dengan memperhatikan prinsip demokrasi, persamaan, keadilan, dan kepastian hukum dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;b. bahwa untuk mewujudkan kepemimpinan daerah yang demokratis yang memperhatikan prinsip persamaan dan keadilan, penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada setiap warga negara yang memenuhi persyaratan;&lt;br /&gt;c. bahwa dalam penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah terjadi perubahan, terutama setelah putusan Mahkamah Konstitusi tentang calon perseorangan;&lt;br /&gt;d. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah belum diatur mengenai pengisian kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang menggantikan kepala daerah yang meninggal dunia, mengundurkan diri, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya;&lt;br /&gt;e. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah belum diatur mengenai pengisian kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang meninggal dunia, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya;&lt;br /&gt;f. bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah, perlu adanya pengaturan untuk mengintegrasikan jadwal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah sehingga Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah perlu diubah;&lt;br /&gt;g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat:    1. Pasal 18 ayat (4), Pasal 20, Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:   UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), diubah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketentuan Pasal 26 ditambah 4 (empat) ayat, yakni ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7), sehingga Pasal 26 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 26&lt;br /&gt;(1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup;&lt;br /&gt;c. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi;&lt;br /&gt;d. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota;&lt;br /&gt;e. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan daerah;&lt;br /&gt;f. melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah; dan&lt;br /&gt;g. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan.&lt;br /&gt;(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah.&lt;br /&gt;(3) Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya apabila kepala daerah meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya.&lt;br /&gt;(4) Untuk mengisi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berasal dari partai politik atau gabungan partai politik dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.&lt;br /&gt;(5) Untuk mengisi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berasal dari calon perseorangan dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang berasal dari partai politik atau gabungan partai politik karena meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.&lt;br /&gt;(7) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang berasal dari calon perseorangan karena meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan Pasal 42 ayat (1) huruf i dihapus dan penjelasan huruf e diubah sebagaimana tercantum dalam penjelasan, sehingga Pasal 42 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 42&lt;br /&gt;(1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama;&lt;br /&gt;b. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah;&lt;br /&gt;c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerja sama internasional di daerah;&lt;br /&gt;d. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD Provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD Kabupaten/Kota;&lt;br /&gt;e. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah;&lt;br /&gt;f. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah;&lt;br /&gt;g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah;&lt;br /&gt;h. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan;&lt;br /&gt;i. dihapus;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah;&lt;br /&gt;k. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah.&lt;br /&gt;(2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketentuan Pasal 56 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 56&lt;br /&gt;(1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.&lt;br /&gt;(2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh partai politik, gabungan partai politik, atau perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketentuan Pasal 58 huruf d dan huruf f diubah, huruf l dihapus serta ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf q, sehingga Pasal 58 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 58&lt;br /&gt;Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat:&lt;br /&gt;a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah;&lt;br /&gt;c. berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat;&lt;br /&gt;d. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun bagi calon gubernur/wakil gubernur dan berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun bagi calon bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota;&lt;br /&gt;e. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter;&lt;br /&gt;f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;&lt;br /&gt;g. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;&lt;br /&gt;h. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya;&lt;br /&gt;i. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara;&lt;br /&gt;k. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;&lt;br /&gt;l. dihapus;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak;&lt;br /&gt;n. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung, suami atau istri;&lt;br /&gt;o. belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama;&lt;br /&gt;p. tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q. mengundurkan diri sejak pendaftaran bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang masih menduduki jabatannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketentuan Pasal 59 ayat (1) diubah, di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 5 (lima) ayat, yakni ayat (2a), ayat (2b), ayat (2c), ayat (2d), dan ayat (2e), ayat (3) dihapus, di antara ayat (4) dan ayat (5) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (4a), dan di antara ayat (5) dan ayat (6) disisipkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (5a) dan ayat (5b), sehingga Pasal 59 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 59&lt;br /&gt;(1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.&lt;br /&gt;b. pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.&lt;br /&gt;(2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas persen) dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(2a) Pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon gubernur/wakil gubernur apabila memenuhi syarat dukungan dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a. provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 2.000.000 (dua juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 6,5% (enam koma lima persen);&lt;br /&gt;b. provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000.000 (dua juta) sampai dengan 6.000.000 (enam juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 5% (lima persen);&lt;br /&gt;c. provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 6.000.000 (enam juta) sampai dengan 12.000.000 (dua belas juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 4% (empat persen); dan&lt;br /&gt;d. provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 12.000.000 (dua belas juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 3% (tiga persen).&lt;br /&gt;(2b) Pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon bupati/wakil bupati atau walikota/wakil walikota apabila memenuhi syarat dukungan dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 6,5% (enam koma lima persen);&lt;br /&gt;b. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) sampai dengan 500.000 (lima ratus ribu) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 5% (lima persen);&lt;br /&gt;c. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) sampai dengan l.000.000 (satu juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 4% (empat persen); dan&lt;br /&gt;d. kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) jiwa harus didukung sekurang-kurangnya 3% (tiga persen).&lt;br /&gt;(2c) Jumlah dukungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2a) tersebar di lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kabupaten/kota di provinsi dimaksud.&lt;br /&gt;(2d) Jumlah dukungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2b) tersebar di lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kecamatan di kabupaten/kota dimaksud.&lt;br /&gt;(2e) Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2a) dan ayat (2b) dibuat dalam bentuk surat dukungan yang disertai dengan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau surat keterangan tanda penduduk sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Dalam proses penetapan pasangan calon, partai politik atau gabungan partai politik memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat.&lt;br /&gt;(4a) Dalam proses penetapan pasangan calon perseorangan, KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat.&lt;br /&gt;(5) Partai politik atau gabungan partai politik pada saat mendaftarkan calon partai politik, wajib menyerahkan:&lt;br /&gt;a. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang bergabung;&lt;br /&gt;b. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon;&lt;br /&gt;c. surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung;&lt;br /&gt;d. surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan;&lt;br /&gt;e. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;g. surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;h. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya;&lt;br /&gt;i. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR, DPD, dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah;&lt;br /&gt;j. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; dan&lt;br /&gt;k. visi, misi, dan program dari pasangan calon secara tertulis.&lt;br /&gt;(5a) Calon perseorangan pada saat mendaftar wajib menyerahkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pasangan calon perseorangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. berkas dukungan dalam bentuk pernyataan dukungan yang dilampiri dengan fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau surat keterangan tanda penduduk;&lt;br /&gt;c. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;e. surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;f. surat pernyataan nonaktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah di daerah wilayah kerjanya;&lt;br /&gt;g. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR, DPD, dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah;&lt;br /&gt;h. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; dan&lt;br /&gt;i. visi, misi, dan program dari pasangan calon secara tertulis.&lt;br /&gt;(5b) Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5a) huruf b hanya diberikan kepada satu pasangan calon perseorangan.&lt;br /&gt;(6) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat mengusulkan satu pasangan calon dan pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya.&lt;br /&gt;(7) Masa pendaftaran pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pengumuman pendaftaran pasangan calon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Di antara Pasal 59 dan Pasal 60 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 59A, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 59A&lt;br /&gt;(1) Verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan untuk pemilihan gubernur/wakil gubernur dilakukan oleh KPU provinsi yang dibantu oleh KPU kabupaten/kota, PPK, dan PPS.&lt;br /&gt;(2) Verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan untuk pemilihan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota dilakukan oleh KPU kabupaten/kota yang dibantu oleh PPK dan PPS.&lt;br /&gt;(3) Bakal pasangan calon perseorangan untuk pemilihan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota menyerahkan daftar dukungan kepada PPS untuk dilakukan verifikasi paling lambat 21 (dua puluh satu) hari sebelum waktu pendaftaran pasangan calon dimulai.&lt;br /&gt;(4) Bakal pasangan calon perseorangan untuk pemilihan gubernur/wakil gubernur menyerahkan daftar dukungan kepada PPS untuk dilakukan verifikasi paling lambat 28 (dua puluh delapan) hari sebelum waktu pendaftaran pasangan calon dimulai.&lt;br /&gt;(5) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari sejak dokumen dukungan bakal pasangan calon perseorangan diserahkan.&lt;br /&gt;(6) Hasil verifikasi dukungan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dituangkan dalam berita acara, yang selanjutnya diteruskan kepada PPK dan salinan hasil verifikasi disampaikan kepada bakal pasangan calon.&lt;br /&gt;(7) PPK melakukan verifikasi dan rekapitulasi jumlah dukungan bakal pasangan calon untuk menghindari adanya seseorang yang memberikan dukungan kepada lebih dari satu bakal pasangan calon dan adanya informasi manipulasi dukungan yang dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari.&lt;br /&gt;(8) Hasil verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dituangkan dalam berita acara yang selanjutnya diteruskan kepada KPU kabupaten/kota dan salinan hasil verifikasi dan rekapitulasi disampaikan kepada bakal pasangan calon.&lt;br /&gt;(9) Dalam pemilihan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota, salinan hasil verifikasi dan rekapitulasi sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dipergunakan oleh bakal pasangan calon dari perseorangan sebagai bukti pemenuhan persyaratan dukungan pencalonan.&lt;br /&gt;(10) KPU kabupaten/kota melakukan verifikasi dan rekapitulasi jumlah dukungan bakal pasangan calon untuk menghindari adanya seseorang yang memberikan dukungan kepada lebih dari satu bakal pasangan calon dan adanya informasi manipulasi dukungan yang dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari.&lt;br /&gt;(11) Hasil verifikasi dan rekapitulasi dukungan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dituangkan dalam berita acara yang selanjutnya diteruskan kepada KPU provinsi dan salinan hasil verifikasi dan rekapitulasi disampaikan kepada bakal pasangan calon untuk dipergunakan sebagai bukti pemenuhan persyaratan jumlah dukungan untuk pencalonan pemilihan gubernur/wakil gubernur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ketentuan Pasal 60 ayat (2), ayat (4), dan ayat (5) diubah, dan di antara ayat (3) dan ayat (4) disisipkan 3 (tiga) ayat, yakni ayat (3a), ayat (3b), dan ayat (3c), serta ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (6), sehingga Pasal 60 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 60&lt;br /&gt;(1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti persyaratan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kepada instansi pemerintah yang berwenang dan menerima masukan dari masyarakat terhadap persyaratan pasangan calon.&lt;br /&gt;(2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada calon partai politik dengan tembusan pimpinan partai politik, gabungan partai politik yang mengusulkan, atau calon perseorangan paling lama 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran.&lt;br /&gt;(3) Apabila pasangan calon partai politik atau gabungan partai politik belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59 ayat (5), partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau mengajukan calon baru paling lama 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3a) Apabila belum memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Pasal 59 ayat (5a) huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, dan huruf i, calon perseorangan diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon paling lama 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3b) Apabila belum memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (5a) huruf a, calon perseorangan diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon paling lama 14 (empat belas) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3c) Apabila calon perseorangan ditolak oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota karena tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 atau Pasal 59 ayat (5a), pasangan calon tidak dapat mencalonkan kembali.&lt;br /&gt;(4) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian ulang tentang kelengkapan dan/atau perbaikan persyaratan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (3a), dan ayat (3b) sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lama 14 (empat belas) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkannya atau calon perseorangan.&lt;br /&gt;(5) Apabila hasil penelitian berkas calon sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota, partai politik, gabungan partai politik, atau calon perseorangan tidak dapat lagi mengajukan calon.&lt;br /&gt;(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penelitian persyaratan administrasi pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan KPU."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ketentuan Pasal 62 ayat (1) diubah, dan di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 3 (tiga) ayat, yakni ayat (1a), ayat (1b), dan ayat (1c), serta ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (3), sehingga Pasal 62 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 62&lt;br /&gt;(1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya serta pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(1a) Pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(1b) Pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) dikenai sanksi tidak dapat mencalonkan diri atau dicalonkan oleh partai politik/gabungan partai politik sebagai calon kepala daerah/wakil kepala daerah untuk selamanya di seluruh wilayah Republik Indonesia.&lt;br /&gt;(1c) Apabila pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) setelah ditetapkan oleh KPU sebagai pasangan calon sehingga tinggal 1 (satu) pasang calon, pasangan calon tersebut dikenai sanksi sebagaimana diatur pada ayat (1b) dan denda sebesar Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).&lt;br /&gt;(2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), partai politik atau gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti.&lt;br /&gt;(3) Apabila pasangan calon perseorangan atau salah seorang di antaranya mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1a), pasangan calon perseorangan dimaksud dinyatakan gugur dan tidak dapat diganti pasangan calon perseorangan lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ketentuan Pasal 63 ayat (1) dan ayat (3) diubah, dan di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (1a) dan ayat (1b), serta ditambah 4 (empat) ayat, yakni ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7), sehingga Pasal 63 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 63&lt;br /&gt;(1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon meninggal dunia sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye, partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meninggal dunia dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lama 3 (tiga) hari sejak pasangan calon meninggal dunia.&lt;br /&gt;(1a) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian persyaratan administrasi pasangan calon pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menetapkannya paling lama 4 (empat) hari terhitung sejak tanggal pendaftaran.&lt;br /&gt;(1b) Dalam hal salah seorang dari atau pasangan calon meninggal dunia sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan, KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota membuka kembali pendaftaran pengajuan pasangan calon paling lama 10 (sepuluh) hari.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon meninggal dunia pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih, tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang meninggal dunia tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon partai politik atau gabungan partai politik meninggal dunia pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara, calon kurang dari 2 (dua) pasangan tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lama 60 (enam puluh) hari.&lt;br /&gt;(4) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meninggal dunia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan pasangan calon pengganti paling lama 7 (tujuh) hari sejak pasangan calon meninggal dunia.&lt;br /&gt;(5) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian persyaratan administrasi usulan pasangan calon pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan menetapkannya paling lama 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak pendaftaran pasangan calon pengganti.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon perseorangan berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai dengan hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan, tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lama 60 (enam puluh) hari.&lt;br /&gt;(7) KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota membuka kembali pendaftaran pengajuan pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) paling lama 30 (tiga puluh) hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ketentuan Pasal 64 ayat (2) diubah, dan ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (3), sehingga Pasal 64 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 64&lt;br /&gt;(1) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua, tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lama 30 (tiga puluh) hari.&lt;br /&gt;(2) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lama 4 (empat) hari terhitung sejak pendaftaran pasangan calon pengganti.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal salah seorang atau pasangan calon perseorangan berhalangan tetap pada saat dimulainya pemungutan suara putaran kedua sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan, KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota menetapkan pasangan yang memperoleh suara terbanyak ketiga pada putaran pertama sebagai pasangan calon untuk putaran kedua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ketentuan Pasal 75 ayat (3) diubah, sehingga Pasal 75 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 75&lt;br /&gt;(1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;(2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara.&lt;br /&gt;(3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan atau oleh pasangan calon perseorangan.&lt;br /&gt;(4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon.&lt;br /&gt;(5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye.&lt;br /&gt;(6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon, yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye.&lt;br /&gt;(7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi, kabupaten/kota bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.&lt;br /&gt;(8) Dalam kampanye, rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota dengan memperhatikan usul dari pasangan calon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ketentuan Pasal 107 ayat (2) dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 107 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 107&lt;br /&gt;(1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih.&lt;br /&gt;(2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30% (tiga puluh persen) dari jumlah suara sah, pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama, penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.&lt;br /&gt;(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi, atau tidak ada yang mencapai 30% (tiga puluh persen) dari jumlah suara sah, dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua.&lt;br /&gt;(5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon, kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua.&lt;br /&gt;(6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.&lt;br /&gt;(7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon, penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.&lt;br /&gt;(8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Di antara ayat (5) dan ayat (6) Pasal 108 disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (5a), sehingga Pasal 108 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 108&lt;br /&gt;(1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap, calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah.&lt;br /&gt;(2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap, calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah.&lt;br /&gt;(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.&lt;br /&gt;(5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap, partai politik, gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambat-lambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari.&lt;br /&gt;(5a) Dalam hal pasangan calon terpilih dari calon perseorangan berhalangan tetap, pasangan calon yang meraih suara terbanyak kedua dan ketiga diusulkan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lama 30 (tiga puluh) hari.&lt;br /&gt;(6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4), pemilihannya dilakukan selambat-lambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ketentuan Pasal 115 ditambah 3 (tiga) ayat, yakni ayat (7), ayat (8), dan ayat (9), sehingga Pasal 115 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 115&lt;br /&gt;(1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih, diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan denda paling sedikit Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).&lt;br /&gt;(2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan, diancam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).&lt;br /&gt;(3) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(4) Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan, menggunakannya, atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(5) Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam pemilihan kepala daerah menurut Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).&lt;br /&gt;(6) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(7) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan identitas diri palsu untuk mendukung bakal pasangan calon perseorangan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 diancam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).&lt;br /&gt;(8) Anggota PPS, anggota PPK, anggota KPU kabupaten/kota, dan anggota KPU provinsi yang dengan sengaja memalsukan daftar dukungan terhadap calon perseorangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;br /&gt;(9) Anggota PPS, anggota PPK, anggota KPU kabupaten/kota, dan anggota KPU provinsi yang dengan sengaja tidak melakukan verifikasi dan rekapitulasi terhadap calon perseorangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Ketentuan Pasal 233 ayat (1) dihapus, ayat (2) diubah, dan ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (3), sehingga Pasal 233 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 233&lt;br /&gt;(1) Dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada bulan November 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang ini paling lama pada bulan Oktober 2008.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal terjadi pemilihan kepala daerah putaran kedua, pemungutan suara diselenggarakan paling lama pada bulan Desember 2008."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Ketentuan Pasal 235 diubah dan ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat (2), sehingga Pasal 235 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 235&lt;br /&gt;(1) Pemungutan suara dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota dalam satu daerah yang sama yang berakhir masa jabatannya pada tahun 2008 sampai dengan Juli 2009 dapat diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama.&lt;br /&gt;(2) Pemungutan suara dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota dalam satu daerah yang sama yang berakhir masa jabatannya dalam kurun waktu 90 (sembilan puluh) hari, setelah bulan Juli 2009 diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Di antara Pasal 236 dan Pasal 237 disisipkan 3 (tiga) pasal, yakni Pasal 236A, Pasal 236B, dan Pasal 236C, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 236A&lt;br /&gt;Dalam hal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah akan berlangsung sebelum terbentuknya panitia pengawas pemilihan oleh Badan Pengawas Pemilu, DPRD berwenang membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236B&lt;br /&gt;Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, kepala daerah/wakil kepala daerah yang sudah terdaftar sebagai calon kepala daerah/wakil kepala daerah tidak mengundurkan diri dari jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236C&lt;br /&gt;Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini diundangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Di antara Pasal 239 dan Pasal 240 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 239A, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 239A&lt;br /&gt;Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan Undang-Undang ini dinyatakan tidak berlaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 28 April 2008&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 28 April 2008&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDI MATTALATTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 12 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN KEDUA ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi lagi atas daerah kabupaten dan kota, yang masing-masing sebagai daerah otonom. Sebagai daerah otonom, daerah provinsi dan kabupaten/kota memiliki pemerintahan daerah yang melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan daerah, yakni Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kepala Daerah adalah Kepala Pemerintah Daerah baik di daerah provinsi maupun kabupaten/kota, yang merupakan eksekutif di daerah, sedangkan DPRD baik di daerah provinsi maupun daerah kabupaten/kota merupakan lembaga legislatif daerah.&lt;br /&gt;Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah diterapkan prinsip demokrasi. Sesuai dengan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945, kepala daerah dipilih secara demokratis. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, diatur mengenai pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik.&lt;br /&gt;Berdasarkan perkembangan hukum dan politik untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lebih efektif dan akuntabel sesuai dengan aspirasi masyarakat, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah perlu dilakukan secara lebih terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, perlu dilakukan perubahan dengan memberikan kesempatan bagi calon perseorangan untuk ikut serta dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan instansi vertikal di daerah dalam huruf b ini adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang mengurus urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada daerah dalam wilayah tertentu dalam rangka dekonsentrasi.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "membentuk" dalam ketentuan ini adalah termasuk pengajuan Rancangan Perda sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "perjanjian internasional" dalam ketentuan ini adalah perjanjian antar Pemerintah dengan pihak luar negeri yang terkait dengan kepentingan daerah.&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kerja sama internasional" dalam ketentuan ini adalah kerja sama daerah dengan pihak luar negeri yang meliputi kerja sama Kabupaten/Kota "kembar", kerja sama teknik termasuk bantuan kemanusiaan, kerja sama penerusan pinjaman/hibah, kerja sama penyertaan modal dan kerja sama lainnya sesuai dengan peraturan perundangan.&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "laporan keterangan pertanggungjawaban" dalam ketentuan ini adalah laporan yang disampaikan oleh kepala daerah setiap tahun dalam sidang Paripurna DPRD yang berkaitan dengan penyelenggaraan tugas otonomi dan tugas pembantuan.&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Huruf j&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf k&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "tugas dan wewenang" sebagaimana yang diatur pada ayat (2) antara lain Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "bertakwa" dalam ketentuan ini dalam arti taat menjalankan kewajiban agamanya.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-   Yang dimaksud dengan "setia" dalam ketentuan ini adalah tidak pernah terlibat gerakan separatis, tidak pernah melakukan gerakan secara inkonstitusional atau dengan kekerasan untuk mengubah Dasar Negara serta tidak pernah melanggar Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;-   Yang dimaksud dengan "setia kepada pemerintah" dalam ketentuan ini adalah yang mengakui pemerintah yang sah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat" dalam ketentuan ini dibuktikan dengan surat tanda tamat belajar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini tidak dimaksudkan harus dengan memiliki Kartu Tanda Penduduk daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf j&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf k&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Huruf m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf o&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunduran diri dari jabatannya berlaku bagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. kepala daerah yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi kepala daerah di daerah sendiri atau di daerah lain;&lt;br /&gt;b. wakil kepala daerah yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi kepala daerah di daerah sendiri atau di daerah lain;&lt;br /&gt;c. wakil kepala daerah yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi wakil kepala daerah di daerah sendiri atau di daerah lain;&lt;br /&gt;d. bupati atau walikota yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi gubernur atau wakil gubernur; dan&lt;br /&gt;e. wakil bupati atau wakil walikota yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi gubernur atau wakil gubernur.&lt;br /&gt;Pengunduran diri gubernur dan wakil gubernur dibuktikan dengan menyerahkan surat pernyataan pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali disertai dengan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden, sedangkan keputusan Presiden tentang pemberhentian yang bersangkutan sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah disampaikan kepada KPU provinsi selambat-lambatnya pada saat ditetapkan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur.&lt;br /&gt;Pengunduran diri bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota dibuktikan dengan menyerahkan surat pernyataan pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali disertai dengan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri, sedangkan keputusan Menteri Dalam Negeri tentang pemberhentian yang bersangkutan sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah disampaikan kepada KPU kabupaten/kota selambat-lambatnya pada saat ditetapkan sebagai calon bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pasangan calon" adalah calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan sebagai satu kesatuan.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pasangan calon" adalah calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan sebagai satu kesatuan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2c)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2d)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2e)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pimpinan partai politik" adalah ketua dan sekretaris partai politik atau sebutan pimpinan lainnya sesuai dengan kewenangan berdasarkan anggaran dasar/anggaran rumah tangga partai politik yang bersangkutan, sesuai dengan tingkat daerah pencalonannya.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf j&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf k&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "verifikasi" adalah penelitian keabsahan surat pernyataan dukungan, fotokopi kartu tanda penduduk atau surat keterangan tanda penduduk, pembuktian tidak adanya dukungan ganda, tidak adanya pendukung yang telah meninggal dunia, tidak adanya pendukung yang sudah tidak lagi menjadi penduduk di wilayah yang bersangkutan, atau tidak adanya pendukung yang tidak mempunyai hak pilih.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil verifikasi mencantumkan jumlah dukungan yang memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 107&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-   Yang dimaksud dengan peroleh suara yang lebih luas adalah pasangan calon yang unggul di lebih banyak jumlah kabupaten/kota untuk calon Gubernur dan wakil Gubernur, pasangan calon yang unggul di lebih banyak jumlah kecamatan untuk calon Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan wakil Walikota.&lt;br /&gt;-   Apabila diperoleh persebaran yang sama pada tingkat kabupaten/kota untuk Gubernur dan wakil Gubernur, pasangan calon terpilih ditentukan berdasarkan persebaran tingkat kecamatan, kelurahan/desa, dan seterusnya. Hal yang sama berlaku untuk penetapan pasangan calon Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan wakil Walikota.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 108&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon yang diajukan untuk dipilih oleh DPRD dalam ketentuan ini harus memenuhi persyaratan yang diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;Ayat (5a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "berhalangan tetap" adalah meninggal dunia, sakit permanen yang mengakibatkan baik fisik maupun mental tidak berfungsi secara normal yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang, dan/atau tidak diketahui keberadaannya.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 115&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 233&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 235&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 236C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 239A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-3935217895793495340?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/3935217895793495340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-nomor-32-tahun-2004.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/3935217895793495340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/3935217895793495340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/undang-undang-nomor-32-tahun-2004.html' title='UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-228604861533538229</id><published>2009-09-21T18:01:00.001-07:00</published><updated>2009-09-21T18:08:21.724-07:00</updated><title type='text'>UU NO 11 TH 2008 TTGINFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK</title><content type='html'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 11 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional adalah suatu proses yang berkelanjutan yang harus senantiasa tanggap terhadap berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat;&lt;br /&gt;b. bahwa globalisasi informasi telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia sehingga mengharuskan dibentuknya pengaturan mengenai pengelolaan Informasi dan Transaksi Elektronik di tingkat nasional sehingga pembangunan Teknologi Informasi dapat dilakukan secara optimal, merata, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa;&lt;br /&gt;c. bahwa perkembangan dan kemajuan Teknologi Informasi yang demikian pesat telah menyebabkan perubahan kegiatan kehidupan manusia dalam berbagai bidang yang secara langsung telah memengaruhi lahirnya bentuk-bentuk perbuatan hukum baru;&lt;br /&gt;d. bahwa penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi harus terus dikembangkan untuk menjaga, memelihara, dan memperkukuh persatuan dan kesatuan nasional berdasarkan Peraturan Perundang-undangan demi kepentingan nasional;&lt;br /&gt;e. bahwa pemanfaatan Teknologi Informasi berperan penting dalam perdagangan dan pertumbuhan perekonomian nasional untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat;&lt;br /&gt;f. bahwa pemerintah perlu mendukung pengembangan Teknologi Informasi melalui infrastruktur hukum dan pengaturannya sehingga pemanfaatan Teknologi Informasi dilakukan secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya masyarakat Indonesia;&lt;br /&gt;g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat:    Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:   UNDANG-UNDANG TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.&lt;br /&gt;2. Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya.&lt;br /&gt;3. Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi.&lt;br /&gt;4. Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makan atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.&lt;br /&gt;5. Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik.&lt;br /&gt;6. Penyelenggaraan Sistem Elektronik adalah pemanfaatan Sistem Elektronik oleh penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;7. Jaringan Sistem Elektronik adalah terhubungnya dua Sistem Elektronik atau lebih, yang bersifat tertutup ataupun terbuka.&lt;br /&gt;8. Agen Elektronik adalah perangkat dari suatu Sistem Elektronik yang dibuat untuk melakukan suatu tindakan terhadap suatu Informasi Elektronik tertentu secara otomatis yang diselenggarakan oleh Orang.&lt;br /&gt;9. Sertifikat Elektronik adalah sertifikat yang bersifat elektronik yang memuat Tanda Tangan Elektronik dan identitas yang menunjukkan status subjek hukum para pihak dalam Transaksi Elektronik yang dikeluarkan oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik.&lt;br /&gt;10. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik adalah badan hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit Sertifikat Elektronik.&lt;br /&gt;11. Lembaga Sertifikasi Keandalan adalah lembaga independen yang dibentuk oleh profesional yang diakui, disahkan, dan diawasi oleh Pemerintah dengan kewenangan mengaudit dan mengeluarkan sertifikat keandalan dalam Transaksi Elektronik.&lt;br /&gt;12. Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas Informasi Elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi.&lt;br /&gt;13. Penanda Tangan adalah subjek hukum yang terasosiasikan atau terkait dengan Tanda Tangan Elektronik.&lt;br /&gt;14. Komputer adalah alat untuk memproses data elektronik, magnetik, optik, atau sistem yang melaksanakan fungsi logika, aritmatika, dan penyimpanan.&lt;br /&gt;15. Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan Sistem Elektronik yang berdiri sendiri atau dalam jaringan.&lt;br /&gt;16. Kode Akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi di antaranya, yang merupakan kunci untuk dapat mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik lainnya.&lt;br /&gt;17. Kontrak Elektronik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui Sistem Elektronik.&lt;br /&gt;18. Pengirim adalah subjek hukum yang mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.&lt;br /&gt;19. Penerima adalah subjek hukum yang menerima Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dari Pengirim.&lt;br /&gt;20. Nama Domain adalah alamat internet penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat, yang dapat digunakan dalam berkomunikasi melalui internet, yang berupa kode atau susunan karakter yang bersifat unik untuk menunjukkan lokasi tertentu dalam internet.&lt;br /&gt;21. Orang adalah orang perseorangan, baik warga negara Indonesia, warga negara asing, maupun badan hukum.&lt;br /&gt;22. Badan Usaha adalah perusahaan perseorangan atau perusahaan persekutuan, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.&lt;br /&gt;23. Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lainnya yang ditunjuk oleh Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;ASAS DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan berdasarkan asas kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, iktikad baik, dan kebebasan memilih teknologi atau netral teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan dengan tujuan untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia;&lt;br /&gt;b. mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat;&lt;br /&gt;c. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap Orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan&lt;br /&gt;e. memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;INFORMASI, DOKUMEN, DAN TANDA TANGAN ELEKTRONIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;(1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.&lt;br /&gt;(2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.&lt;br /&gt;(3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk:&lt;br /&gt;a. surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk tertulis; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. surat beserta dokumennya yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Dalam hal terdapat ketentuan lain selain yang diatur dalam Pasal 5 ayat (4) yang mensyaratkan bahwa suatu informasi harus berbentuk tertulis atau asli, Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum di dalamnya dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Setiap Orang yang menyatakan hak, memperkuat hak yang telah ada, atau menolak hak Orang lain berdasarkan adanya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik harus memastikan bahwa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang ada padanya berasal dari Sistem Elektronik yang memenuhi syarat berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;(1) Kecuali diperjanjikan lain, waktu pengiriman suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik ditentukan pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik telah dikirim dengan alamat yang benar oleh Pengirim ke suatu Sistem Elektronik yang ditunjuk atau dipergunakan Penerima dan telah memasuki Sistem Elektronik yang berada di luar kendali Pengirim.&lt;br /&gt;(2) Kecuali diperjanjikan lain, waktu penerimaan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik ditentukan pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki Sistem Elektronik di bawah kendali Penerima yang berhak.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal Penerima telah menunjuk suatu Sistem Elektronik tertentu untuk menerima Informasi Elektronik, penerimaan terjadi pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki Sistem Elektronik yang ditunjuk.&lt;br /&gt;(4) Dalam hal terdapat dua atau lebih sistem informasi yang digunakan dalam pengiriman atau penerimaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik, maka:&lt;br /&gt;a. waktu pengiriman adalah ketika Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki sistem informasi pertama yang berada di luar kendali Pengirim;&lt;br /&gt;b. waktu penerimaan adalah ketika Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki sistem informasi terakhir yang berada di bawah kendali Penerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;(1) Setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi Keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;(1) Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah selama memenuhi persyaratan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada Penanda Tangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda Tangan;&lt;br /&gt;c. segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;&lt;br /&gt;d. segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan Elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;&lt;br /&gt;e. terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa Penandatangannya; dan&lt;br /&gt;f. terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda Tangan telah memberikan persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang terkait.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut tentang Tanda Tangan Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang yang terlibat dalam Tanda Tangan Elektronik berkewajiban memberikan pengamanan atas Tanda Tangan Elektronik yang digunakannya.&lt;br /&gt;(2) Pengamanan Tanda Tangan Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi:&lt;br /&gt;a. sistem tidak dapat diakses oleh Orang lain yang tidak berhak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penanda Tangan harus menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menghindari penggunaan secara tidak sah terhadap data terkait pembuatan Tanda Tangan Elektronik;&lt;br /&gt;c. Penanda Tangan harus tanpa menunda-nunda, menggunakan cara yang dianjurkan oleh penyelenggara Tanda Tangan Elektronik ataupun cara lain yang layak dan sepatutnya harus segera memberitahukan kepada seseorang yang oleh Penanda Tangan dianggap memercayai Tanda Tangan Elektronik atau kepada pihak pendukung layanan Tanda Tangan Elektronik jika:&lt;br /&gt;1. Penanda Tangan mengetahui bahwa data pembuatan Tanda Tangan Elektronik telah dibobol; atau&lt;br /&gt;2. keadaan yang diketahui oleh Penanda Tangan dapat menimbulkan risiko yang berarti, kemungkinan akibat bobolnya data pembuatan Tanda Tangan Elektronik; dan&lt;br /&gt;d. dalam hal Sertifikat Elektronik digunakan untuk mendukung Tanda Tangan Elektronik, Penanda Tangan harus memastikan kebenaran dan keutuhan semua informasi yang terkait dengan Sertifikat Elektronik tersebut.&lt;br /&gt;(3) Setiap Orang yang melakukan pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bertanggung jawab atas segala kerugian dan konsekuensi hukum yang timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI ELEKTRONIK DAN SISTEM ELEKTRONIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang berhak menggunakan jasa Penyelenggara Sertifikasi Elektronik untuk pembuatan Tanda Tangan Elektronik.&lt;br /&gt;(2) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik harus memastikan keterkaitan suatu Tanda Tangan Elektronik dengan pemiliknya.&lt;br /&gt;(3) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia; dan&lt;br /&gt;b. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing.&lt;br /&gt;(4) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia berbadan hukum Indonesia dan berdomisili di Indonesia.&lt;br /&gt;(5) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing yang beroperasi di Indonesia harus terdaftar di Indonesia.&lt;br /&gt;(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Penyelenggara Sertifikasi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) sampai dengan ayat (5) harus menyediakan informasi yang akurat, jelas, dan pasti kepada setiap pengguna jasa, yang meliputi:&lt;br /&gt;a. metode yang digunakan untuk mengidentifikasi Penanda Tangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. hal yang dapat digunakan untuk mengetahui data diri pembuat Tanda Tangan Elektronik; dan&lt;br /&gt;c. hal yang dapat digunakan untuk menunjukkan keberlakuan dan keamanan Tanda Tangan Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Sistem Elektronik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;(2) Penyelenggara Sistem Elektronik bertanggung jawab terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektroniknya.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;(1) Sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang tersendiri, setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib mengoperasikan Sistem Elektronik yang memenuhi persyaratan minimum sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. dapat menampilkan kembali Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik secara utuh sesuai dengan masa retensi yang ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan;&lt;br /&gt;b. dapat melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan, kerahasiaan, dan keteraksesan Informasi Elektronik dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut;&lt;br /&gt;c. dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut;&lt;br /&gt;d. dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasa, informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan dengan Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut; dan&lt;br /&gt;e. memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan kebertanggungjawaban prosedur atau petunjuk.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;TRANSAKSI ELEKTRONIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;(1) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik ataupun privat.&lt;br /&gt;(2) Para pihak yang melakukan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib beriktikad baik dalam melakukan interaksi dan/atau pertukaran Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik selama transaksi berlangsung.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;(1) Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak.&lt;br /&gt;(2) Para pihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya.&lt;br /&gt;(3) Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik internasional, hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional.&lt;br /&gt;(4) Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya.&lt;br /&gt;(5) Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum sebagaimana dimaksud pada ayat (4), penetapan kewenangan pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari transaksi tersebut, didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Para pihak yang melakukan Transaksi Elektronik harus menggunakan Sistem Elektronik yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;(1) Kecuali ditentukan lain oleh para pihak, Transaksi Elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim Pengirim telah diterima dan disetujui Penerima.&lt;br /&gt;(2) Persetujuan atas penawaran Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;(1) Pengirim atau Penerima dapat melakukan Transaksi Elektronik sendiri, melalui pihak yang dikuasakan olehnya, atau melalui Agen Elektronik.&lt;br /&gt;(2) Pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. jika dilakukan sendiri, segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab para pihak yang bertransaksi;&lt;br /&gt;b. jika dilakukan melalui pemberian kuasa, segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab pemberi kuasa; atau&lt;br /&gt;c. jika dilakukan melalui Agen Elektronik, segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik.&lt;br /&gt;(3) Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat tindakan pihak ketiga secara langsung terhadap Sistem Elektronik, segala akibat hukum menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik.&lt;br /&gt;(4) Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat kelalaian pihak pengguna jasa layanan, segala akibat hukum menjadi tanggung jawab pengguna jasa layanan.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;(1) Penyelenggara Agen Elektronik tertentu harus menyediakan fitur pada Agen Elektronik yang dioperasikannya yang memungkinkan penggunanya melakukan perubahan informasi yang masih dalam proses transaksi.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggara Agen Elektronik tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;NAMA DOMAIN, HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL,&lt;br /&gt;DAN PERLINDUNGAN HAK PRIBADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;(1) Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat berhak memiliki Nama Domain berdasarkan prinsip pendaftar pertama.&lt;br /&gt;(2) Pemilikan dan penggunaan Nama Domain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada iktikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan tidak melanggar hak Orang lain.&lt;br /&gt;(3) Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, atau masyarakat yang dirugikan karena penggunaan Nama Domain secara tanpa hak oleh Orang lain, berhak mengajukan gugatan pembatalan Nama Domain dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;(1) Pengelola Nama Domain adalah Pemerintah dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam hal terjadi perselisihan pengelolaan Nama Domain oleh masyarakat, Pemerintah berhak mengambil alih sementara pengelolaan Nama Domain yang diperselisihkan.&lt;br /&gt;(3) Pengelola Nama Domain yang berada di luar wilayah Indonesia dan Nama Domain yang diregistrasinya diakui keberadaannya sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan Nama Domain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun menjadi karya intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di dalamnya dilindungi sebagai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;(1) Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;PERBUATAN YANG DILARANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.&lt;br /&gt;(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.&lt;br /&gt;(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun.&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.&lt;br /&gt;(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain.&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari, ke, dan di dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain, baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/atau penghentian Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan.&lt;br /&gt;(3) Kecuali intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), intersepsi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak.&lt;br /&gt;(3) Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor, mendistribusikan, menyediakan, atau memiliki:&lt;br /&gt;a. perangkat keras atau perangkat lunak Komputer yang dirancang atau secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33;&lt;br /&gt;b. sandi lewat Komputer, Kode Akses, atau hal yang sejenis dengan itu yang ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33.&lt;br /&gt;(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan tindak pidana jika ditujukan untuk melakukan kegiatan penelitian, pengujian Sistem Elektronik, untuk perlindungan Sistem Elektronik itu sendiri secara sah dan tidak melawan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi Orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Setiap Orang dengan sengaja melakukan perbuatan yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 36 di luar wilayah Indonesia terhadap Sistem Elektronik yang berada di wilayah yurisdiksi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;PENYELESAIAN SENGKETA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang menimbulkan kerugian.&lt;br /&gt;(2) Masyarakat dapat mengajukan gugatan secara perwakilan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang berakibat merugikan masyarakat, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;(1) Gugatan perdata dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Selain penyelesaian gugatan perdata sebagaimana dimaksud pada ayat (1), para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;PERAN PEMERINTAH DAN PERAN MASYARAKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memfasilitasi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Pemerintah menetapkan instansi atau institusi yang memiliki data elektronik strategis yang wajib dilindungi.&lt;br /&gt;(4) Instansi atau institusi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus membuat Dokumen Elektronik dan rekam cadang elektroniknya serta menghubungkannya ke pusat data tertentu untuk kepentingan pengamanan data.&lt;br /&gt;(5) Instansi atau institusi lain selain diatur pada ayat (3) membuat Dokumen Elektronik dan rekam cadang elektroniknya sesuai dengan keperluan perlindungan data yang dimilikinya.&lt;br /&gt;(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai peran Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;(1) Masyarakat dapat berperan meningkatkan pemanfaatan Teknologi Informasi melalui penggunaan dan Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;(2) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan melalui lembaga yang dibentuk oleh masyarakat.&lt;br /&gt;(3) Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat memiliki fungsi konsultasi dan mediasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X&lt;br /&gt;PENYIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Penyidikan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana dan ketentuan dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;(1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik.&lt;br /&gt;(2) Penyidikan di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan perlindungan terhadap privasi, kerahasiaan, kelancaran layanan publik, integritas data, atau keutuhan data sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Penggeledahan dan/atau penyitaan terhadap sistem elektronik yang terkait dengan dugaan tindak pidana harus dilakukan atas izin ketua pengadilan negeri setempat.&lt;br /&gt;(4) Dalam melakukan penggeledahan dan/atau penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), penyidik wajib menjaga terpeliharanya kepentingan pelayanan umum.&lt;br /&gt;(5) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:&lt;br /&gt;a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;b. memanggil setiap Orang atau pihak lainnya untuk didengar dan/atau diperiksa sebagai tersangka atau saksi sehubungan dengan adanya dugaan tindak pidana di bidang terkait dengan ketentuan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;c. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;d. melakukan pemeriksaan terhadap Orang dan/atau Badan Usaha yang patut diduga melakukan tindak pidana berdasarkan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;e. melakukan pemeriksaan terhadap alat dan/atau sarana yang berkaitan dengan kegiatan Teknologi Informasi yang diduga digunakan untuk melakukan tindak pidana berdasarkan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;f. melakukan penggeledahan terhadap tempat tertentu yang diduga digunakan sebagai tempat untuk melakukan tindak pidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;g. melakukan penyegelan dan penyitaan terhadap alat dan atau sarana kegiatan Teknologi Informasi yang diduga digunakan secara menyimpang dari ketentuan Peraturan Perundang-undangan;&lt;br /&gt;h. meminta bantuan ahli yang diperlukan dalam penyidikan terhadap tindak pidana berdasarkan Undang-Undang ini; dan/atau&lt;br /&gt;i. mengadakan penghentian penyidikan tindak pidana berdasarkan Undang-Undang ini sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana yang berlaku.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal melakukan penangkapan dan penahanan, penyidik melalui penuntut umum wajib meminta penetapan ketua pengadilan negeri setempat dalam waktu satu kali dua puluh empat jam.&lt;br /&gt;(7) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkoordinasi dengan Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasilnya kepada penuntut umum.&lt;br /&gt;(8) Dalam rangka mengungkap tindak pidana Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik, penyidik dapat berkerja sama dengan penyidik negara lain untuk berbagi informasi dan alat bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Alat bukti penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan menurut ketentuan Undang-Undang ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Perundang-undangan; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. alat bukti lain berupa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dan angka 4 serta Pasal 5 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XI&lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).&lt;br /&gt;(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).&lt;br /&gt;(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).&lt;br /&gt;(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dari pidana pokok.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 37 ditujukan terhadap Komputer dan/atau Sistem Elektronik serta Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Pemerintah dan/atau yang digunakan untuk layanan publik dipidana dengan pidana pokok ditambah sepertiga.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 37 ditujukan terhadap Komputer dan/atau Sistem Elektronik serta Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Pemerintah dan/atau badan strategis termasuk dan tidak terbatas pada lembaga pertahanan, bank sentral, perbankan, keuangan, lembaga internasional, otoritas penerbangan diancam dengan pidana maksimal ancaman pidana pokok masing-masing Pasal ditambah dua pertiga.&lt;br /&gt;(4) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37 dilakukan oleh korporasi dipidana dengan pidana pokok ditambah dua pertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XII&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, semua Peraturan Perundang-undangan dan kelembagaan yang berhubungan dengan pemanfaatan Teknologi Informasi yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini dinyatakan tetap berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XIII&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;(1) Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Peraturan Pemerintah harus sudah ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun setelah diundangkannya Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 21 April 2008&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 21 April 2008&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDI MATTALATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 58.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 11 TAHUN 2008&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan Teknologi Informasi, media, dan komunikasi telah mengubah baik perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Teknologi Informasi saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum.&lt;br /&gt;Saat ini telah lahir suatu rezim hukum baru yang dikenal dengan hukum siber atau hukum telematika. Hukum siber atau cyber law, secara internasional digunakan untuk istilah hukum yang terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian pula, hukum telematika yang merupakan perwujudan dari konvergensi hukum telekomunikasi, hukum media, dan hukum informatika. Istilah lain yang juga digunakan adalah hukum teknologi informasi (law of information technology), hukum dunia maya (virtual world law), dan hukum mayantara. Istilah-istilah tersebut lahir mengingat kegiatan yang dilakukan melalui jaringan sistem komputer dan sistem komunikasi baik dalam lingkup lokal maupun global (Internet) dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis sistem komputer yang merupakan sistem elektronik yang dapat dilihat secara virtual. Permasalahan hukum yang seringkali dihadapi adalah ketika terkait dengan penyampaian informasi, komunikasi, dan/atau transaksi secara elektronik, khususnya dalam hal pembuktian dan hal yang terkait dengan perbuatan hukum yang dilaksanakan melalui sistem elektronik.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sistem elektronik adalah sistem komputer dalam arti luas, yang tidak hanya mencakup perangkat keras dan perangkat lunak komputer, tetapi juga mencakup jaringan telekomunikasi dan/atau sistem komunikasi elektronik. Perangkat lunak atau program komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi tersebut.&lt;br /&gt;Sistem elektronik juga digunakan untuk menjelaskan keberadaan sistem informasi yang merupakan penerapan teknologi informasi yang berbasis jaringan telekomunikasi dan media elektronik, yang berfungsi merancang, memproses, menganalisis, menampilkan, dan mengirimkan atau menyebarkan informasi elektronik. Sistem informasi secara teknis dan manajemen sebenarnya adalah perwujudan penerapan produk teknologi informasi ke dalam suatu bentuk organisasi dan manajemen sesuai dengan karakteristik kebutuhan pada organisasi tersebut dan sesuai dengan tujuan peruntukannya. Pada sisi yang lain, sistem informasi secara teknis dan fungsional adalah keterpaduan sistem antara manusia dan mesin yang mencakup komponen perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, sumber daya manusia, dan substansi informasi yang dalam pemanfaatannya mencakup fungsi input, process, output, storage, dan communication.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, dunia hukum sebenarnya sudah sejak lama memperluas penafsiran asas dan normanya ketika menghadapi persoalan kebendaan yang tidak berwujud, misalnya dalam kasus pencurian listrik sebagai perbuatan pidana. Dalam kenyataan kegiatan siber tidak lagi sederhana karena kegiatannya tidak lagi dibatasi oleh teritori suatu negara, yang mudah diakses kapan pun dan dari mana pun. Kerugian dapat terjadi baik pada pelaku transaksi maupun pada orang lain yang tidak pernah melakukan transaksi, misalnya pencurian dana kartu kredit melalui pembelanjaan di Internet. Di samping itu, pembuktian merupakan faktor yang sangat penting, mengingat informasi elektronik bukan saja belum terakomodasi dalam sistem hukum acara Indonesia secara komprehensif, melainkan juga ternyata sangat rentan untuk diubah, disadap, dipalsukan, dan dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam waktu hitungan detik. Dengan demikian, dampak yang diakibatkannya pun bisa demikian kompleks dan rumit.&lt;br /&gt;Permasalahan yang lebih luas terjadi pada bidang keperdataan karena transaksi elektronik untuk kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik (electronic commerce) telah menjadi bagian dari perniagaan nasional dan internasional. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konvergensi di bidang teknologi informasi, media, dan informatika (telematika) berkembang terus tanpa dapat dibendung, seiring dengan ditemukannya perkembangan baru di bidang teknologi informasi, media, dan komunikasi.&lt;br /&gt;Kegiatan melalui media sistem elektronik, yang disebut juga ruang siber (cyber space), meskipun bersifat virtual dapat dikategorikan sebagai tindakan atau perbuatan hukum yang nyata. Secara yuridis kegiatan pada ruang siber tidak dapat didekati dengan ukuran dan kualifikasi hukum konvensional saja sebab jika cara ini yang ditempuh akan terlalu banyak kesulitan dan hal yang lolos dari pemberlakuan hukum. Kegiatan dalam ruang siber adalah kegiatan virtual yang berdampak sangat nyata meskipun alat buktinya bersifat elektronik.&lt;br /&gt;Dengan demikian, subjek pelakunya harus dikualifikasikan pula sebagai Orang yang telah melakukan perbuatan hukum secara nyata. Dalam kegiatan e-commerce antara lain dikenal adanya dokumen elektronik yang kedudukannya disetarakan dengan dokumen yang dibuat di atas kertas.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal itu, perlu diperhatikan sisi keamanan dan kepastian hukum dalam pemanfaatan teknologi informasi, media, dan komunikasi agar dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, terdapat tiga pendekatan untuk menjaga keamanan di cyber space, yaitu pendekatan aspek hukum, aspek teknologi, aspek sosial, budaya, dan etika. Untuk mengatasi gangguan keamanan dalam penyelenggaraan sistem secara elektronik, pendekatan hukum bersifat mutlak karena tanpa kepastian hukum, persoalan pemanfaatan teknologi informasi menjadi tidak optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang ini memiliki jangkauan yurisdiksi tidak semata-mata untuk perbuatan hukum yang berlaku di Indonesia dan/atau dilakukan oleh warga negara Indonesia, tetapi juga berlaku untuk perbuatan hukum yang dilakukan di luar wilayah hukum (yurisdiksi) Indonesia baik oleh warga negara Indonesia maupun warga negara asing atau badan hukum Indonesia maupun badan hukum asing yang memiliki akibat hukum di Indonesia, mengingat pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik dapat bersifat lintas teritorial atau universal.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "merugikan kepentingan Indonesia" adalah meliputi tetapi tidak terbatas pada merugikan kepentingan ekonomi nasional, perlindungan data strategis, harkat dan martabat bangsa, pertahanan dan keamanan negara, kedaulatan negara, warga negara, serta badan hukum Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asas kepastian hukum" berarti landasan hukum bagi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik serta segala sesuatu yang mendukung penyelenggaraannya yang mendapatkan pengakuan hukum di dalam dan di luar pengadilan.&lt;br /&gt;"Asas manfaat" berarti asas bagi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik diupayakan untuk mendukung proses berinformasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;"Asas kehati-hatian" berarti landasan bagi pihak yang bersangkutan harus memperhatikan segenap aspek yang berpotensi mendatangkan kerugian, baik bagi dirinya maupun bagi pihak lain dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik.&lt;br /&gt;"Asas iktikad baik" berarti asas yang digunakan para pihak dalam melakukan Transaksi Elektronik tidak bertujuan untuk secara sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakibatkan kerugian bagi pihak lain tanpa sepengetahuan pihak lain tersebut.&lt;br /&gt;"Asas kebebasan memilih teknologi atau netral teknologi" berarti asas pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik tidak terfokus pada penggunaan teknologi tertentu sehingga dapat mengikuti perkembangan pada masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat yang menurut undang-undang harus dibuat tertulis meliputi tetapi tidak terbatas pada surat berharga, surat yang berharga, dan surat yang digunakan dalam proses penegakan hukum acara perdata, pidana, dan administrasi negara.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini bentuk tertulis identik dengan informasi dan/atau dokumen yang tertuang di atas kertas semata, padahal pada hakikatnya informasi dan/atau dokumen dapat dituangkan ke dalam media apa saja, termasuk media elektronik. Dalam lingkup Sistem Elektronik, informasi yang asli dengan salinannya tidak relevan lagi untuk dibedakan sebab Sistem Elektronik pada dasarnya beroperasi dengan cara penggandaan yang mengakibatkan informasi yang asli tidak dapat dibedakan lagi dari salinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini dimaksudkan bahwa suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat digunakan sebagai alasan timbulnya suatu hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "informasi yang lengkap dan benar" meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. informasi yang memuat identitas serta status subjek hukum dan kompetensinya, baik sebagai produsen, pemasok, penyelenggara maupun perantara;&lt;br /&gt;b. informasi lain yang menjelaskan hal tertentu yang menjadi syarat sahnya perjanjian serta menjelaskan barang dan/atau jasa yang ditawarkan, seperti nama, alamat, dan deskripsi barang/jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi Keandalan dimaksudkan sebagai bukti bahwa pelaku usaha yang melakukan perdagangan secara elektronik layak berusaha setelah melalui penilaian dan audit dari badan yang berwenang. Bukti telah dilakukan Sertifikasi Keandalan ditunjukkan dengan adanya logo sertifikasi berupa trust mark pada laman (home page) pelaku usaha tersebut.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang ini memberikan pengakuan secara tegas bahwa meskipun hanya merupakan suatu kode, Tanda Tangan Elektronik memiliki kedudukan yang sama dengan tanda tangan manual pada umumnya yang memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum.&lt;br /&gt;Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini merupakan persyaratan minimum yang harus dipenuhi dalam setiap Tanda Tangan Elektronik. Ketentuan ini membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun untuk mengembangkan metode, teknik, atau proses pembuatan Tanda Tangan Elektronik.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah dimaksud, antara lain, mengatur tentang teknik, metode, sarana, dan proses pembuatan Tanda Tangan Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah informasi yang minimum harus dipenuhi oleh setiap penyelenggara Tanda Tangan Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andal" artinya Sistem Elektronik memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan penggunaannya.&lt;br /&gt;"Aman" artinya Sistem Elektronik terlindungi secara fisik dan nonfisik.&lt;br /&gt;"Beroperasi sebagaimana mestinya" artinya Sistem Elektronik memiliki kemampuan sesuai dengan spesifikasinya.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bertanggung jawab" artinya ada subjek hukum yang bertanggung jawab secara hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang ini memberikan peluang terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi oleh penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;Pemanfaatan Teknologi Informasi harus dilakukan secara baik, bijaksana, bertanggung jawab, efektif, dan efisien agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan hukum yang dilakukan oleh para pihak dalam kontrak internasional termasuk yang dilakukan secara elektronik dikenal dengan choice of law. Hukum ini mengikat sebagai hukum yang berlaku bagi kontrak tersebut.&lt;br /&gt;Pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik hanya dapat dilakukan jika dalam kontraknya terdapat unsur asing dan penerapannya harus sejalan dengan prinsip hukum perdata internasional (HPI).&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal tidak ada pilihan hukum, penetapan hukum yang berlaku berdasarkan prinsip atau asas hukum perdata internasional yang akan ditetapkan sebagai hukum yang berlaku pada kontrak tersebut.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum yang berwenang mengadili sengketa kontrak internasional, termasuk yang dilakukan secara elektronik, adalah forum yang dipilih oleh para pihak. Forum tersebut dapat berbentuk pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal para pihak tidak melakukan pilihan forum, kewenangan forum berlaku berdasarkan prinsip atau asas hukum perdata internasional. Asas tersebut dikenal dengan asas tempat tinggal tergugat (the basis of presence) dan efektivitas yang menekankan pada tempat harta benda tergugat berada (principle of effectiveness).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "disepakati" dalam pasal ini juga mencakup disepakatinya prosedur yang terdapat dalam Sistem Elektronik yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi Elektronik terjadi pada saat kesepakatan antara para pihak yang dapat berupa, antara lain pengecekan data, identitas, nomor identifikasi pribadi (personal identification number/PIN) atau sandi lewat (password).&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "dikuasakan" dalam ketentuan ini sebaiknya dinyatakan dalam surat kuasa.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "fitur" adalah fasilitas yang memberikan kesempatan kepada pengguna Agen Elektronik untuk melakukan perubahan atas informasi yang disampaikannya, misalnya fasilitas pembatalan (cancel), edit, dan konfirmasi ulang.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Domain berupa alamat atau jati diri penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat, yang perolehannya didasarkan pada prinsip pendaftar pertama (first come first serve).&lt;br /&gt;Prinsip pendaftar pertama berbeda antara ketentuan dalam Nama Domain dan dalam bidang hak kekayaan intelektual karena tidak diperlukan pemeriksaan substantif, seperti pemeriksaan dalam pendaftaran merek dan paten.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "melanggar hak Orang lain", misalnya melanggar merek terdaftar, nama badan hukum terdaftar, nama Orang terkenal, dan nama sejenisnya yang pada intinya merugikan Orang lain.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "penggunaan Nama Domain secara tanpa hak" adalah pendaftaran dan penggunaan Nama Domain yang semata-mata ditujukan untuk menghalangi atau menghambat Orang lain untuk menggunakan nama yang intuitif dengan keberadaan nama dirinya atau nama produknya, atau untuk mendompleng reputasi Orang yang sudah terkenal atau ternama, atau untuk menyesatkan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun dan didaftarkan sebagai karya intelektual, hak cipta, paten, merek, rahasia dagang, desain industri, dan sejenisnya wajib dilindungi oleh Undang-Undang ini dengan memperhatikan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemanfaatan Teknologi Informasi, perlindungan data pribadi merupakan salah satu bagian dari hak pribadi (privacy rights). Hak pribadi mengandung pengertian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hak pribadi merupakan hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan.&lt;br /&gt;b. Hak pribadi merupakan hak untuk dapat berkomunikasi dengan Orang lain tanpa tindakan memata-matai.&lt;br /&gt;c. Hak pribadi merupakan hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis perbuatan yang dilarang sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat dilakukan, antara lain dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. melakukan komunikasi, mengirimkan, memancarkan atau sengaja berusaha mewujudkan hal-hal tersebut kepada siapa pun yang tidak berhak untuk menerimanya; atau&lt;br /&gt;b. sengaja menghalangi agar informasi dimaksud tidak dapat atau gagal diterima oleh yang berwenang menerimanya di lingkungan pemerintah dan/atau pemerintah daerah.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pengamanan adalah sistem yang membatasi akses Komputer atau melarang akses ke dalam Komputer dengan berdasarkan kategorisasi atau klasifikasi pengguna beserta tingkatan kewenangan yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "intersepsi atau penyadapan" adalah kegiatan untuk mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "kegiatan penelitian" adalah penelitian yang dilaksanakan oleh lembaga penelitian yang memiliki izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "lembaga yang dibentuk oleh masyarakat" merupakan lembaga yang bergerak di bidang teknologi informasi dan transaksi elektronik.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf h&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "ahli" adalah seseorang yang memiliki keahlian khusus di bidang Teknologi Informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun praktis mengenai pengetahuannya tersebut.&lt;br /&gt;Huruf i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghukum setiap perbuatan melawan hukum yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37 yang dilakukan oleh korporasi (corporate crime) dan/atau oleh pengurus dan/atau staf yang memiliki kapasitas untuk:&lt;br /&gt;a. mewakili korporasi;&lt;br /&gt;b. mengambil keputusan dalam korporasi;&lt;br /&gt;c. melakukan pengawasan dan pengendalian dalam korporasi;&lt;br /&gt;d. melakukan kegiatan demi keuntungan korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-228604861533538229?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/228604861533538229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/uu-no-11-th-2008-ttginformasi-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/228604861533538229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/228604861533538229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/uu-no-11-th-2008-ttginformasi-dan.html' title='UU NO 11 TH 2008 TTGINFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-7127823116783003847</id><published>2009-09-18T14:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-18T14:39:04.842-07:00</updated><title type='text'>UU NO 12 TH 2008 TTG OTDA</title><content type='html'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 &lt;br /&gt;TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS  UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menimbang:  a.  bahwa dalam  rangka mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  1945, penyelenggaraan  pemerintahan  daerah  diarahkan  agar mampu  melahirkan  kepemimpinan  daerah  yang  efektif dengan  memperhatikan  prinsip  demokrasi,  persamaan, keadilan,  dan  kepastian  hukum  dalam  sistem  Negara Kesatuan Republik Indonesia; &lt;br /&gt;    b.  bahwa  untuk  mewujudkan  kepemimpinan  daerah  yang demokratis  yang  memperhatikan  prinsip  persamaan  dan keadilan,  penyelenggaraan  pemilihan  kepala  pemerintah daerah memberikan  kesempatan  yang  sama  kepada  setiap warga negara yang memenuhi persyaratan; &lt;br /&gt;    c.  bahwa  dalam  penyelenggaraan    pemilihan    kepala  pemerintah  daerah  sebagaimana  diatur  dalam  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan Daerah  telah  terjadi  perubahan,  terutama  setelah  putusan Mahkamah Konstitusi tentang calon perseorangan; &lt;br /&gt;    d.  bahwa  dalam  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004 tentang  Pemerintahan  Daerah  belum  diatur  mengenai pengisian  kekosongan  jabatan  wakil  kepala  daerah  yang menggantikan  kepala  daerah  yang  meninggal  dunia, mengundurkan  diri,  atau  tidak  dapat  melakukan kewajibannya  selama 6  (enam) bulan  secara  terus-menerus &lt;br /&gt;dalam masa jabatannya;   &lt;br /&gt;    e.  bahwa  dalam  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004 tentang  Pemerintahan  Daerah  belum  diatur  mengenai pengisian  kekosongan  jabatan  wakil  kepala  daerah  yang meninggal  dunia,  berhenti,  atau  tidak  dapat  melakukan kewajibannya  selama 6  (enam) bulan  secara  terus-menerus dalam masa jabatannya; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   f.  bahwa  dalam  rangka  efisiensi  dan  efektivitas penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah,  perlu  adanya  pengaturan  untuk mengintegrasikan jadwal  penyelenggaraan  pemilihan  kepala  daerah  sehingga Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang Pemerintahan Daerah perlu diubah;     &lt;br /&gt;    g.  bahwa  berdasarkan  pertimbangan  sebagaimana  dimaksud dalam huruf a,   huruf b,   huruf  c,   huruf d,   huruf  e, dan  huruf  f,  perlu  membentuk  Undang-Undang  tentang Perubahan  Kedua  atas  Undang-Undang  Nomor  32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengingat  :  1.  Pasal 18 ayat (4), Pasal 20, Pasal  27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat  (3)  Undang-Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia Tahun 1945; &lt;br /&gt;  2.  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun  2004  Nomor  125,  Tambahan  Lembaran  Negara &lt;br /&gt;Republik  Indonesia Nomor 4437) sebagaimana  telah diubah dengan  Undang-Undang  Nomor  8  Tahun  2005  tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor  3  Tahun  2005  tentang  Perubahan  atas  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan Daerah  Menjadi  Undang-Undang  (Lembaran  Negara Republik  Indonesia  Tahun  2005  Nomor  108,  Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;DAN  &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG  TENTANG  PERUBAHAN  KEDUA  ATAS &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG  NOMOR  32  TAHUN  2004  TENTANG &lt;br /&gt;PEMERINTAHAN DAERAH. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pasal I &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa  ketentuan  dalam  Undang-Undang  Nomor  32 Tahun  2004  tentang  Pemerintahan Daerah  (Lembaran Negara Republik  Indonesia  Tahun  2004  Nomor  125,  Tambahan Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor  4437),  diubah &lt;br /&gt;sebagai berikut:  &lt;br /&gt;1.  Ketentuan  Pasal  26  ditambah  4  (empat)  ayat,  yakni            &lt;br /&gt;ayat  (4), ayat  (5), ayat  (6), dan ayat  (7), sehingga Pasal 26 &lt;br /&gt;berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 26  &lt;br /&gt;(1)   Wakil kepala daerah mempunyai tugas: &lt;br /&gt;a.  membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan &lt;br /&gt;pemerintahan daerah; &lt;br /&gt;b.  membantu  kepala  daerah  dalam &lt;br /&gt;mengkoordinasikan  kegiatan  instansi  vertikal  di &lt;br /&gt;daerah, menindaklanjuti laporan dan/atau temuan &lt;br /&gt;hasil  pengawasan  aparat  pengawasan, &lt;br /&gt;melaksanakan  pemberdayaan  perempuan  dan &lt;br /&gt;pemuda,  serta mengupayakan  pengembangan  dan &lt;br /&gt;pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup;   &lt;br /&gt;c.  memantau  dan  mengevaluasi  penyelenggaraan &lt;br /&gt;pemerintahan  kabupaten  dan  kota  bagi  wakil &lt;br /&gt;kepala daerah provinsi; &lt;br /&gt;d.  memantau  dan  mengevaluasi  penyelenggaraan &lt;br /&gt;pemerintahan  di  wilayah  kecamatan,  kelurahan &lt;br /&gt;dan/atau  desa  bagi  wakil  kepala  daerah &lt;br /&gt;kabupaten/kota; &lt;br /&gt;e.  memberikan  saran  dan  pertimbangan  kepada &lt;br /&gt;kepala  daerah  dalam  penyelenggaraan  kegiatan &lt;br /&gt;pemerintahan daerah;  &lt;br /&gt;f.  melaksanakan  tugas  dan  kewajiban  pemerintahan &lt;br /&gt;lainnya yang diberikan oleh  kepala daerah; dan &lt;br /&gt;g.  melaksanakan  tugas dan wewenang kepala daerah &lt;br /&gt;apabila kepala daerah berhalangan. &lt;br /&gt;(2)   Dalam  melaksanakan  tugas  sebagaimana  dimaksud &lt;br /&gt;pada ayat  (1), wakil kepala daerah bertanggung  jawab &lt;br /&gt;kepada kepala daerah. &lt;br /&gt;(3) Wakil . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 4 - &lt;br /&gt;(3)   Wakil  kepala  daerah  menggantikan  kepala  daerah &lt;br /&gt;sampai habis masa  jabatannya apabila kepala daerah &lt;br /&gt;meninggal  dunia,  berhenti,  diberhentikan,  atau  tidak &lt;br /&gt;dapat  melakukan  kewajibannya  selama  6  (enam) &lt;br /&gt;bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya. &lt;br /&gt;(4)  Untuk  mengisi  kekosongan  jabatan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  yang &lt;br /&gt;berasal dari partai politik atau gabungan partai politik &lt;br /&gt;dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) &lt;br /&gt;bulan  atau  lebih,  kepala  daerah mengajukan  2  (dua) &lt;br /&gt;orang  calon  wakil  kepala  daerah  berdasarkan  usul &lt;br /&gt;partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  yang &lt;br /&gt;pasangan  calonnya  terpilih  dalam  pemilihan  kepala &lt;br /&gt;daerah  dan  wakil  kepala  daerah  untuk  dipilih  oleh &lt;br /&gt;Rapat Paripurna DPRD.  &lt;br /&gt;(5)   Untuk  mengisi  kekosongan  jabatan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  yang &lt;br /&gt;berasal dari calon perseorangan dan masa jabatannya &lt;br /&gt;masih  tersisa  18  (delapan  belas)  bulan  atau  lebih, &lt;br /&gt;kepala daerah mengajukan 2  (dua)  orang  calon wakil &lt;br /&gt;kepala  daerah  untuk  dipilih  oleh  Rapat  Paripurna &lt;br /&gt;DPRD. &lt;br /&gt;(6)  Dalam  hal  terjadi  kekosongan  jabatan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah yang berasal dari partai politik atau gabungan &lt;br /&gt;partai  politik  karena  meninggal  dunia,  berhenti, &lt;br /&gt;diberhentikan,  atau  tidak  dapat  melakukan &lt;br /&gt;kewajibannya  selama  6  (enam)  bulan  secara  terus-&lt;br /&gt;menerus  dalam  masa  jabatannya  dan  masa &lt;br /&gt;jabatannya  masih  tersisa  18  (delapan  belas)  bulan &lt;br /&gt;atau  lebih,  kepala  daerah mengajukan  2  (dua)  orang &lt;br /&gt;calon  wakil  kepala  daerah  berdasarkan  usul  partai &lt;br /&gt;politik  atau  gabungan  partai  politik  yang  pasangan &lt;br /&gt;calonnya  terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan &lt;br /&gt;wakil  kepala  daerah  untuk  dipilih  oleh  Rapat &lt;br /&gt;Paripurna DPRD.  &lt;br /&gt;(7)  Dalam  hal  terjadi  kekosongan  jabatan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah  yang  berasal  dari  calon  perseorangan  karena &lt;br /&gt;meninggal  dunia,  berhenti,  diberhentikan,  atau  tidak &lt;br /&gt;dapat  melakukan  kewajibannya  selama  6  (enam) &lt;br /&gt;bulan  secara  terus-menerus  dalam masa  jabatannya &lt;br /&gt;dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) &lt;br /&gt;bulan  atau  lebih,  kepala  daerah mengajukan  2  (dua) &lt;br /&gt;orang  calon  wakil  kepala  daerah  untuk  dipilih  oleh &lt;br /&gt;Rapat Paripurna DPRD. &lt;br /&gt;2. Ketentuan . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 5 - &lt;br /&gt;2.   Ketentuan  Pasal  42  ayat  (1)  huruf  i  dihapus  dan &lt;br /&gt;penjelasan huruf e diubah sebagaimana  tercantum dalam &lt;br /&gt;penjelasan, sehingga Pasal 42 berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 42 &lt;br /&gt;(1)   DPRD mempunyai tugas dan wewenang: &lt;br /&gt;a.  membentuk  Perda  yang  dibahas  dengan  kepala &lt;br /&gt;daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama; &lt;br /&gt;b.  membahas  dan  menyetujui  rancangan  Perda &lt;br /&gt;tentang APBD bersama dengan kepala daerah; &lt;br /&gt;c.  melaksanakan  pengawasan  terhadap  pelaksanaan &lt;br /&gt;Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, &lt;br /&gt;peraturan  kepala  daerah,  APBD,  kebijakan &lt;br /&gt;pemerintah  daerah  dalam melaksanakan  program &lt;br /&gt;pembangunan  daerah,  dan  kerja  sama &lt;br /&gt;internasional di daerah; &lt;br /&gt;d.  mengusulkan  pengangkatan  dan  pemberhentian &lt;br /&gt;kepala  daerah/wakil  kepala  daerah  kepada &lt;br /&gt;Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD &lt;br /&gt;Provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui &lt;br /&gt;Gubernur bagi DPRD Kabupaten/Kota; &lt;br /&gt;e.  memilih  wakil  kepala  daerah  dalam  hal  terjadi &lt;br /&gt;kekosongan jabatan wakil kepala daerah; &lt;br /&gt;f.  memberikan  pendapat  dan  pertimbangan  kepada &lt;br /&gt;pemerintah  daerah  terhadap  rencana  perjanjian &lt;br /&gt;internasional di daerah; &lt;br /&gt;g.  memberikan  persetujuan  terhadap  rencana  kerja &lt;br /&gt;sama  internasional  yang  dilakukan  oleh &lt;br /&gt;pemerintah daerah; &lt;br /&gt;h. meminta  laporan  keterangan  pertanggungjawaban &lt;br /&gt;kepala  daerah  dalam  penyelenggaraan &lt;br /&gt;pemerintahan; &lt;br /&gt;i.  dihapus; &lt;br /&gt;j.  melakukan  pengawasan  dan meminta  laporan  KPU &lt;br /&gt;provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota  dalam &lt;br /&gt;penyelenggaraan pemilihan kepala daerah; &lt;br /&gt;k.  memberikan  persetujuan  terhadap  rencana  kerja &lt;br /&gt;sama  antardaerah  dan  dengan  pihak  ketiga  yang &lt;br /&gt;membebani masyarakat dan daerah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2) Selain . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 6 - &lt;br /&gt;(2)   Selain  tugas  dan  wewenang  sebagaimana  dimaksud &lt;br /&gt;pada  ayat  (1),  DPRD  melaksanakan  tugas  dan &lt;br /&gt;wewenang  lain  yang  diatur  dalam  peraturan &lt;br /&gt;perundang-undangan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.   Ketentuan  Pasal  56  ayat  (2)  diubah,  sehingga  Pasal  56 &lt;br /&gt;berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 56 &lt;br /&gt;(1)  Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam &lt;br /&gt;satu  pasangan  calon  yang  dilaksanakan  secara &lt;br /&gt;demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, &lt;br /&gt;rahasia, jujur, dan adil. &lt;br /&gt;(2)   Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) &lt;br /&gt;diusulkan oleh partai politik, gabungan partai politik, &lt;br /&gt;atau  perseorangan  yang  didukung  oleh  sejumlah &lt;br /&gt;orang  yang  memenuhi  persyaratan  sebagaimana &lt;br /&gt;ketentuan dalam Undang-Undang ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.   Ketentuan  Pasal  58  huruf  d  dan  huruf  f  diubah,  huruf  l &lt;br /&gt;dihapus  serta  ditambah  1  (satu)  huruf,  yakni  huruf  q, &lt;br /&gt;sehingga Pasal 58 berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal  58 &lt;br /&gt;Calon  kepala  daerah  dan  wakil  kepala  daerah  adalah &lt;br /&gt;warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat: &lt;br /&gt;a.  bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;  &lt;br /&gt;b.  setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-&lt;br /&gt;Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia              &lt;br /&gt;Tahun  1945,  cita-cita  Proklamasi  Kemerdekaan  17 &lt;br /&gt;Agustus 1945, dan kepada Negara Kesatuan Republik &lt;br /&gt;Indonesia serta Pemerintah;  &lt;br /&gt;c.  berpendidikan  sekurang-kurangnya  sekolah  lanjutan &lt;br /&gt;tingkat atas dan/atau sederajat; &lt;br /&gt;d.  berusia  sekurang-kurangnya  30  (tiga  puluh)  tahun &lt;br /&gt;bagi  calon  gubernur/wakil  gubernur  dan  berusia &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya  25  (dua  puluh  lima)  tahun  bagi &lt;br /&gt;calon  bupati/wakil  bupati  dan  walikota/wakil &lt;br /&gt;walikota; &lt;br /&gt;e.  sehat  jasmani  dan  rohani  berdasarkan  hasil &lt;br /&gt;pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter; &lt;br /&gt;f. tidak . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 7 - &lt;br /&gt;f.  tidak  pernah  dijatuhi  pidana  penjara  berdasarkan &lt;br /&gt;putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan &lt;br /&gt;hukum  tetap  karena melakukan  tindak  pidana  yang &lt;br /&gt;diancam  dengan  pidana  penjara  5  (lima)  tahun  atau &lt;br /&gt;lebih; &lt;br /&gt;g.  tidak  sedang  dicabut  hak  pilihnya  berdasarkan &lt;br /&gt;putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan &lt;br /&gt;hukum tetap;  &lt;br /&gt;h.  mengenal  daerahnya  dan  dikenal  oleh masyarakat  di &lt;br /&gt;daerahnya; &lt;br /&gt;i.  menyerahkan  daftar  kekayaan  pribadi  dan  bersedia &lt;br /&gt;untuk diumumkan; &lt;br /&gt;j.  tidak  sedang  memiliki  tanggungan  utang  secara &lt;br /&gt;perseorangan  dan/atau  secara  badan  hukum  yang &lt;br /&gt;menjadi  tanggung  jawabnya  yang  merugikan &lt;br /&gt;keuangan negara; &lt;br /&gt;k.  tidak  sedang  dinyatakan  pailit  berdasarkan  putusan &lt;br /&gt;pengadilan  yang  telah memperoleh  kekuatan  hukum &lt;br /&gt;tetap; &lt;br /&gt;l.  dihapus; &lt;br /&gt;m.  memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak  (NPWP)  atau bagi &lt;br /&gt;yang  belum  mempunyai  NPWP  wajib  mempunyai &lt;br /&gt;bukti pembayaran pajak; &lt;br /&gt;n.  menyerahkan  daftar  riwayat  hidup  lengkap  yang &lt;br /&gt;memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan &lt;br /&gt;serta keluarga kandung, suami atau istri;  &lt;br /&gt;o.  belum  pernah  menjabat  sebagai  kepala  daerah  atau  &lt;br /&gt;wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan &lt;br /&gt;dalam jabatan yang sama;  &lt;br /&gt;p.  tidak  dalam  status  sebagai  penjabat  kepala  daerah; &lt;br /&gt;dan &lt;br /&gt;q.  mengundurkan  diri  sejak  pendaftaran  bagi  kepala &lt;br /&gt;daerah  dan/atau  wakil  kepala  daerah  yang  masih &lt;br /&gt;menduduki jabatannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5.   Ketentuan Pasal 59 ayat (1) diubah, di antara ayat (2) dan &lt;br /&gt;ayat (3) disisipkan 5 (lima) ayat, yakni ayat (2a), ayat (2b), &lt;br /&gt;ayat  (2c),  ayat  (2d),  dan  ayat  (2e),  ayat  (3)  dihapus,  di &lt;br /&gt;antara ayat (4) dan ayat (5) disisipkan 1 (satu) ayat,  yakni &lt;br /&gt;ayat  (4a),  dan  di  antara  ayat  (5)  dan  ayat  (6)  disisipkan      &lt;br /&gt;2  (dua)  ayat,  yakni  ayat  (5a)  dan  ayat  (5b),  sehingga     &lt;br /&gt;Pasal 59 berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 59 . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 8 - &lt;br /&gt;Pasal 59 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)  Peserta  pemilihan  kepala  daerah  dan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah adalah: &lt;br /&gt;a.  pasangan  calon  yang diusulkan  oleh partai politik &lt;br /&gt;atau gabungan partai politik. &lt;br /&gt;b.  pasangan  calon  perseorangan  yang  didukung  oleh &lt;br /&gt;sejumlah orang. &lt;br /&gt;(2)   Partai  politik  atau  gabungan  partai  politik &lt;br /&gt;sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  a  dapat &lt;br /&gt;mendaftarkan  pasangan  calon  apabila  memenuhi &lt;br /&gt;persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15% (lima &lt;br /&gt;belas persen) dari jumlah kursi DPRD atau  15%  (lima  &lt;br /&gt;belas  persen)  dari  akumulasi  perolehan  suara  sah &lt;br /&gt;dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang &lt;br /&gt;bersangkutan. &lt;br /&gt;(2a) Pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud &lt;br /&gt;pada ayat (1) huruf b dapat mendaftarkan diri sebagai &lt;br /&gt;pasangan  calon  gubernur/wakil  gubernur  apabila &lt;br /&gt;memenuhi syarat dukungan dengan ketentuan: &lt;br /&gt;a.  provinsi  dengan  jumlah  penduduk  sampai  dengan &lt;br /&gt;2.000.000  (dua  juta)  jiwa  harus  didukung &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya  6,5%  (enam  koma  lima &lt;br /&gt;persen); &lt;br /&gt;b.  provinsi  dengan  jumlah  penduduk  lebih  dari &lt;br /&gt;2.000.000  (dua  juta)  sampai  dengan         &lt;br /&gt;6.000.000  (enam  juta)  jiwa  harus  didukung &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 5% (lima persen); &lt;br /&gt;c.  provinsi  dengan  jumlah  penduduk  lebih  dari &lt;br /&gt;6.000.000  (enam  juta)  sampai  dengan     &lt;br /&gt;12.000.000  (dua  belas  juta)  jiwa  harus  didukung &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 4% (empat persen); dan &lt;br /&gt;d.  provinsi  dengan  jumlah  penduduk  lebih  dari &lt;br /&gt;12.000.000  (dua  belas  juta)  jiwa  harus  didukung &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 3% (tiga persen). &lt;br /&gt;(2b) Pasangan calon perseorangan sebagaimana dimaksud &lt;br /&gt;pada ayat (1) huruf b dapat mendaftarkan diri sebagai &lt;br /&gt;pasangan  calon  bupati/wakil  bupati  atau &lt;br /&gt;walikota/wakil  walikota  apabila  memenuhi  syarat &lt;br /&gt;dukungan dengan ketentuan: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. kabupaten/kota . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 9 - &lt;br /&gt;a.  kabupaten/kota      dengan      jumlah      penduduk   &lt;br /&gt;sampai  dengan  250.000  (dua  ratus  lima  puluh  &lt;br /&gt;ribu)  jiwa  harus  didukung  sekurang-kurangnya &lt;br /&gt;6,5% (enam koma lima persen); &lt;br /&gt;b.  kabupaten/kota  dengan  jumlah  penduduk  lebih &lt;br /&gt;dari  250.000  (dua  ratus  lima  puluh  ribu)  sampai &lt;br /&gt;dengan  500.000  (lima  ratus  ribu)  jiwa  harus &lt;br /&gt;didukung sekurang-kurangnya 5% (lima persen); &lt;br /&gt;c.  kabupaten/kota  dengan  jumlah  penduduk  lebih &lt;br /&gt;dari  500.000  (lima    ratus  ribu)  sampai  dengan &lt;br /&gt;1.000.000  (satu  juta)  jiwa  harus  didukung &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 4% (empat persen); dan &lt;br /&gt;d.  kabupaten/kota  dengan  jumlah  penduduk  lebih &lt;br /&gt;dari  1.000.000  (satu  juta)  jiwa  harus  didukung &lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 3% (tiga persen). &lt;br /&gt;(2c)  Jumlah  dukungan  sebagaimana  dimaksud  dalam &lt;br /&gt;Pasal  59  ayat  (2a)  tersebar  di  lebih  dari  50%  (lima &lt;br /&gt;puluh  persen)  jumlah  kabupaten/kota  di  provinsi &lt;br /&gt;dimaksud. &lt;br /&gt;(2d)  Jumlah  dukungan  sebagaimana  dimaksud  dalam &lt;br /&gt;Pasal  59  ayat  (2b)  tersebar  di  lebih  dari  50%  (lima &lt;br /&gt;puluh  persen)  jumlah  kecamatan  di  kabupaten/kota &lt;br /&gt;dimaksud. &lt;br /&gt;(2e)  Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2a) dan &lt;br /&gt;ayat  (2b)  dibuat  dalam  bentuk  surat  dukungan  yang &lt;br /&gt;disertai dengan  fotokopi Kartu Tanda Penduduk  (KTP) &lt;br /&gt;atau surat keterangan tanda penduduk sesuai dengan &lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(3)  Dihapus. &lt;br /&gt;(4)   Dalam    proses    penetapan    pasangan  calon,  partai   &lt;br /&gt;politik  atau  gabungan  partai  politik  memperhatikan   &lt;br /&gt;pendapat dan tanggapan  masyarakat. &lt;br /&gt;(4a)  Dalam  proses  penetapan  pasangan  calon  &lt;br /&gt;perseorangan,  KPU  provinsi  dan/atau  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota  memperhatikan  pendapat  dan &lt;br /&gt;tanggapan masyarakat. &lt;br /&gt;(5)  Partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  pada  saat &lt;br /&gt;mendaftarkan  calon  partai  politik,  wajib &lt;br /&gt;menyerahkan: &lt;br /&gt;a.  surat  pencalonan  yang  ditandatangani  oleh &lt;br /&gt;pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik &lt;br /&gt;yang bergabung; &lt;br /&gt;b. kesepakatan . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 10 - &lt;br /&gt;b.  kesepakatan  tertulis  antarpartai  politik  yang    &lt;br /&gt;bergabung untuk mencalonkan pasangan calon; &lt;br /&gt;c.  surat  pernyataan  tidak  akan menarik  pencalonan &lt;br /&gt;atas  pasangan  yang  dicalonkan  yang &lt;br /&gt;ditandatangani  oleh  pimpinan  partai  politik  atau &lt;br /&gt;para pimpinan partai politik yang bergabung; &lt;br /&gt;d.  surat  pernyataan  kesediaan  yang  bersangkutan &lt;br /&gt;sebagai  calon  kepala  daerah  dan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah secara berpasangan; &lt;br /&gt;e.  surat  pernyataan  tidak  akan  mengundurkan  diri &lt;br /&gt;sebagai pasangan calon; &lt;br /&gt;f.  surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri &lt;br /&gt;dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah &lt;br /&gt;atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan &lt;br /&gt;perundang-undangan; &lt;br /&gt;g.  surat  pernyataan mengundurkan  diri  dari  jabatan &lt;br /&gt;negeri bagi  calon yang berasal dari pegawai negeri &lt;br /&gt;sipil,  anggota  Tentara  Nasional  Indonesia,  dan &lt;br /&gt;anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;h.  surat  pernyataan  tidak  aktif  dari  jabatannya  bagi  &lt;br /&gt;pimpinan  DPRD  tempat  yang  bersangkutan &lt;br /&gt;menjadi  calon  di  daerah  yang  menjadi  wilayah &lt;br /&gt;kerjanya; &lt;br /&gt;i.   surat  pemberitahuan  kepada  pimpinan  bagi &lt;br /&gt;anggota DPR, DPD,  dan DPRD  yang mencalonkan &lt;br /&gt;diri  sebagai  calon kepala daerah dan wakil kepala &lt;br /&gt;daerah; &lt;br /&gt;j.   kelengkapan persyaratan  calon kepala daerah dan &lt;br /&gt;wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam &lt;br /&gt;Pasal 58; dan &lt;br /&gt;k.  visi, misi, dan program dari pasangan calon secara &lt;br /&gt;tertulis. &lt;br /&gt;(5a) Calon  perseorangan  pada  saat  mendaftar  wajib &lt;br /&gt;menyerahkan: &lt;br /&gt;a.  surat  pencalonan  yang  ditandatangani  oleh &lt;br /&gt;pasangan calon perseorangan; &lt;br /&gt;b.  berkas     dukungan     dalam     bentuk   pernyataan   &lt;br /&gt;dukungan  yang  dilampiri  dengan  fotokopi  Kartu &lt;br /&gt;Tanda  Penduduk  atau  surat  keterangan  tanda &lt;br /&gt;penduduk; &lt;br /&gt;c.  surat  pernyataan  tidak  akan  mengundurkan  diri &lt;br /&gt;sebagai pasangan calon; &lt;br /&gt;d. surat . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 11 - &lt;br /&gt;d.  surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri &lt;br /&gt;dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah &lt;br /&gt;atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan &lt;br /&gt;perundang-undangan; &lt;br /&gt;e.  surat  pernyataan mengundurkan  diri  dari  jabatan &lt;br /&gt;negeri bagi  calon yang berasal dari pegawai negeri &lt;br /&gt;sipil,  anggota  Tentara  Nasional  Indonesia,  dan &lt;br /&gt;anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;f.  surat  pernyataan  nonaktif  dari  jabatannya  bagi &lt;br /&gt;pimpinan  DPRD  tempat  yang  bersangkutan &lt;br /&gt;menjadi  calon  kepala  daerah  dan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah di daerah wilayah kerjanya; &lt;br /&gt;g.  surat  pemberitahuan  kepada  pimpinan  bagi &lt;br /&gt;anggota DPR, DPD,  dan DPRD  yang mencalonkan &lt;br /&gt;diri  sebagai  calon kepala daerah dan wakil kepala &lt;br /&gt;daerah; &lt;br /&gt;h.  kelengkapan persyaratan  calon kepala daerah dan &lt;br /&gt;wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam &lt;br /&gt;Pasal 58; dan &lt;br /&gt;i.   visi, misi, dan program dari pasangan calon secara &lt;br /&gt;tertulis. &lt;br /&gt;(5b) Dukungan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (5a) &lt;br /&gt;huruf b hanya diberikan kepada satu pasangan calon &lt;br /&gt;perseorangan. &lt;br /&gt;(6)    Partai  politik  atau  gabungan  partai  politik &lt;br /&gt;sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2)  hanya  dapat &lt;br /&gt;mengusulkan  satu  pasangan  calon  dan  pasangan &lt;br /&gt;calon  tersebut  tidak  dapat  diusulkan  lagi  oleh  partai &lt;br /&gt;politik atau gabungan partai politik lainnya. &lt;br /&gt;(7)  Masa  pendaftaran  pasangan  calon  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (1)  paling  lama  7  (tujuh)  hari &lt;br /&gt;terhitung  sejak  pengumuman  pendaftaran  pasangan &lt;br /&gt;calon. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6.  Di antara Pasal 59 dan Pasal 60 disisipkan 1  (satu) pasal, &lt;br /&gt;yakni Pasal 59A, yang berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 59A &lt;br /&gt;(1)  Verifikasi  dan  rekapitulasi  dukungan  calon &lt;br /&gt;perseorangan  untuk  pemilihan  gubernur/wakil &lt;br /&gt;gubernur  dilakukan  oleh  KPU  provinsi  yang  dibantu &lt;br /&gt;oleh KPU kabupaten/kota, PPK, dan PPS. &lt;br /&gt;(2) Verifikasi . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 12 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2)  Verifikasi  dan  rekapitulasi  dukungan  calon &lt;br /&gt;perseorangan  untuk  pemilihan  bupati/wakil  bupati &lt;br /&gt;dan  walikota/wakil  walikota  dilakukan  oleh  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota yang dibantu oleh PPK dan PPS. &lt;br /&gt;(3)  Bakal pasangan  calon perseorangan untuk pemilihan &lt;br /&gt;bupati/wakil  bupati  dan  walikota/wakil  walikota &lt;br /&gt;menyerahkan  daftar  dukungan  kepada  PPS  untuk &lt;br /&gt;dilakukan verifikasi paling lambat 21 (dua puluh satu) &lt;br /&gt;hari  sebelum  waktu  pendaftaran  pasangan  calon &lt;br /&gt;dimulai. &lt;br /&gt;(4)  Bakal pasangan  calon perseorangan untuk pemilihan &lt;br /&gt;gubernur/wakil  gubernur  menyerahkan  daftar &lt;br /&gt;dukungan    kepada  PPS  untuk  dilakukan  verifikasi &lt;br /&gt;paling  lambat  28  (dua  puluh  delapan)  hari  sebelum &lt;br /&gt;waktu pendaftaran pasangan calon dimulai. &lt;br /&gt;(5)  Verifikasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  dan &lt;br /&gt;ayat  (4)  dilakukan  paling  lama  14  (empat  belas)  hari &lt;br /&gt;sejak  dokumen  dukungan  bakal  pasangan  calon &lt;br /&gt;perseorangan diserahkan.  &lt;br /&gt;(6)  Hasil  verifikasi  dukungan  calon  perseorangan &lt;br /&gt;sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (5)  dituangkan &lt;br /&gt;dalam  berita  acara,  yang  selanjutnya  diteruskan &lt;br /&gt;kepada  PPK  dan  salinan  hasil  verifikasi  disampaikan &lt;br /&gt;kepada bakal pasangan calon.  &lt;br /&gt;(7)  PPK  melakukan  verifikasi  dan  rekapitulasi  jumlah &lt;br /&gt;dukungan  bakal  pasangan  calon  untuk menghindari &lt;br /&gt;adanya  seseorang  yang  memberikan  dukungan &lt;br /&gt;kepada  lebih  dari  satu  bakal  pasangan  calon  dan &lt;br /&gt;adanya  informasi  manipulasi  dukungan  yang &lt;br /&gt;dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari. &lt;br /&gt;(8)  Hasil  verifikasi  dan  rekapitulasi  dukungan  calon &lt;br /&gt;perseorangan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (6) &lt;br /&gt;dituangkan  dalam  berita  acara  yang  selanjutnya &lt;br /&gt;diteruskan  kepada  KPU  kabupaten/kota  dan  salinan &lt;br /&gt;hasil  verifikasi  dan  rekapitulasi  disampaikan  kepada &lt;br /&gt;bakal pasangan calon. &lt;br /&gt;(9)  Dalam  pemilihan  bupati/wakil  bupati  dan &lt;br /&gt;walikota/wakil  walikota,  salinan  hasil  verifikasi  dan &lt;br /&gt;rekapitulasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (8) &lt;br /&gt;dipergunakan  oleh  bakal  pasangan  calon  dari &lt;br /&gt;perseorangan  sebagai  bukti  pemenuhan  persyaratan &lt;br /&gt;dukungan pencalonan. &lt;br /&gt;(10) KPU . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 13 - &lt;br /&gt;(10) KPU  kabupaten/kota  melakukan  verifikasi  dan &lt;br /&gt;rekapitulasi  jumlah  dukungan  bakal  pasangan  calon &lt;br /&gt;untuk  menghindari  adanya  seseorang  yang &lt;br /&gt;memberikan  dukungan  kepada  lebih  dari  satu  bakal &lt;br /&gt;pasangan  calon  dan  adanya  informasi  manipulasi &lt;br /&gt;dukungan  yang  dilaksanakan  paling  lama  7  (tujuh) &lt;br /&gt;hari.  &lt;br /&gt;(11) Hasil  verifikasi  dan  rekapitulasi  dukungan  calon &lt;br /&gt;perseorangan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (10) &lt;br /&gt;dituangkan  dalam  berita  acara  yang  selanjutnya &lt;br /&gt;diteruskan  kepada  KPU  provinsi  dan  salinan  hasil &lt;br /&gt;verifikasi dan  rekapitulasi disampaikan kepada bakal &lt;br /&gt;pasangan  calon  untuk  dipergunakan  sebagai  bukti &lt;br /&gt;pemenuhan  persyaratan  jumlah  dukungan  untuk &lt;br /&gt;pencalonan pemilihan gubernur/wakil gubernur.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7.   Ketentuan Pasal 60 ayat  (2), ayat  (4), dan ayat  (5) diubah, &lt;br /&gt;dan di antara ayat (3) dan ayat (4) disisipkan 3 (tiga) ayat, &lt;br /&gt;yakni  ayat  (3a),  ayat  (3b),  dan  ayat  (3c),  serta  ditambah      &lt;br /&gt;1  (satu)  ayat,  yakni  ayat  (6),  sehingga  Pasal  60  berbunyi &lt;br /&gt;sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 60 &lt;br /&gt;(1)  Pasangan  calon  sebagaimana  dimaksud  dalam     &lt;br /&gt;Pasal  59  ayat  (1)  diteliti  persyaratan  administrasinya &lt;br /&gt;dengan  melakukan  klarifikasi  kepada  instansi &lt;br /&gt;pemerintah  yang  berwenang  dan menerima masukan &lt;br /&gt;dari  masyarakat  terhadap  persyaratan  pasangan &lt;br /&gt;calon. &lt;br /&gt;(2)   Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) &lt;br /&gt;diberitahukan  secara  tertulis  kepada  calon  partai &lt;br /&gt;politik  dengan  tembusan  pimpinan  partai  politik, &lt;br /&gt;gabungan partai politik yang mengusulkan, atau calon &lt;br /&gt;perseorangan  paling  lama  21  (dua  puluh  satu)  hari &lt;br /&gt;terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. &lt;br /&gt;(3)   Apabila  pasangan  calon  partai  politik  atau  gabungan &lt;br /&gt;partai  politik  belum  memenuhi  syarat  atau  ditolak &lt;br /&gt;karena  tidak  memenuhi  syarat  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59 ayat (5), &lt;br /&gt;partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  yang &lt;br /&gt;mengajukan  calon  diberi  kesempatan  untuk &lt;br /&gt;melengkapi  dan/atau memperbaiki  surat  pencalonan &lt;br /&gt;beserta . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 14 - &lt;br /&gt;beserta persyaratan pasangan calon atau mengajukan &lt;br /&gt;calon  baru  paling  lama  7  (tujuh)  hari  sejak  saat &lt;br /&gt;pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPU &lt;br /&gt;provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota. &lt;br /&gt;(3a)  Apabila  belum  memenuhi  syarat  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  dalam  Pasal  58  dan  Pasal  59  ayat  (5a)  &lt;br /&gt;huruf  b, huruf  c, huruf  d, huruf  e, huruf  f, huruf  g, &lt;br /&gt;huruf  h,  dan  huruf  i,  calon  perseorangan  diberi &lt;br /&gt;kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki &lt;br /&gt;surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon &lt;br /&gt;paling  lama  7  (tujuh)  hari  sejak  saat  pemberitahuan &lt;br /&gt;hasil  penelitian  persyaratan  oleh  KPU  provinsi &lt;br /&gt;dan/atau KPU kabupaten/kota. &lt;br /&gt;(3b)  Apabila  belum  memenuhi  syarat  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  dalam  Pasal  59  ayat  (5a)  huruf  a,  calon &lt;br /&gt;perseorangan  diberi  kesempatan  untuk  melengkapi &lt;br /&gt;dan/atau  memperbaiki  surat  pencalonan  beserta &lt;br /&gt;persyaratan  pasangan  calon  paling  lama  14  (empat &lt;br /&gt;belas) hari  sejak  saat  pemberitahuan hasil  penelitian &lt;br /&gt;persyaratan  oleh  KPU  provinsi  dan/atau  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota. &lt;br /&gt;(3c)  Apabila calon perseorangan ditolak oleh KPU provinsi &lt;br /&gt;dan/atau  KPU  kabupaten/kota  karena  tidak &lt;br /&gt;memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam &lt;br /&gt;Pasal 58 atau Pasal 59 ayat (5a), pasangan calon tidak &lt;br /&gt;dapat mencalonkan kembali. &lt;br /&gt;(4)   KPU  provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota &lt;br /&gt;melakukan  penelitian  ulang  tentang  kelengkapan &lt;br /&gt;dan/atau  perbaikan  persyaratan  calon  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (3),  ayat  (3a),  dan  ayat  (3b) &lt;br /&gt;sekaligus  memberitahukan  hasil  penelitian  tersebut &lt;br /&gt;paling  lama  14  (empat  belas)  hari  kepada  pimpinan &lt;br /&gt;partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  yang &lt;br /&gt;mengusulkannya atau calon perseorangan. &lt;br /&gt;(5)  Apabila  hasil  penelitian  berkas  calon  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (4)  tidak memenuhi  syarat  dan &lt;br /&gt;ditolak  oleh  KPU  provinsi  dan/atau  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota,  partai  politik,  gabungan  partai &lt;br /&gt;politik,  atau  calon  perseorangan  tidak  dapat  lagi &lt;br /&gt;mengajukan calon. &lt;br /&gt;(6)   Ketentuan  lebih  lanjut mengenai  tata  cara  penelitian &lt;br /&gt;persyaratan  administrasi  pasangan  calon &lt;br /&gt;sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  diatur  dengan &lt;br /&gt;peraturan KPU. &lt;br /&gt;8. Ketentuan . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 15 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8.    Ketentuan Pasal 62 ayat (1) diubah, dan di antara ayat (1) &lt;br /&gt;dan  ayat  (2)  disisipkan  3  (tiga)  ayat,  yakni  ayat  (1a),      &lt;br /&gt;ayat (1b), dan ayat (1c), serta ditambah 1 (satu) ayat, yakni &lt;br /&gt;ayat (3), sehingga Pasal 62 berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 62 &lt;br /&gt;(1)  Partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  dilarang &lt;br /&gt;menarik  calonnya dan/atau pasangan  calonnya  serta &lt;br /&gt;pasangan  calon  atau  salah  seorang  dari  pasangan &lt;br /&gt;calon  dilarang  mengundurkan  diri  terhitung  sejak &lt;br /&gt;ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU provinsi &lt;br /&gt;dan/atau KPU kabupaten/kota. &lt;br /&gt;(1a)  Pasangan  calon  perseorangan  atau  salah  seorang  di &lt;br /&gt;antaranya dilarang mengundurkan diri terhitung sejak &lt;br /&gt;ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU provinsi &lt;br /&gt;dan/atau KPU kabupaten/kota. &lt;br /&gt;(1b)  Pasangan  calon  perseorangan  atau  salah  seorang  di &lt;br /&gt;antaranya  yang  mengundurkan  diri  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (1a)  dikenai  sanksi  tidak  dapat &lt;br /&gt;mencalonkan  diri  atau  dicalonkan  oleh  partai &lt;br /&gt;politik/gabungan  partai  politik  sebagai  calon  kepala &lt;br /&gt;daerah/wakil  kepala  daerah  untuk  selamanya  di &lt;br /&gt;seluruh wilayah Republik Indonesia. &lt;br /&gt;(1c)  Apabila  pasangan  calon  perseorangan  atau  salah &lt;br /&gt;seorang  di  antaranya  mengundurkan  diri &lt;br /&gt;sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1a)  setelah &lt;br /&gt;ditetapkan oleh KPU sebagai pasangan calon sehingga &lt;br /&gt;tinggal 1 (satu) pasang calon, pasangan calon tersebut &lt;br /&gt;dikenai sanksi sebagaimana diatur pada ayat (1b) dan &lt;br /&gt;denda sebesar Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar &lt;br /&gt;rupiah). &lt;br /&gt;(2)  Apabila  partai  politik  atau  gabungan  partai  politik &lt;br /&gt;menarik  calonnya  sebagaimana  dimaksud  pada  &lt;br /&gt;ayat  (1),  partai  politik  atau  gabungan  partai &lt;br /&gt;politik  yang  mencalonkan  tidak  dapat  mengusulkan &lt;br /&gt;calon pengganti. &lt;br /&gt;(3)  Apabila  pasangan  calon  perseorangan  atau  salah &lt;br /&gt;seorang  di  antaranya  mengundurkan  diri &lt;br /&gt;sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1a),  pasangan &lt;br /&gt;calon  perseorangan  dimaksud  dinyatakan  gugur  dan &lt;br /&gt;tidak dapat diganti pasangan calon perseorangan lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Ketentuan . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 16 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9.    Ketentuan  Pasal  63  ayat  (1)  dan  ayat  (3)  diubah,  dan  di &lt;br /&gt;antara ayat  (1) dan ayat  (2) disisipkan 2  (dua) ayat, yakni &lt;br /&gt;ayat  (1a)  dan  ayat  (1b),  serta  ditambah  4  (empat)  ayat, &lt;br /&gt;yakni  ayat  (4),  ayat  (5),  ayat  (6),  dan  ayat  (7),  sehingga &lt;br /&gt;Pasal 63 berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 63 &lt;br /&gt;(1)  Dalam  hal  salah  satu  calon  atau  pasangan  calon &lt;br /&gt;meninggal  dunia  sejak  penetapan  calon  sampai  pada &lt;br /&gt;saat  dimulainya  hari  kampanye,  partai  politik  atau &lt;br /&gt;gabungan  partai  politik  yang  pasangan  calonnya &lt;br /&gt;meninggal dunia dapat mengusulkan pasangan  calon &lt;br /&gt;pengganti  paling  lama  3  (tiga)  hari  sejak  pasangan &lt;br /&gt;calon meninggal dunia.  &lt;br /&gt;(1a) KPU  provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota &lt;br /&gt;melakukan  penelitian  persyaratan  administrasi &lt;br /&gt;pasangan  calon  pengganti  sebagaimana  dimaksud &lt;br /&gt;pada  ayat  (1)  dan  menetapkannya  paling  lama           &lt;br /&gt;4 (empat) hari terhitung sejak tanggal pendaftaran.  &lt;br /&gt;(1b)  Dalam  hal  salah  seorang  dari  atau  pasangan  calon &lt;br /&gt;meninggal dunia sejak penetapan calon sampai pada &lt;br /&gt;saat  dimulainya  hari  kampanye  sehingga  jumlah &lt;br /&gt;pasangan  calon  kurang  dari  2  (dua)  pasangan,  KPU &lt;br /&gt;provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota  membuka &lt;br /&gt;kembali  pendaftaran  pengajuan  pasangan  calon &lt;br /&gt;paling lama 10 (sepuluh) hari. &lt;br /&gt;(2)  Dalam    hal  salah  satu  calon  atau  pasangan  calon &lt;br /&gt;meninggal  dunia  pada  saat  dimulainya  kampanye &lt;br /&gt;sampai  hari  pemungutan  suara  dan  masih  terdapat  &lt;br /&gt;2      (dua)     pasangan     calon     atau      lebih,      tahapan &lt;br /&gt;pelaksanaan  pemilihan  kepala  daerah  dan  wakil &lt;br /&gt;kepala  daerah  dilanjutkan  dan  pasangan  calon  yang &lt;br /&gt;meninggal dunia  tidak dapat diganti serta dinyatakan &lt;br /&gt;gugur. &lt;br /&gt;(3)  Dalam hal  salah  seorang  atau  pasangan  calon  partai &lt;br /&gt;politik  atau  gabungan  partai  politik meninggal  dunia &lt;br /&gt;pada  saat  dimulainya  kampanye  sampai  hari &lt;br /&gt;pemungutan  suara,  calon  kurang  dari  2  (dua) &lt;br /&gt;pasangan  tahapan  pelaksanaan  pemilihan  kepala &lt;br /&gt;daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling  lama &lt;br /&gt;60 (enam puluh) hari. &lt;br /&gt;(4) Partai . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 17 - &lt;br /&gt;(4)  Partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  yang &lt;br /&gt;pasangan  calonnya  meninggal  dunia  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (3) mengusulkan pasangan calon &lt;br /&gt;pengganti  paling  lama  7  (tujuh)  hari  sejak  pasangan &lt;br /&gt;calon meninggal dunia.  &lt;br /&gt;(5)  KPU  provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota &lt;br /&gt;melakukan  penelitian  persyaratan  administrasi &lt;br /&gt;usulan  pasangan  calon  pengganti  sebagaimana  &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (4)  dan  menetapkannya  paling &lt;br /&gt;lama  21  (dua  puluh  satu)  hari  terhitung  sejak &lt;br /&gt;pendaftaran pasangan calon pengganti.  &lt;br /&gt;(6)  Dalam  hal  salah  seorang  atau  pasangan  calon &lt;br /&gt;perseorangan berhalangan tetap pada saat dimulainya &lt;br /&gt;kampanye  sampai  dengan  hari  pemungutan  suara &lt;br /&gt;sehingga  jumlah pasangan  calon kurang dari 2  (dua) &lt;br /&gt;pasangan,  tahapan  pelaksanaan  pemilihan  kepala &lt;br /&gt;daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling  lama &lt;br /&gt;60 (enam puluh) hari. &lt;br /&gt;(7)  KPU  provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota &lt;br /&gt;membuka  kembali  pendaftaran  pengajuan  pasangan &lt;br /&gt;calon  perseorangan  sebagaimana  dimaksud  pada   &lt;br /&gt;ayat (6) paling lama 30 (tiga puluh) hari. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10.  Ketentuan Pasal 64 ayat (2) diubah, dan ditambah 1 (satu) &lt;br /&gt;ayat,  yakni  ayat  (3),  sehingga  Pasal  64  berbunyi  sebagai &lt;br /&gt;berikut: &lt;br /&gt;Pasal 64 &lt;br /&gt;(1)   Dalam  hal  salah  seorang  atau  pasangan  calon &lt;br /&gt;berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran &lt;br /&gt;pertama  sampai  dimulainya  hari  pemungutan  suara &lt;br /&gt;putaran  kedua,  tahapan  pelaksanaan  pemilihan &lt;br /&gt;kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling &lt;br /&gt;lama 30 (tiga puluh) hari. &lt;br /&gt;(2)  Partai  politik  atau  gabungan  partai  politik  yang &lt;br /&gt;pasangan  calonnya  berhalangan  tetap  mengusulkan &lt;br /&gt;pasangan  calon  pengganti  paling  lambat  3  (tiga)  hari &lt;br /&gt;sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (1)  dan  KPU  provinsi  dan/atau &lt;br /&gt;KPU  kabupaten/kota  melakukan  penelitian &lt;br /&gt;persyaratan  administrasi  dan  menetapkan  pasangan &lt;br /&gt;calon  pengganti  paling  lama  4  (empat)  hari  terhitung &lt;br /&gt;sejak pendaftaran pasangan calon pengganti. &lt;br /&gt;(3) Dalam . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 18 - &lt;br /&gt;(3)  Dalam  hal  salah  seorang  atau  pasangan  calon &lt;br /&gt;perseorangan berhalangan tetap pada saat dimulainya &lt;br /&gt;pemungutan  suara  putaran  kedua  sehingga  jumlah &lt;br /&gt;pasangan  calon  kurang  dari  2  (dua)  pasangan,  KPU &lt;br /&gt;provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota menetapkan &lt;br /&gt;pasangan  yang  memperoleh  suara  terbanyak  ketiga &lt;br /&gt;pada putaran pertama sebagai pasangan calon untuk &lt;br /&gt;putaran kedua. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11.  Ketentuan  Pasal  75  ayat  (3)  diubah,  sehingga  Pasal  75 &lt;br /&gt;berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 75 &lt;br /&gt;(1)  Kampanye  dilaksanakan  sebagai  bagian  dari &lt;br /&gt;penyelenggaraan  pemilihan  kepala  daerah  dan  wakil &lt;br /&gt;kepala daerah. &lt;br /&gt;(2)  Kampanye  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) &lt;br /&gt;dilakukan  selama 14  (empat belas) hari dan berakhir &lt;br /&gt;3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. &lt;br /&gt;(3)   Kampanye  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) &lt;br /&gt;diselenggarakan  oleh  tim  kampanye  yang  dibentuk &lt;br /&gt;oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau &lt;br /&gt;gabungan  partai  politik  yang mengusulkan  atau  oleh &lt;br /&gt;pasangan calon perseorangan. &lt;br /&gt;(4)  Tim  kampanye  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3) &lt;br /&gt;didaftarkan  ke  KPU  provinsi  dan/atau  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota  bersamaan  dengan  pendaftaran &lt;br /&gt;pasangan calon. &lt;br /&gt;(5)  Kampanye  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) &lt;br /&gt;dilakukan  secara bersama-sama atau  secara  terpisah   &lt;br /&gt;oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. &lt;br /&gt;(6)  Penanggung  jawab  kampanye  adalah  pasangan    &lt;br /&gt;calon,  yang  pelaksanaannya  dipertanggungjawabkan &lt;br /&gt;oleh tim kampanye. &lt;br /&gt;(7)  Tim  kampanye  dapat  dibentuk  secara  berjenjang  di &lt;br /&gt;provinsi,  kabupaten/kota  bagi  pasangan  calon &lt;br /&gt;gubernur  dan  wakil  gubernur  dan  kabupaten/kota &lt;br /&gt;dan  kecamatan  bagi  pasangan  calon  bupati/wakil &lt;br /&gt;bupati dan walikota/wakil walikota. &lt;br /&gt;(8)  Dalam  kampanye,  rakyat  mempunyai  kebebasan   &lt;br /&gt;untuk menghadiri kampanye. &lt;br /&gt;(9) Jadwal . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 19 - &lt;br /&gt;(9)  Jadwal  pelaksanaan  kampanye  ditetapkan  oleh  KPU &lt;br /&gt;provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota  dengan &lt;br /&gt;memperhatikan usul dari pasangan calon. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12.  Ketentuan Pasal 107 ayat (2) dan ayat (4) diubah, sehingga &lt;br /&gt;Pasal 107 berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 107 &lt;br /&gt;(1)  Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah &lt;br /&gt;yang  memperoleh  suara  lebih  dari  50  %  (lima  puluh &lt;br /&gt;persen)  jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan &lt;br /&gt;calon terpilih. &lt;br /&gt;(2)  Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) &lt;br /&gt;tidak  terpenuhi,  pasangan  calon  kepala  daerah  dan &lt;br /&gt;wakil kepala daerah yang memperoleh suara  lebih dari &lt;br /&gt;30%  (tiga  puluh  persen)  dari  jumlah  suara  sah, &lt;br /&gt;pasangan  calon  yang  perolehan  suaranya  terbesar &lt;br /&gt;dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. &lt;br /&gt;(3)  Dalam  hal  pasangan  calon  yang  perolehan  suara &lt;br /&gt;terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat  (2)  terdapat &lt;br /&gt;lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya &lt;br /&gt;sama,  penentuan  pasangan  calon  terpilih  dilakukan &lt;br /&gt;berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. &lt;br /&gt;(4)  Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) &lt;br /&gt;tidak  terpenuhi,  atau  tidak  ada  yang  mencapai         &lt;br /&gt;30%  (tiga  puluh  persen)  dari  jumlah  suara  sah, &lt;br /&gt;dilakukan  pemilihan  putaran  kedua  yang  diikuti  oleh &lt;br /&gt;pemenang pertama dan pemenang kedua. &lt;br /&gt;(5)  Apabila  pemenang  pertama  sebagaimana  dimaksud &lt;br /&gt;pada  ayat  (4)  diperoleh  dua  pasangan  calon,  kedua &lt;br /&gt;pasangan  calon  tersebut  berhak  mengikuti  pemilihan &lt;br /&gt;putaran kedua. &lt;br /&gt;(6)  Apabila  pemenang  pertama  sebagaimana  dimaksud &lt;br /&gt;pada  ayat  (4)  diperoleh  oleh  tiga  pasangan  calon  atau &lt;br /&gt;lebih,  penentuan  peringkat  pertama  dan  kedua &lt;br /&gt;dilakukan  berdasarkan  wilayah  perolehan  suara  yang &lt;br /&gt;lebih luas. &lt;br /&gt;(7)  Apabila pemenang kedua  sebagaimana dimaksud pada &lt;br /&gt;ayat  (4) diperoleh  oleh  lebih dari  satu pasangan  calon, &lt;br /&gt;penentuannya  dilakukan  berdasarkan  wilayah &lt;br /&gt;perolehan suara yang lebih luas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(8) Pasangan . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 20 - &lt;br /&gt;(8)  Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah &lt;br /&gt;yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua &lt;br /&gt;dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13.  Di antara ayat (5) dan ayat (6) Pasal 108 disisipkan 1 (satu) &lt;br /&gt;ayat, yakni ayat (5a), sehingga Pasal 108 berbunyi sebagai &lt;br /&gt;berikut: &lt;br /&gt;Pasal 108 &lt;br /&gt;(1)    Dalam  hal  calon  wakil  kepala  daerah  terpilih &lt;br /&gt;berhalangan  tetap,  calon  kepala  daerah  terpilih &lt;br /&gt;dilantik menjadi kepala daerah. &lt;br /&gt;(2)  Kepala  daerah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) &lt;br /&gt;mengusulkan  dua  calon wakil  kepala  daerah  kepada &lt;br /&gt;DPRD untuk dipilih. &lt;br /&gt;(3)  Dalam  hal  calon  kepala  daerah  terpilih  berhalangan &lt;br /&gt;tetap,  calon  wakil  kepala  daerah  terpilih  dilantik &lt;br /&gt;menjadi kepala daerah. &lt;br /&gt;(4)  Kepala  daerah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3) &lt;br /&gt;mengusulkan  dua  calon wakil  kepala  daerah  kepada &lt;br /&gt;DPRD untuk dipilih. &lt;br /&gt;(5)   Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap, &lt;br /&gt;partai politik,  gabungan partai politik  yang pasangan &lt;br /&gt;calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua &lt;br /&gt;mengusulkan  pasangan  calon  kepada  DPRD  untuk &lt;br /&gt;dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah &lt;br /&gt;selambat-lambatnya  dalam  waktu  60  (enam  puluh) &lt;br /&gt;hari. &lt;br /&gt;(5a)  Dalam  hal  pasangan  calon  terpilih  dari  calon &lt;br /&gt;perseorangan berhalangan tetap, pasangan calon yang &lt;br /&gt;meraih  suara  terbanyak  kedua  dan  ketiga  diusulkan &lt;br /&gt;KPU  provinsi  dan/atau  KPU  kabupaten/kota  kepada &lt;br /&gt;DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil &lt;br /&gt;kepala daerah paling lama 30 (tiga puluh) hari. &lt;br /&gt;(6)  Untuk  memilih  wakil  kepala  daerah  sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud  pada  ayat  (2)  dan  ayat  (4),  pemilihannya &lt;br /&gt;dilakukan selambat-lambatnya dalam waktu 60 (enam &lt;br /&gt;puluh) hari. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14.  Ketentuan  Pasal  115  ditambah  3  (tiga)  ayat,  yakni         &lt;br /&gt;ayat (7), ayat (8), dan ayat (9), sehingga Pasal 115 berbunyi &lt;br /&gt;sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 115 . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 21 - &lt;br /&gt;Pasal 115 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)   Setiap  orang  yang  dengan  sengaja  memberikan &lt;br /&gt;keterangan  yang  tidak  benar  mengenai  diri  sendiri &lt;br /&gt;atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan &lt;br /&gt;untuk  pengisian  daftar  pemilih,  diancam  dengan &lt;br /&gt;pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling &lt;br /&gt;lama  12  (dua  belas)  bulan  dan  denda  paling  sedikit &lt;br /&gt;Rp3.000.000,00  (tiga  juta  rupiah)  dan  paling  banyak &lt;br /&gt;Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah). &lt;br /&gt;(2)   Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang &lt;br /&gt;lain  kehilangan  hak  pilihnya  dan  orang  yang &lt;br /&gt;kehilangan  hak  pilihnya  tersebut  mengadukan, &lt;br /&gt;diancam  dengan  pidana  penjara  paling  singkat         &lt;br /&gt;12  (dua  belas)  bulan  dan  paling  lama 24  (dua  puluh &lt;br /&gt;empat)  bulan  dan  denda  paling  sedikit &lt;br /&gt;Rp12.000.000,00  (dua  belas  juta  rupiah)  dan  paling &lt;br /&gt;banyak  Rp24.000.000,00  (dua  puluh  empat  juta &lt;br /&gt;rupiah). &lt;br /&gt;(3)   Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat &lt;br /&gt;yang  menurut  suatu  aturan  dalam  Undang-Undang &lt;br /&gt;ini  diperlukan  untuk  menjalankan  suatu  perbuatan &lt;br /&gt;dengan maksud untuk digunakan  sendiri  atau  orang &lt;br /&gt;lain  sebagai  seolah-olah  surat  sah  atau  tidak &lt;br /&gt;dipalsukan,  diancam  dengan  pidana  penjara  paling &lt;br /&gt;singkat  36  (tiga  puluh  enam)  bulan  dan  paling  lama &lt;br /&gt;72  (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling  sedikit &lt;br /&gt;Rp36.000.000,00  (tiga  puluh  enam  juta  rupiah)  dan &lt;br /&gt;paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta &lt;br /&gt;rupiah). &lt;br /&gt;(4)   Setiap  orang  yang  dengan  sengaja  dan  mengetahui &lt;br /&gt;bahwa  suatu  surat  sebagaimana  dimaksud  pada     &lt;br /&gt;ayat  (3)  adalah  tidak  sah  atau  dipalsukan, &lt;br /&gt;menggunakannya,  atau  menyuruh  orang  lain &lt;br /&gt;menggunakannya sebagai surat sah, diancam dengan &lt;br /&gt;pidana  penjara  paling  singkat  36  (tiga  puluh  enam) &lt;br /&gt;bulan  dan  paling  lama  72  (tujuh  puluh  dua)  bulan &lt;br /&gt;dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh &lt;br /&gt;enam  juta  rupiah)  dan  paling  banyak &lt;br /&gt;Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). &lt;br /&gt;(5)   Setiap  orang  yang  dengan  kekerasan  atau  dengan &lt;br /&gt;ancaman  kekuasaan  yang  ada  padanya  saat &lt;br /&gt;pendaftaran  pemilih  menghalang-halangi  seseorang &lt;br /&gt;untuk  terdaftar  sebagai  pemilih  dalam  pemilihan &lt;br /&gt;kepala daerah menurut Undang-Undang  ini, diancam &lt;br /&gt;dengan . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 22 - &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;  dengan  pidana  penjara  paling  singkat  12  (dua  belas) &lt;br /&gt;bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan dan &lt;br /&gt;denda paling sedikit Rp12.000.000,00  (dua belas  juta &lt;br /&gt;rupiah)  dan  paling  banyak  Rp36.000.000,00  (tiga &lt;br /&gt;puluh enam juta rupiah). &lt;br /&gt;(6)   Setiap  orang  yang  dengan  sengaja  memberikan &lt;br /&gt;keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat &lt;br /&gt;palsu  seolah-olah  sebagai  surat  yang  sah  tentang   &lt;br /&gt;suatu  hal  yang  diperlukan  bagi  persyaratan  untuk  &lt;br /&gt;menjadi  pasangan  calon  kepala  daerah/wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah,  diancam  dengan  pidana  penjara  paling &lt;br /&gt;singkat  36  (tiga  puluh  enam)  bulan  dan  paling  lama &lt;br /&gt;72  (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling  sedikit &lt;br /&gt;Rp36.000.000,00  (tiga  puluh  enam  juta  rupiah)  dan &lt;br /&gt;paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta &lt;br /&gt;rupiah). &lt;br /&gt;(7)   Setiap  orang  yang  dengan  sengaja  memberikan &lt;br /&gt;keterangan  yang  tidak  benar  atau  menggunakan &lt;br /&gt;identitas diri palsu untuk mendukung bakal pasangan &lt;br /&gt;calon  perseorangan  kepala  daerah  dan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  59 &lt;br /&gt;diancam  dengan  pidana  penjara  paling  singkat         &lt;br /&gt;12  (dua  belas)  bulan  dan  paling  lama  36  (tiga  puluh &lt;br /&gt;enam)  bulan  dan  denda  paling  sedikit &lt;br /&gt;Rp12.000.000,00  (dua  belas  juta  rupiah)  dan  paling &lt;br /&gt;banyak  Rp36.000.000,00  (tiga  puluh  enam  juta &lt;br /&gt;rupiah). &lt;br /&gt;(8)  Anggota  PPS,  anggota  PPK,  anggota  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota,  dan  anggota  KPU  provinsi  yang &lt;br /&gt;dengan  sengaja  memalsukan  daftar  dukungan &lt;br /&gt;terhadap  calon  perseorangan  sebagaimana  diatur &lt;br /&gt;dalam  Undang-Undang  ini,  diancam  dengan  pidana &lt;br /&gt;penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan &lt;br /&gt;paling  lama  72  (tujuh  puluh  dua)  bulan  dan  denda &lt;br /&gt;paling sedikit Rp36.000.000,00  (tiga puluh enam  juta &lt;br /&gt;rupiah)  dan  paling  banyak  Rp72.000.000,00  (tujuh &lt;br /&gt;puluh dua juta rupiah). &lt;br /&gt;(9)  Anggota  PPS,  anggota  PPK,  anggota  KPU &lt;br /&gt;kabupaten/kota,  dan  anggota  KPU  provinsi  yang &lt;br /&gt;dengan  sengaja  tidak  melakukan  verifikasi  dan &lt;br /&gt;rekapitulasi  terhadap  calon  perseorangan &lt;br /&gt;sebagaimana  diatur  dalam  Undang-Undang  ini, &lt;br /&gt;diancam  dengan  pidana  penjara  paling  singkat         &lt;br /&gt;36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh &lt;br /&gt;puluh . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 23 - &lt;br /&gt;puluh  dua)  bulan  dan  denda  paling  sedikit &lt;br /&gt;Rp36.000.000,00  (tiga  puluh  enam  juta  rupiah)  dan &lt;br /&gt;paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta &lt;br /&gt;rupiah). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15.   Ketentuan Pasal 233 ayat (1) dihapus, ayat (2) diubah, dan &lt;br /&gt;ditambah 1  (satu) ayat, yakni ayat  (3), sehingga Pasal 233 &lt;br /&gt;berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 233 &lt;br /&gt;(1)  Dihapus. &lt;br /&gt;(2)  Pemungutan  suara  dalam  pemilihan  kepala  daerah &lt;br /&gt;dan  wakil  kepala  daerah  yang  masa  jabatannya &lt;br /&gt;berakhir  pada  bulan  November  2008  sampai  dengan &lt;br /&gt;bulan  Juli  2009  diselenggarakan  berdasarkan &lt;br /&gt;Undang-Undang  ini  paling  lama  pada  bulan       &lt;br /&gt;Oktober 2008. &lt;br /&gt;(3)  Dalam  hal  terjadi  pemilihan  kepala  daerah  putaran &lt;br /&gt;kedua,  pemungutan  suara  diselenggarakan  paling &lt;br /&gt;lama pada bulan Desember 2008. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;16.  Ketentuan  Pasal  235  diubah  dan  ditambah  1  (satu)  ayat, &lt;br /&gt;yakni  ayat  (2),  sehingga  Pasal  235  berbunyi  sebagai &lt;br /&gt;berikut: &lt;br /&gt;Pasal 235 &lt;br /&gt;(1)  Pemungutan  suara  dalam  pemilihan  gubernur  dan &lt;br /&gt;wakil  gubernur,  bupati  dan  wakil  bupati,  serta &lt;br /&gt;walikota  dan wakil walikota  dalam  satu  daerah  yang &lt;br /&gt;sama  yang  berakhir  masa  jabatannya  pada          &lt;br /&gt;tahun  2008  sampai  dengan  Juli  2009  dapat &lt;br /&gt;diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama. &lt;br /&gt;(2)  Pemungutan  suara  dalam  pemilihan  gubernur  dan &lt;br /&gt;wakil  gubernur,  bupati  dan  wakil  bupati,  serta &lt;br /&gt;walikota dan wakil walikota   dalam satu daerah yang &lt;br /&gt;sama  yang  berakhir  masa  jabatannya  dalam  kurun &lt;br /&gt;waktu  90  (sembilan  puluh)  hari,  setelah  bulan  Juli &lt;br /&gt;2009  diselenggarakan  pada  hari  dan  tanggal  yang &lt;br /&gt;sama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17. Di . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 24 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17.  Di  antara  Pasal  236  dan  Pasal  237  disisipkan  3  (tiga) &lt;br /&gt;pasal, yakni Pasal 236A, Pasal 236B, dan Pasal 236C, yang &lt;br /&gt;berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pasal 236A &lt;br /&gt;Dalam hal  penyelenggaraan  pemilihan  kepala  daerah  dan &lt;br /&gt;wakil  kepala  daerah  akan  berlangsung  sebelum &lt;br /&gt;terbentuknya  panitia  pengawas  pemilihan  oleh  Badan &lt;br /&gt;Pengawas  Pemilu,  DPRD  berwenang  membentuk  panitia &lt;br /&gt;pengawas  pemilihan  kepala  daerah  dan  wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 236B &lt;br /&gt;Pada  saat  berlakunya  Undang-Undang  ini,  kepala &lt;br /&gt;daerah/wakil kepala daerah  yang  sudah  terdaftar  sebagai &lt;br /&gt;calon  kepala  daerah/wakil  kepala  daerah  tidak &lt;br /&gt;mengundurkan diri dari jabatannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 236C &lt;br /&gt;Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan &lt;br /&gt;kepala  daerah  dan  wakil  kepala  daerah  oleh  Mahkamah &lt;br /&gt;Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama &lt;br /&gt;18  (delapan  belas)  bulan  sejak  Undang-Undang  ini &lt;br /&gt;diundangkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;18.  Di  antara  Pasal  239  dan  Pasal  240  disisipkan  1(satu) &lt;br /&gt;pasal, yakni Pasal 239A, yang berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal  239A &lt;br /&gt;Pada  saat  Undang-Undang  ini  mulai  berlaku,  semua &lt;br /&gt;ketentuan  dalam  peraturan  perundang-undangan  yang &lt;br /&gt;bertentangan dengan Undang-Undang ini dinyatakan tidak &lt;br /&gt;berlaku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal II &lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agar . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 25 - &lt;br /&gt;Agar  setiap  orang  mengetahuinya,  memerintahkan  &lt;br /&gt;pengundangan  Undang-Undang  ini  dengan &lt;br /&gt;penempatannya  dalam  Lembaran  Negara  Republik &lt;br /&gt;Indonesia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta &lt;br /&gt;pada tanggal 28 April 2008 &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        ttd. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta &lt;br /&gt;pada tanggal 28 April 2008 &lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI  MANUSIA &lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ANDI MATTALATTA &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 59&lt;br /&gt;Salinan sesuai dengan aslinya &lt;br /&gt;SEKRETARIAT NEGARA RI &lt;br /&gt;Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan &lt;br /&gt;Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wisnu Setiawan  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENJELASAN &lt;br /&gt;ATAS &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;NOMOR 12 TAHUN 2008 &lt;br /&gt;TENTANG &lt;br /&gt;PERUBAHAN KEDUA ATAS &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN  2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I.  UMUM &lt;br /&gt;  Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia &lt;br /&gt;Tahun 1945, wilayah Negara Kesatuan Republik  Indonesia dibagi atas daerah &lt;br /&gt;provinsi dan daerah provinsi dibagi lagi atas daerah kabupaten dan kota, yang &lt;br /&gt;masing-masing  sebagai  daerah  otonom.  Sebagai  daerah  otonom,  daerah &lt;br /&gt;provinsi  dan  kabupaten/kota  memiliki  pemerintahan  daerah  yang &lt;br /&gt;melaksanakan  fungsi-fungsi  pemerintahan  daerah,  yakni  Pemerintah  Daerah &lt;br /&gt;dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah  (DPRD). Kepala Daerah  adalah Kepala &lt;br /&gt;Pemerintah  Daerah  baik  di  daerah  provinsi  maupun  kabupaten/kota,  yang &lt;br /&gt;merupakan  eksekutif  di  daerah,  sedangkan  DPRD  baik  di  daerah  provinsi &lt;br /&gt;maupun daerah kabupaten/kota merupakan lembaga legislatif daerah. &lt;br /&gt;  Dalam  rangka  penyelenggaraan  pemerintahan  daerah  diterapkan  prinsip &lt;br /&gt;demokrasi. Sesuai   dengan Pasal 18 ayat  (4) UUD 1945, kepala daerah dipilih &lt;br /&gt;secara  demokratis.  Dalam  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang &lt;br /&gt;Pemerintahan  Daerah,  diatur  mengenai  pemilihan  kepala  daerah  dan  wakil &lt;br /&gt;kepala  daerah  yang  dipilih  secara  langsung  oleh  rakyat  yang  diajukan  oleh &lt;br /&gt;partai politik atau gabungan partai politik.  &lt;br /&gt;Berdasarkan  perkembangan  hukum  dan  politik  untuk  mewujudkan &lt;br /&gt;penyelenggaraan  pemerintahan  daerah  yang  lebih  efektif  dan  akuntabel &lt;br /&gt;sesuai  dengan  aspirasi  masyarakat,  pemilihan  kepala  daerah  dan  wakil &lt;br /&gt;kepala  daerah  perlu  dilakukan  secara  lebih  terbuka  dengan  melibatkan &lt;br /&gt;partisipasi  masyarakat.  Oleh  karena  itu  penyelenggaraan  pemilihan  kepala &lt;br /&gt;daerah  dan  wakil  kepala  daerah  sebagaimana  diatur  dalam  Undang-Undang &lt;br /&gt;Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan  Daerah,  perlu  dilakukan &lt;br /&gt;perubahan  dengan  memberikan  kesempatan  bagi  calon  perseorangan  untuk &lt;br /&gt;ikut serta dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;II. PASAL . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 2 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;II.  PASAL DEMI PASAL &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal I &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Angka 1 &lt;br /&gt;    Pasal 26 &lt;br /&gt;          Ayat (1)  &lt;br /&gt;            Huruf a &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt;            Huruf b &lt;br /&gt;              Yang dimaksud dengan instansi vertikal di daerah dalam &lt;br /&gt;huruf  b  ini  adalah  perangkat  departemen  dan/atau &lt;br /&gt;lembaga  pemerintah  non  departemen  yang  mengurus &lt;br /&gt;urusan  pemerintahan  yang  tidak  diserahkan  kepada &lt;br /&gt;daerah  dalam  wilayah  tertentu  dalam  rangka &lt;br /&gt;dekonsentrasi.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf c &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf d &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf e &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf f &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf g &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2)  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (3) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (4) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (5) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat (6) . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 3 - &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Ayat (6) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (7) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 2 &lt;br /&gt;        Pasal 42 &lt;br /&gt;          Ayat (1)  &lt;br /&gt;            Huruf a        &lt;br /&gt;              Yang  dimaksud  dengan  “membentuk”  dalam  ketentuan &lt;br /&gt;ini  adalah  termasuk  pengajuan  Rancangan  Perda &lt;br /&gt;sebagaimana  diatur  dalam  Undang-Undang  Nomor  10 &lt;br /&gt;Tahun 2004. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;            Huruf b &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf c &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf d  &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;            Huruf e &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt;                           &lt;br /&gt;            Huruf f &lt;br /&gt;            Yang  dimaksud dengan  ”perjanjian  internasional” dalam &lt;br /&gt;ketentuan ini adalah perjanjian antar Pemerintah dengan &lt;br /&gt;pihak  luar  negeri  yang  terkait  dengan  kepentingan &lt;br /&gt;daerah. &lt;br /&gt;                             &lt;br /&gt;            Huruf g &lt;br /&gt;              Yang dimaksud dengan ”kerja sama internasional” dalam &lt;br /&gt;ketentuan  ini  adalah  kerja  sama  daerah  dengan  pihak &lt;br /&gt;luar  negeri  yang  meliputi  kerja  sama  Kabupaten/Kota &lt;br /&gt;”kembar”,  kerja  sama  teknik  termasuk  bantuan &lt;br /&gt;kemanusiaan,  kerja  sama  penerusan  pinjaman/hibah, &lt;br /&gt;kerja  sama  penyertaan  modal  dan  kerja  sama  lainnya &lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundangan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Huruf h . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 4 - &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf h &lt;br /&gt;              Yang  dimaksud  dengan  ”laporan  keterangan &lt;br /&gt;pertanggungjawaban”  dalam  ketentuan  ini  adalah &lt;br /&gt;laporan  yang  disampaikan  oleh  kepala  daerah  setiap &lt;br /&gt;tahun  dalam  sidang  Paripurna  DPRD  yang  berkaitan &lt;br /&gt;dengan  penyelenggaraan  tugas  otonomi  dan  tugas &lt;br /&gt;pembantuan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf i &lt;br /&gt;              Dihapus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf j &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;            Huruf k &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Ayat (2)  &lt;br /&gt;Yang  dimaksud  dengan  ”tugas  dan wewenang”  sebagaimana &lt;br /&gt;yang  diatur  pada  ayat  (2)  antara  lain  Undang-Undang        &lt;br /&gt;Nomor  17  Tahun  2003  tentang  Keuangan  Negara  dan &lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan &lt;br /&gt;Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 3 &lt;br /&gt;Pasal 56 &lt;br /&gt;         Cukup jelas. &lt;br /&gt;                               &lt;br /&gt;          Angka 4 &lt;br /&gt;        Pasal 58 &lt;br /&gt;            Huruf a  &lt;br /&gt;              Yang dimaksud dengan “bertakwa” dalam ketentuan ini dalam &lt;br /&gt;arti taat menjalankan kewajiban agamanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf b  &lt;br /&gt;            -  Yang dimaksud dengan “setia” dalam ketentuan ini adalah &lt;br /&gt;tidak  pernah  terlibat  gerakan  separatis,  tidak  pernah &lt;br /&gt;melakukan  gerakan  secara  inkonstitusional  atau  dengan &lt;br /&gt;kekerasan  untuk  mengubah  Dasar  Negara  serta  tidak &lt;br /&gt;pernah melanggar Undang-Undang Dasar Negara Republik &lt;br /&gt;Indonesia Tahun 1945. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Yang . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 5 - &lt;br /&gt;            -  Yang  dimaksud  dengan  “setia  kepada  pemerintah”  dalam &lt;br /&gt;ketentuan  ini adalah yang mengakui pemerintah yang sah &lt;br /&gt;menurut  Undang-Undang  Dasar  Negara  Republik &lt;br /&gt;Indonesia Tahun 1945. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;            Huruf c &lt;br /&gt;              Yang  dimaksud  dengan  “sekolah  lanjutan  tingkat  atas &lt;br /&gt;dan/atau  sederajat”  dalam  ketentuan  ini  dibuktikan  dengan &lt;br /&gt;surat tanda tamat belajar yang dikeluarkan oleh instansi yang &lt;br /&gt;berwenang.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf d  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf e &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf f &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf g  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;            Huruf h &lt;br /&gt;              Ketentuan  ini  tidak  dimaksudkan  harus  dengan  memiliki &lt;br /&gt;Kartu Tanda Penduduk daerah yang bersangkutan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf i  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf j &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf k &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf l &lt;br /&gt;              Dihapus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf m  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf n  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf o  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt;Huruf p . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 6 - &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Huruf p &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Huruf q &lt;br /&gt;  Pengunduran diri dari jabatannya  berlaku bagi: &lt;br /&gt;a.  kepala  daerah  yang  akan  mencalonkan  diri  atau &lt;br /&gt;dicalonkan menjadi kepala daerah di daerah sendiri atau &lt;br /&gt;di daerah lain; &lt;br /&gt;b.  wakil  kepala  daerah  yang  akan  mencalonkan  diri  atau &lt;br /&gt;dicalonkan menjadi kepala daerah di daerah sendiri atau &lt;br /&gt;di daerah lain; &lt;br /&gt;c.  wakil  kepala  daerah  yang  akan  mencalonkan  diri  atau &lt;br /&gt;dicalonkan  menjadi  wakil  kepala  daerah  di  daerah &lt;br /&gt;sendiri atau di daerah lain; &lt;br /&gt;d.  bupati  atau  walikota  yang  akan mencalonkan  diri  atau &lt;br /&gt;dicalonkan menjadi gubernur atau wakil gubernur; dan &lt;br /&gt;e.  wakil bupati atau wakil walikota yang akan mencalonkan &lt;br /&gt;diri  atau  dicalonkan  menjadi  gubernur  atau  wakil &lt;br /&gt;gubernur. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengunduran diri gubernur dan wakil gubernur dibuktikan &lt;br /&gt;dengan  menyerahkan  surat  pernyataan  pengunduran  diri &lt;br /&gt;yang  tidak  dapat  ditarik  kembali  disertai  dengan  surat &lt;br /&gt;persetujuan  Menteri  Dalam  Negeri  atas  nama  Presiden, &lt;br /&gt;sedangkan keputusan Presiden tentang pemberhentian yang &lt;br /&gt;bersangkutan  sebagai  kepala  daerah/wakil  kepala  daerah &lt;br /&gt;disampaikan  kepada  KPU  provinsi  selambat-lambatnya &lt;br /&gt;pada  saat  ditetapkan  sebagai  calon  gubernur  dan  wakil &lt;br /&gt;gubernur. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengunduran  diri  bupati/wakil  bupati  dan  walikota/wakil &lt;br /&gt;walikota dibuktikan dengan menyerahkan surat pernyataan &lt;br /&gt;pengunduran diri  yang  tidak dapat ditarik kembali disertai &lt;br /&gt;dengan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri, sedangkan &lt;br /&gt;keputusan  Menteri  Dalam  Negeri  tentang  pemberhentian &lt;br /&gt;yang  bersangkutan  sebagai  kepala  daerah/wakil  kepala &lt;br /&gt;daerah disampaikan kepada KPU kabupaten/kota selambat-&lt;br /&gt;lambatnya pada saat ditetapkan sebagai calon bupati/wakil &lt;br /&gt;bupati dan walikota/wakil walikota. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Angka 5 . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 7 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 5 &lt;br /&gt;                Pasal 59 &lt;br /&gt;          Ayat (1)  &lt;br /&gt;              Huruf a &lt;br /&gt;                Yang  dimaksud  dengan  “pasangan  calon”  adalah  calon &lt;br /&gt;kepala  daerah  dan  wakil  kepala  daerah  secara &lt;br /&gt;berpasangan sebagai satu kesatuan. &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Huruf b   &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan  “pasangan  calon” adalah  calon &lt;br /&gt;kepala  daerah  dan  wakil  kepala  daerah  secara &lt;br /&gt;berpasangan sebagai satu kesatuan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2) &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Ayat (2a) &lt;br /&gt;                Cukup jelas. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Ayat (2b) &lt;br /&gt;                Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2c) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2d) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2e) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Ayat (3) &lt;br /&gt;              Dihapus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Ayat (4)  &lt;br /&gt;              Cukup jelas. &lt;br /&gt;            Ayat (4a) &lt;br /&gt;  Cukup jelas. &lt;br /&gt;            Ayat (5) &lt;br /&gt;              Huruf a &lt;br /&gt;                Yang dimaksud dengan  “pimpinan partai politik” adalah &lt;br /&gt;ketua dan sekretaris partai politik atau sebutan pimpinan &lt;br /&gt;lainnya  sesuai  dengan  kewenangan  berdasarkan &lt;br /&gt;anggaran . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 8 - &lt;br /&gt;anggaran  dasar/anggaran  rumah  tangga  partai  politik &lt;br /&gt;yang  bersangkutan,  sesuai  dengan  tingkat  daerah &lt;br /&gt;pencalonannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf b &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf c &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf d &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf e &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf f &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;              Huruf g &lt;br /&gt;                Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf h &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf i &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf j &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Huruf k &lt;br /&gt;                Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (5a)  &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;          Ayat (5b) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Ayat (6)  &lt;br /&gt;               Cukup jelas. &lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;            Ayat (7) &lt;br /&gt;              Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Angka 6 . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 9 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 6 &lt;br /&gt;        Pasal 59A &lt;br /&gt;          Ayat (1) &lt;br /&gt;            Yang  dimaksud  dengan  “verifikasi”  adalah  penelitian &lt;br /&gt;keabsahan  surat  pernyataan  dukungan,  fotokopi  kartu &lt;br /&gt;tanda  penduduk  atau  surat  keterangan  tanda  penduduk, &lt;br /&gt;pembuktian  tidak  adanya  dukungan  ganda,  tidak  adanya &lt;br /&gt;pendukung  yang  telah  meninggal  dunia,  tidak  adanya &lt;br /&gt;pendukung  yang  sudah  tidak  lagi  menjadi  penduduk  di &lt;br /&gt;wilayah  yang  bersangkutan,  atau  tidak  adanya  pendukung &lt;br /&gt;yang tidak mempunyai hak pilih. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2) &lt;br /&gt;            Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (3) &lt;br /&gt;            Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (4) &lt;br /&gt;            Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (5) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (6) &lt;br /&gt;Hasil  verifikasi  mencantumkan  jumlah  dukungan  yang &lt;br /&gt;memenuhi persyaratan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (7) &lt;br /&gt;            Cukup jelas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (8) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (9) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (10) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (11) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Angka 7 . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 10 - &lt;br /&gt;    Angka 7 &lt;br /&gt;        Pasal 60 &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 8 &lt;br /&gt;        Pasal 62 &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 9 &lt;br /&gt;        Pasal 63 &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;    Angka 10 &lt;br /&gt;        Pasal 64 &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;    Angka 11 &lt;br /&gt;        Pasal 75 &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 12 &lt;br /&gt;        Pasal 107 &lt;br /&gt;          Ayat (1)  &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2)  &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (3) &lt;br /&gt;          - Yang dimaksud dengan peroleh suara yang lebih luas adalah &lt;br /&gt;pasangan  calon  yang  unggul  di  lebih  banyak  jumlah &lt;br /&gt;kabupaten/kota untuk calon Gubernur dan wakil Gubernur, &lt;br /&gt;pasangan  calon  yang  unggul  di  lebih  banyak  jumlah &lt;br /&gt;kecamatan untuk  calon Bupati  dan wakil Bupati, Walikota &lt;br /&gt;dan wakil Walikota.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          -  Apabila  diperoleh  persebaran  yang  sama  pada  tingkat &lt;br /&gt;kabupaten/kota  untuk  Gubernur  dan  wakil  Gubernur, &lt;br /&gt;pasangan calon  terpilih ditentukan berdasarkan persebaran &lt;br /&gt;tingkat  kecamatan,  kelurahan/desa,  dan  seterusnya.  Hal &lt;br /&gt;yang sama berlaku untuk penetapan pasangan calon Bupati &lt;br /&gt;dan wakil Bupati, Walikota dan wakil Walikota. &lt;br /&gt;Ayat (4) . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 11 - &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (4)  &lt;br /&gt;                  Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;           Ayat (5)  &lt;br /&gt;                  Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (6) &lt;br /&gt;                  Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Ayat (7) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Ayat (8)  &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 13     &lt;br /&gt;        Pasal 108 &lt;br /&gt;          Ayat (1) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (3) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (4) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (5) &lt;br /&gt;Calon  yang  diajukan  untuk  dipilih  oleh  DPRD  dalam &lt;br /&gt;ketentuan ini harus memenuhi persyaratan yang diatur dalam &lt;br /&gt;Undang-Undang ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (5a) &lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan “berhalangan tetap” adalah meninggal &lt;br /&gt;dunia,  sakit  permanen  yang  mengakibatkan  baik  fisik &lt;br /&gt;maupun  mental  tidak  berfungsi  secara  normal  yang &lt;br /&gt;dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang, &lt;br /&gt;dan/atau tidak diketahui keberadaannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (6) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Angka 14 . . .  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- 12 - &lt;br /&gt;    Angka 14 &lt;br /&gt;         Pasal 115 &lt;br /&gt;           Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 15 &lt;br /&gt;        Pasal 233 &lt;br /&gt;          Ayat (1) &lt;br /&gt;            Dihapus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (2) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Ayat (3) &lt;br /&gt;            Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 16 &lt;br /&gt;        Pasal 235 &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 17 &lt;br /&gt;        Pasal 236A &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Pasal 236B &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Pasal 236C &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Angka 18 &lt;br /&gt;        Pasal 239A &lt;br /&gt;          Cukup jelas. &lt;br /&gt;  Pasal II &lt;br /&gt;      Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4844&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-7127823116783003847?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/7127823116783003847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/uu-no-12-th-2008-ttg-otda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/7127823116783003847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/7127823116783003847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/uu-no-12-th-2008-ttg-otda.html' title='UU NO 12 TH 2008 TTG OTDA'/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-5125000033401245559</id><published>2009-09-09T20:09:00.001-07:00</published><updated>2009-09-09T20:11:59.746-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RUU RAHASIAH NEGARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANCANGAN  &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;NOMOR ... TAHUN ...  &lt;br /&gt;TENTANG  &lt;br /&gt;RAHASIA NEGARA REPUBLIK INDONESIA  &lt;br /&gt;Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, &lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia  &lt;br /&gt;Menimbang:  &lt;br /&gt;a. bahwa untuk terwujudnya sistem hukum nasional yang bersumber pada &lt;br /&gt;Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, maka dianggap perlu untuk &lt;br /&gt;mewujudkan secara hukum adanya kerahasiaan negara sebagai sarana &lt;br /&gt;untuk memantapkan terciptanya kehidupan bangsa dan negara Indonesia &lt;br /&gt;yang aman dan tentram dalam mencapai tujuannya;  &lt;br /&gt;b. bahwa belum adanya aturan yang mengatur kerahasiaan negara maka &lt;br /&gt;perlu diadakan aturan yang mengatur secara hukum tentang kerahasiaan &lt;br /&gt;negara; c. bahwa aturan hukum tentang kerahasiaan negara perlu &lt;br /&gt;diwujudkan dalam bentuk undang-undang;  &lt;br /&gt;Mengingat:  &lt;br /&gt;1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 (1), dan Pasal 30 Undang-undang Dasar 1945;  &lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana &lt;br /&gt;(Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara &lt;br /&gt;Nomor 3209);  &lt;br /&gt;Dengan Persetujuan  &lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt;Menetapkan:  &lt;br /&gt;Undang-undang Tentang Rahasia Negara Republik Indonesia.  &lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM &lt;br /&gt;Bagian Pertama Pengertian &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 1 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: &lt;br /&gt;a. Rahasia Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Rahasia &lt;br /&gt;Negara adalah bahan keterangan dan benda-benda yang berkaitan dengan &lt;br /&gt;keselamatan negara yang tidak dapat atau tidak boleh diketahui, dimiliki dan &lt;br /&gt;dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak berhak. &lt;br /&gt;b. Keselamatan Negara adalah tetap tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan &lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang &lt;br /&gt;Dasar 1945, terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa dan &lt;br /&gt;kesinambungan nasional serta keutuhan wilayah Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;c. Benda adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh &lt;br /&gt;seseorang yang berupa barang yang dapat berpindah atau dipindahkan yang &lt;br /&gt;disebut kebendaan bergerak dan berupa barang yang tidak dapat berpindah &lt;br /&gt;atau dipindahkan yaitu disebut kebendaan tak bergerak. &lt;br /&gt;d. Telekomunikasi adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi, baik &lt;br /&gt;penerimaan maupun pengiriman pesan atau berita antara dua pihak atau &lt;br /&gt;lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan ata berita dapat dipahami &lt;br /&gt;sebagai hubungan atau kontak; e. Mesin sandi adalah mesin yang dibuat sebagai sarana pengaman &lt;br /&gt;komunikasi Rahasia dengan perhitungan secara matematis dengan &lt;br /&gt;mempergunakan alogaritma.  &lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Fungsi dan Tujuan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 2 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara berfungsi melancarkan pelaksanaan tugas bagi setiap &lt;br /&gt;instansi dalam rangka keselamatan negara.  &lt;br /&gt;Pasal 3 &lt;br /&gt;Penetapan Rahasia Negara bertujuan sebagai upaya pencegahan terhadap &lt;br /&gt;kebocoran Rahasia Negara dalam rangka menjamin keselamatan negara.  &lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Kedudukan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 4 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara adalah milik dan tanggung jawab bangsa Indonesia.  &lt;br /&gt;Pasal 5 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara ditentukan dan diselenggarakan oleh Aparat Negara dan &lt;br /&gt;Pemerintahan Rebublik Indonesia yang bertugas di Lembaga-lembaga &lt;br /&gt;Negara, Lembaga Pemerintah baik Departemen, Angkatan Bersenjata &lt;br /&gt;Republik Indonesia, Badan Usaha Milik Negara dan Badan-badan lain yang &lt;br /&gt;tunjuk oleh Pemerintah Republik Indonesia.  &lt;br /&gt;Pasal 6 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara bertempat dan berkedudukan di wilayah hukum dan wilayah kekuasaan &lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;BENTUK DAN KLARIFIKASI RAHASIA NEGARA &lt;br /&gt;Bagian Pertama &lt;br /&gt;Bentuk Rahasia Negara &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 7 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahan keterangan yang merupakan Rahasia Negara terdapat dalam bentuk &lt;br /&gt;dan wujud yang berupa kebendaaan ataupun yang bukan kebendaan.  &lt;br /&gt; Pasal 8 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara mempunyai klarifikasi Sangat Rahasia dan Rahasia.  &lt;br /&gt;Pasal 9 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara yang berklarifikasi Sangat Rahasia adalah Rahasia Negara &lt;br /&gt;yang sangat Peka terhadap bahaya kebocoran yang dapat mengancam &lt;br /&gt;keselamatan Negara.  &lt;br /&gt;Pasal 10 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rahasia Negara yang berklarifikasi Rahasia adalah Rahasai Negara yang peka terhadap &lt;br /&gt;bahaya kebocoran yang mengganggu keselamatan negara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III &lt;br /&gt;LEWAT WAKTU, KEWENANGAN, DAN PENGAMANAN RAHASIA &lt;br /&gt;NEGARA &lt;br /&gt;Bagian Pertama &lt;br /&gt;Lewat Waktu Rahasia Negara  &lt;br /&gt;Pasal 11 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lewat waktu Rahasia Negara ditentukan atas kepentingan Negara: &lt;br /&gt;a. Bahan keterangan yang berbentuk dan berwujud benda sebagaimana &lt;br /&gt;yang tercantum dalam peraturan kearsipan, penetapan lewat waktunya &lt;br /&gt;sesuai dengan Undang-undang Kearsipan; &lt;br /&gt;b. Bahan keterangan yang berupa benda diluar yang tersebut butir a, masa &lt;br /&gt;berlakunya ditentukan oleh pejabat yang berwenang; &lt;br /&gt;c. Rahasia Negara yang belum habis lewat waktunya tetapi sudah diketahui &lt;br /&gt;oleh pihak yang berhak dapat dinyatakan bukan sebagai Rahasia Negara &lt;br /&gt;oleh Pejabat yang berwenang.  &lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Kewenangan Menetapakan Rahasia Negara &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 12 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Kewenangan untuk menentukan bahan keterangan menjadi Rahasia &lt;br /&gt;Negara berada pada Pimpinan Lembaga-lembaga Negara. Pimpinan &lt;br /&gt;Lembaga Pemerintah baik Departemen maupun Non Departemen, Pimpinan &lt;br /&gt;Badan Usaha Milik Negara dan Pimpinan Badan-badan lain yang ditunjuk &lt;br /&gt;oleh Pemerintah Republik Indonesia, rincian kewenangannya diatur dalam &lt;br /&gt;Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Rahasia Negara. &lt;br /&gt;(2) Semua pimpinan lembaga negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) &lt;br /&gt;dapat mendelegasikan kewenangan kepada eselon dibawahnya sesuai &lt;br /&gt;dengan ketentuan yang disebut lebih lanjut oleh Peraturan Pemerintah.  &lt;br /&gt; Pasal 13 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kriteria penetapan Rahasia Negara adalah bahan keterangan dan benda-&lt;br /&gt;benda tertentu yang apabila diketahui oleh pihak yang tidak berhak akan &lt;br /&gt;menimbulkan ancaman atau gangguan terhadap : &lt;br /&gt;a. tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan &lt;br /&gt;Pancasila dan Undang-undang dasar 1945 &lt;br /&gt;b. terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa; &lt;br /&gt;c. kesinambungan pembangunan nasional; dan &lt;br /&gt;d. keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  &lt;br /&gt;Pasal 14 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Tata cara penetapan Rahasia Negara dilakukan secara tertulis. &lt;br /&gt;(2) Tata cara penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih &lt;br /&gt;lanjut dengan Peraturan Pemerintah.  &lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Pengamanan Rahasia Negara &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 15 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Semua warga negara Indonesia wajib menjaga Rahasia Negara. &lt;br /&gt;(2) Pengamanan Rahasia Negara dilaksanakan oleh aparat negara yang &lt;br /&gt;berkepentingan langsung dengan Rahasia Negara.  &lt;br /&gt;Pasal 16 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Pengamanan Rahasia Negara dilaksanakan dengan mempergunakan &lt;br /&gt;sistem pengamanan dengan sarana fisik, elektronik dan sandi serta &lt;br /&gt;TEMPAST &lt;br /&gt;(2) Tata cara pengamanan Rahasia Negara dilakukan pada saat pengiriman, &lt;br /&gt;penerimaan, pemeliharaan dan pemusnahan. &lt;br /&gt;(3) Tata cara pengamanan sebagimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih &lt;br /&gt;lanjut dengan Peraturan Pemerintah.  &lt;br /&gt;Pasal 17 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Semua Rahasia Negara yang dikomunikasikan sarana pengamanannya dilakukan dengan &lt;br /&gt;menggunakan sandi. &lt;br /&gt;(2) Sarana pengamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan &lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; BAB IV &lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA DAN ACARA PIDANA &lt;br /&gt;Bagian Pertama &lt;br /&gt;Ketentuan Pidana &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 18 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Barang siapa kerena kewajibannya tidak melaksanakan pengamanan &lt;br /&gt;Rahasia Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, diancam dengan &lt;br /&gt;hukuman pidana penjara paling lama sembilan tahun. &lt;br /&gt;(2) Hukuman pidana penjara dapat ditambah sepertiga barang siapa karena &lt;br /&gt;kewajibannya melaksanakan pengamanan Rahasia Negara dengan sengaja &lt;br /&gt;mengumumkan atau memberitahukan atau menyerahkan kepada pihak yang &lt;br /&gt;tidak berhak  &lt;br /&gt;Pasal 19 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau &lt;br /&gt;keterangan-keterangan Rahasia Negara yang diketahui bahwa harus &lt;br /&gt;dirahasiakan untuk kepentingan negara, atau dengan sengaja &lt;br /&gt;memberitahukan atau memberikannya kepada negara asing, diancam &lt;br /&gt;dengan hukuman pidana penjara paling lama sembilan tahun.  &lt;br /&gt;Pasal 20 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja, untuk seluruhnya atau sebagian &lt;br /&gt;mengumumkan, atau memberitahukan maupun menyerahkan kepada pihak &lt;br /&gt;yang tidak berhak mengetahui Rahasia Negara berupa surat-surat, peta-&lt;br /&gt;peta, rencana-rencana, gambar-gambar atau benda-benda dan yang &lt;br /&gt;bersangkutan dengan Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia, &lt;br /&gt;yang ada padanya atau yang isinya, bentuknya atau susunannya benda-&lt;br /&gt;benda itu diketahui olehnya, diancam dengan hukuman pidana penjara &lt;br /&gt;paling lama enam tahun.  &lt;br /&gt;Pasal 21 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barang siapa melakukan tindak pidana kegiatan mata-mata yaitu kegiatan &lt;br /&gt;melawan hukum untuk memiliki, menguasai, meneruskannya atau &lt;br /&gt;memberikannya langsung maupun tidak langsung kepada negara atau &lt;br /&gt;organisasi asing ataupun kepada organisasi yang melawan pemerintah &lt;br /&gt;sesuatu Rahasia Negara dalam bidang keamanan, pertahanan, politik, &lt;br /&gt;ekonomi, dan diplomasi diancam dengan hukuman pidana mati atau pidana &lt;br /&gt;penjara paling lama dua puluh tahun  &lt;br /&gt;Pasal 22 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum mengubah jaringan &lt;br /&gt;telekomunikasi dan atau memanipulasi penyelenggaraan jaringan &lt;br /&gt;telekomunikasi yang merupakan Rahasia Negara diancam dengan hukuman &lt;br /&gt;pidana penjara lama sepuluh tahun.  Bagian Kedua &lt;br /&gt;Ketentuan Acara Pidana &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 23 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Tindakan penegakan hukuman dilaksanakan menurut cara yang diatur dalam Undang-&lt;br /&gt;undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana &lt;br /&gt;(2) Sidang pengadilan pidana untuk memeriksa dan mengadili perkara kejahatan tentang &lt;br /&gt;Rahasia Negara dilaksanakan dengan cara tertutup. &lt;br /&gt;(3) Dalam hal kejahatan Rahasia Negara yang sistem pengamanannya menggunakan sandi, &lt;br /&gt;penyidikannya dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil fungsional sandi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB V &lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 24 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai atau yang &lt;br /&gt;berhubungan dengan Rahasia Negara yang sudah ada pada saat mulai &lt;br /&gt;berlakunya Undang-undang ini tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan &lt;br /&gt;dengan atau belum diganti dengan Undang-undang ini.  &lt;br /&gt;Pasal 25 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan &lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-&lt;br /&gt;undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik &lt;br /&gt;Indonesia.  &lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta &lt;br /&gt;Pada tanggal &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA  &lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta &lt;br /&gt;Pada tanggal  &lt;br /&gt;MENTERI NEGARA SEKERTARIS NEGARA &lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA  &lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7415937753512187291-5125000033401245559?l=www.jalurberita.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jalurberita.co.cc/feeds/5125000033401245559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/ruu-rahasiah-negara-rancangan-undang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5125000033401245559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7415937753512187291/posts/default/5125000033401245559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jalurberita.co.cc/2009/09/ruu-rahasiah-negara-rancangan-undang.html' title=''/><author><name>Jalurberita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iyQcdsLhHDw/SX5sR_Cx4pI/AAAAAAAAADw/lMWi90dxs_Q/S220/ptoto+pemred+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7415937753512187291.post-4205938587998554443</id><published>2009-09-06T19:20:00.000-07:00</published><updated>2009-09-06T19:21:43.788-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERKAP NO 7 TAHUN 2008 TENTANG COMMUNITY POLICING&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA  &lt;br /&gt;NOMOR 7 TAHUN 2008  TENTANG  PEDOMAN DASAR STRATEGI DAN IMPLEMENTASI  PEMOLISIAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN TUGAS POLRI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menimbang :  &lt;br /&gt;a. Pemolisian Masyarakat (Polmas) merupakan Grand Strategi Polri dalam rangka melaksanakan tugas pokok Polri sebagai pemelihara kamtibmas, penegak hukum, pelindung, pengayom serta pelayan masyarakat; &lt;br /&gt;b. bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Polmas pada hakekatnya telah diimplementasikan Polri berdasarkan konsep Sistem Keamanan Swakarsa dan pembinaan &lt;br /&gt;bentuk-bentuk pengamanan swakarsa melalui program-program fungsi Bimmas yang sesuai dengan kondisi di Indonesia baik di masa lalu maupun di Era Reformasi &lt;br /&gt;(demokrasi dan perlindungan HAM); &lt;br /&gt;c. bahwa untuk memberikan pemahaman bagi seluruh jajaran Polri agar Polmas dapat terlaksana dengan efektif maka perlu adanya pedoman dasar strategi dan implementasi Polmas yang komprehensif untuk dijadikan pedoman yang jelas bagi para pelaksana Polmas; &lt;br /&gt;d. berdasarkan butir a, b dan c di atas, perlu dirumuskan pedoman dasar strategi dan implementasi Polmas yang mencakup berbagai model Polmas yang dapat diterapkan di seluruh wilayah Indonesia sesuai dengan karakteristik dan kondisi masyarakat setempat; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengingat :  &lt;br /&gt;1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); &lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita  Convention of The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (Lembaran Negara Republik &lt;br /&gt;Indonesia Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3277); &lt;br /&gt;3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886); 4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168);  &lt;br /&gt;5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235); &lt;br /&gt;6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419); &lt;br /&gt;7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); &lt;br /&gt;8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); &lt;br /&gt;9. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on &lt;br /&gt;Economic, Social and Cultural Rights  Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4557); &lt;br /&gt;10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights  Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4558); &lt;br /&gt;11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;12. Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/1673/X/1994 tanggal 13 Oktober 1994 tentang Pokok-pokok Kemitraan Antara Polri dengan Instansi dan Masyarakat; &lt;br /&gt;13. Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/54/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuan-satuan Organisasi pada Tingkat Kewilayahan; &lt;br /&gt;14. Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/37/IX/2004 tanggal 9 September 2004 tentang Rencana Strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia (Renstra Polri) TA. 2005-2009; &lt;br /&gt;15. Grand Strategi Polri 2005-2025; &lt;br /&gt;16. Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/1044/IX/2004 tanggal 6 September 2004 tentang Program Pembangunan Polri TA. 2005-2009; &lt;br /&gt;17. Surat Keputusan Kapolri No.Pol.: Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri; &lt;br /&gt;18. Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/431/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Pedoman Pembinaan Personel Pengemban Fungsi Polmas; &lt;br /&gt;19. Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/432/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Panduan Pelaksanaan Fungsi Operasional Polri dengan Pendekatan Polmas; &lt;br /&gt;20. Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/433/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Pembentukan dan Operasionalisasi Polmas; &lt;br /&gt;21. Perkap No. Pol. : 9 Tahun 2007 tentang Rencana Strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia 2005-2009 (Perubahan); 22. Kebijakan dan Strategi Kapolri tanggal 8 Desember 2007 tentang Percepatan dan Pemantapan Implementasi Polmas; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menetapkan : PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEDOMAN DASAR STRATEGI DAN IMPLEMENTASI PEMOLISIAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN TUGAS POLRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM &lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Kapolri ini yang dimaksud dengan: &lt;br /&gt;1. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri adalah alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perl
